Tak Marah Videonya Diedit Jadi Sinterklas

Maruf Amin: Kyai Nggak Boleh Sakit Hati

Klik untuk perbesar
KH Maruf Amin (kanan) menerima kunjungan Presiden Jokowi di kediamannya, Jl. Situbondo No.12, Jakarta Pusat, Jumat (28/12) siang. Keduanya adalah Pasangan Calon No.01 di Pilpres 2019. (Foto: IG Pramono Anung)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Cawapres nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin mengaku tidak sakit hati terhadap orang yang mengedit video dirinya menggunakan kostum sinterklas. Menurutnya, itu adalah risiko sebagai seorang Kyai. “Nggaklah, masak kita sakit hati. Kyai itu nggak boleh sakit hati. Kalau sudah jadi kyai, ya siap untuk dibegitukan,” ujar Ma’ruf di kediamannya, Jl. Situbondo No.12 Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/12).

Ma’ruf menyerahkan proses hukum terkait persoalan itu kepada pihak kepolisian. Penyebar video tersebut sudah ditangkap polisi pada Rabu (26/12)  sekitar pukul 14.00 WIB. Adalah S, seorang guru ngaji yang ditangkap Mapolres Lhokseumawe. Sedangkan pembuat video, sedang diburu oleh Polda Aceh. “Nanti serahkan pihak kepolisian saja. Kan kita belum tahu siapa yang membuat,” tutur Ma’ruf.

Ia mengaku belum memutuskan akan mengambil sikap apa terhadap kasus ini. Dia mengaku belum diberitahu pihak kepolisian. “Kalau polisi sudah nanya, baru saya ambil sikapnya," tutur mantan Rais Aam PBNU itu.

Untuk diketahui, peristiwa ini bermula saat Ma'ruf Amin mengucapkan Natal kepada umat Kristiani beberapa waktu lalu. Kemudian, ada yang menggugah video tersebut dengan mengubah pakaian dikenakan Ma'ruf Amin menjadi kostum sinterklas. Padahal, faktanya, saat itu Ma'ruf Amin menggunakan jas dan kopiah.

Dalam kesempatan itu, Ma’ruf juga menegaskan, tidak ada larangan mengucapkan selamat Natal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karena itu, dia mengucapkan selamat untuk umat Kristiani. Selain itu, Ma'ruf menyebut beberapa ulama besar membolehkan mengucapkan selamat Natal. Di antaranya, Sheikh Ali Jumuah (Ali Gomaa). Beliau adalah mantan Grand Mufti Mesir (2003-2013), Profesor Hukum Islam di Universitas al-Azhar, Mesir, serta anggota Dewan Fatwa Mesir dan International Islamic Fiqh Academy.

Kemudian, ada Shaikh Yusuf Qardawi, seorang ulama kharismatik berpengaruh dan penulis produktif yang kini menetap di Qatar, dan beberapa ulama besar lainnya. “Ulama-ulama besar itu semua memperbolehkan, jadi nggak ada masalah mengucapkan Selamat Natal. Boleh mengucapkan, boleh tidak mengucapkan,” tegasnya. (OKT)

RM Video