Soal Hoaks 7 Kontainer Kotak Suara

Apakah Polisi Mau Tangkap Andi Arief?

Klik untuk perbesar
Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hoaks surat suara yang sudah dicoblos sebanyak 7 kontainer benar-benar menghebohkan mayarakat, dan bikin repot banyak pihak. KPU, Bawaslu, dan tim sukses wara-wiri mengklarifikasi kabar tersebut. Ujungnya, Wasekjen Demokrat Andi Arief dipolisikan karena dianggap ikut menyebar kabar bohong tersebut. Apakah polisi akan menangkap Andi Arief?

Hoaks ini bermula dari sebuah pesan suara yang beredar di grup Whatsapp sejak Rabu (2/1) siang. Durasi pesan suara itu pendek, tak sampai 1 menit. Dari pesan itu, terdengar suara seorang pria. Nadanya tegas dan meyakinkan. Dia menyebut, ada 7 kontainer yang berisi surat suara yang sudah dicoblos nomor satu di Tanjung Priok, Jakarta. Kemungkinan, kontainer itu berasal dari China. Selanjutnya, dia meminta kabar tersebut disampaikan ke orang Gerindra Pusat atau ke Djoko Santoso, agar segera mengecek ke lokasi.

Djoko Santoso adalah Ketua Tim Kampanye Prabowo-Sandi. Dari grup WhatsApp, kabar itu merayap ke media sosial. Rabu (2/1) malam, Facebook dan Twitter diramaikan dengan kabar tersebut. Netizen terbelah menyikapinya. Sebagian tak percaya. Karena tak jelas asal-usulnya. Namun, tak sedikit yang percaya. Sebagian lagi penasaran.

Wasekjen Demokrat Andi Arief ikut mencuit. Meminta untuk segera dicek. "Supaya tidak fitnah, harap dicek kebenarannya. Karena ini kabar sudah beredar," cuit Andi, di akun @andiarief_, Rabu (2/1)malam. Jelang tengah malam, KPU dan Bawaslu bergerak ke Tanjung Priok memastikan kabar tersebut. KPU dan Bawaslu bekerja sama dengan Bea Cukai mengecek kontainer di Tanjung Priok. Setelah dicek sana-sini, kabar tersebut dipastikan bohong. Merasa dirugikan dan dikerjai, KPU dan Bawaslu melaporkan kasus ini ke polisi.

Berita Terkait : Prabowo Tipiskan Jarak, Tapi Masih Tertinggal 15,7 Juta

Kamis (4/12) sore, Ketua KPU Arief Budiman didampingi anggota KPU Viryan Aziz dan Ilham Saputra, mendatangi Bareskrim Polri melaporkan kasus ini. Ikut menemani, anggota Bawaslu Fritz Edward. Dalam kesempatan itu, Arief Cs membawa sejumlah bukti seperti rekaman suara dan lain-lain. Menurut dia, hoaks ini sudah kebangetan. Dia meminta Bareskrim segera menindaklanjuti kasus tersebut. "Ditangkap saja siapa yang menyebarkan isu tidak benar ini," kata Arief, usai membuat laporan di Bareskrim.

Sebelum KPU dan Bawaslu ke Bareskrim, Mendagri Tjahjo Kumolo juga mendatangi Bareskrim dan menemui Kabareskrim Irjen Arief Sulistyanto. Dalam pertemuan tersebut, Tjahjo menyampaikan agar Bareskrim mengusut kasus ini karena sudah menyerang Presiden Jokowi.

Menurut Tjahjo, kabar itu jelas bohong. Sebab, gambar surat suara belum ada. Surat suara pun belum dicetak. Penyelundupan surat suara sebanyak 7 kontainer, juga pasti ketahuan. "Saya kira itu merusak citra KPU, pemerintah, masyarakat dan bangsa ini," kata Tjahjo di Kantor PDIP, Kamis (4/1).


Presiden Jokowi memastikan isu seperti itu adalah hoaks. "Ya itulah, ini kan hoaks. Surat suara kan belum dicetak, sudah muncul fitnah-fitnah seperti itu. Hindarilah hal-hal fitnah seperti itu, nanti bisa menimbulkan masalah hukum," kata Jokowi usai membagikan sertipikat tanah kepada warga di Pendopo Sasana Adipraja, Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis (4/1).

Berita Terkait : Instruksi Presiden Joko Widodo Manjur

Jokowi meminta semua pihak menjaga ketenangan menjelang Pilpres 2019. Semua pihak harus jujur dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan politik. "Isu-isu seperti itu dapat memicu pikiran jelek di masyarakat. Hindarilah menyampaikan kabar fitnah. Apalagi, ini kurang tiga bulan sudah pelaksanaan Pilpres," ujarnya.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto langsung menyerang Andi Arief. Menurut dia, cuitan Andi terasa mengadu domba dan menciptakan kegaduhan. "Jika Andi berniat menyampaikan informasi, seharusnya dilaporkan ke internal KPU. Kami sangat menyesalkan, karena ini di awal Tahun Baru sudah muncul hal yang provokatif, menciptakan kegaduhan," kata Hasto di tempat yang sama.

Ternyata bukan hanya KPU dan Bawaslu yang melapor. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf juga melapor ke Bareskrim. Laporan mereka lebih spesifik. Dia melaporkan Andi Arief karena diduga menyebar berita bohong. TKN menilai cuitan Andi seperti menuduh pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Direktur TKN Bidang Advokasi dan Hukum, Ade Irfan Pulungan menyebut, kabar bohong itu dapat menimbulkan kegaduhan. Andi Arief, kata Ade, diduga mendapatkan sumber suara adanya isu tersebut melalui grup WA. Oleh karena itu, dia meminta Bareskrim juga menyelidiki grup WA Andi Arief.

Berita Terkait : NOEGROHO DJAJOESMAN ; Saya Dukung Polri Bebas Dari Intervensi Manapun

Ade berharap, sumber suara yang diduga berada di dalam rekaman dapat segera terungkap, sehingga kasus ini dapat selesai. Dia percaya, Bareskrim bisa menyelesaikan kasus ini dengan cepat. Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto memastikan akan mengusut kasus ini. Dia bilang, pihaknya akan menyelidiki pihak yang pertama kali menyiarkan informasi palsu itu. "Siapa yang pertama melakukan, siapa yang posting, sampai siapa saja yang ikut menyebarkan berita yang ternyata tidak benar," kata Arief di kantornya, Kamis (4/1).

Sementara ini, timnya mengidentifikasi rekaman suara yang bikin heboh itu. "Semua yang ingin melakukan kekacauan dan gangguan terhadap pemilu pasti akan kita selesaikan," kata Arief. Dia menyiapkan pasal berlapis terhadap pelaku penyebar hoaks. "Banyak yang bisa kami terapkan. Kami terapkan pasal yang lebih tepat, sehingga tidak bisa mengelak," tegasnya. Dia mengimbau masyarakat bekerja sama mengurangi hoaks. Apalagi pemilu akan segera dilaksanakan.

Bagaimana sikap Andi Arief soal ini? Andi telah menghapus cuitannya. Dia lantas membuat cuitan lain, yang intinya mengapresiasi kinerja KPU dan Bawaslu yang telah melakukan pengecekan informasi hoaks yang sempat dia sampaikan ke publik. "Baguslah kalau KPU dan Bawaslu sudah mengecek ke lokasi. Soal beredarnya isu, harus cepat menanggulanginya. Gak bisa dibiarkan dengan pasif, harus cepat diatasi," cuitnya.


Kepada wartawan, Andi membantah telah menyebar hoaks. Dia justru mengklaim telah menyelamatkan pemilu. Andi menyebut tuduhan Hasto ngawur. Dalam cuitannya, dia jelas mengimbau pihak terkait untuk mengecek kabar tersebut. Bahkan, lanjut dia, Ketua KPU sendiri mengakui mendapat kabar dari sore. Andi tak mempermasalahkan dirinya sudah dilaporkan. Dia menegaskan, niatnya hanya ingin pemilu berlangsung jujur dan adil. [BCG]