Jelang Dilantik jadi Wapres, Kiai Maruf Super Sibuk

Klik untuk perbesar
Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim mencium tangan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024 Kiai Maruf Amin, di sela mencanangkan Gerakan Nasional Kedaulatan Pangan (GNKP) di Jakarta, kemarin. (Foto: Antara)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jelang dilantik 20 Oktober mendatang, Wakil Presiden (Wapres) terpilih Kiai Ma'ruf Amin semakin on. Jadwalnya padat merayap. Dua hari ini, eks Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, super sibuk hadiri beberapa acara.

Kemarin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menghadiri acara pencanangan Gerakan Nasional Kedaulatan Pangan (GNKP) di Grand Sahid, Jakarta Pusat. Mengenakan peci hitam dan bawahan sarung dengan atasan jas abu-abu, Ma'ruf datang bersama rombongan. Dia didapuk menjadi keynote speaker dalam pencanangan gerakan yang digagas Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI ini.

Seperti biasa, Ma'ruf bicara dengan tempo dan suara tak terlalu keras. Namun begitu, terpancar semangat saat dia mengetahui hingga kini Indonesia sebagai negara agraris, masih impor sejumlah komoditas pangan. Dia yakin, Indonesia dapat menjadi lumbung pangan dunia.

Berita Terkait : Kawal Pelantikan Jokowi, GAMKI: Persoalan Kompleks Negara Harus Segera Dituntaskan

Untuk mewujudkan itu, MUI memiliki lima jurus yang bisa diadopsi oleh Pemerintah. Kelimanya yakni, mewujudkan lahan pertanian yang berkelanjutan, menjadikan sumber daya petani yang produktif, membuat daftar produk pertanian yang unggul, menyediakan infrastruktur pertanian yang baik, dan membuat tata niaga yang berkeadilan.

"Karenanya, MUI mendukung tekad pemerintah menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045,” ujarnya.

Menurut dia, MUI berharap Indonesia menjadi negara yang memiliki kedaulatan pangan dalam lima tahun ke depan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk besar dengan sumber pangan beragam, Indonesia bisa penuhi kebutuhan dengan kedaulatan dan mandiri.

Berita Terkait : Prabowo Pastikan Hadiri Pelantikan Jokowi-Maruf

Saat akan meninggalkan ruangan acara, Ma'ruf dicegat wartawan. Ia pun tak segan meladeninya. Kondisinya nampak fit dan menjawab satu persatu pertanyaan wartawan. Dari mulai soal RUU Pesantren hingga persoalan kebakaran hutan dan lahan alias karhutla.

Sehari sebelumnya, Ma'ruf juga menyambangi Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Ia bersama Anggota DPR terpilih Dedi Mulyadi sempat salat Jumat di Tajug Gede Cilodong sebelum menghadiri Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 2019 di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muhajirin 2, Purwakarta.

Ma'ruf membuka rapat pleno yang dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, serta kiai-kiai NU. Ma'ruf tampak semangat memukul bedug sebagai penanda rapat pleno dibuka secara resmi.

Berita Terkait : MPR Usul Pelantikan Presiden Jam 2 Siang

Dalam pesannya, Ma'ruf mengimbau NU selalu menjaga agama dan negara agar tetap berada dalam kerangka pemahaman Islam yang moderat di tengah tren radikalisme yang terus meningkat. "Para pendiri bangsa menyepakati empat pilar yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Sebab di sisi lain, terdapat kelompok yang menghendaki sistem lain, seperti khilafah. Ada gejala untuk mencoba keluar dari wilayah ini, mencari alternatif-alternatif lain, sehingga menjadi kegaduhan. Bagi kita NKRI itu sudah harga mati," tandas Ma'ruf.

Di sela-sela acara ini, Ma'ruf juga sempat berbincang dengan awak media. Ia angkat bicara soal polemik revisi UU KPK. Ia mendukung revisi UU KPK yang dinilainya menguatkan lembaga anti rasuah tersebut. Jika ada penolakan, Ma'ruf menyarankan semua pihak menyampaikan pendapatnya secara baik dan sesuai aturan. Misalnya dengan menempuh gugatan ke MK. [FAQ]

RM Video