Kemarin Setor Pertanyaan Debat Ke Capres

KPU Istiqomah Di Jalan Yang Salah

Klik untuk perbesar
Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - KPU dinilai istiqomah di jalan salah. Meski menuai banyak kritik, KPU bersikukuh memberikan kisi-kisi debat kepada dua pasangan capres cawapres. Kamis (10/1), komisi itu menyetorkan pertanyaan debat kepada timses Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi.

Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi mengungkapkan, penyerahan kisi-kisi soal dilakukan usai rapat finalisasi dengan para moderator, Kamis (10/1). "Itu formulasi final dari daftar pertanyaan yang disusun Sabtu pekan lalu. Pertanyaannya sudah dirapikan. Seharusnya, sudah kami sampaikan kepada tim sukses masing-masing hari ini," ungkapnya di Hotel Bidakara, Kamis (10/1). "Saya rasa tidak ada alasan untuk menunda-nunda lebih daripada hari ini," imbuhnya.

Pramono juga membeberkan, dalam debat perdana yang akan digelar 17 Januari mendatang, ada 20 pertanyaan bertema hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. Soalnya tidak berbentuk pilihan ganda, ataupun pertanyaan yang menuntut jawaban berupa hafalan.

"Ini sama sekali bukan lomba pidato. Tapi kami memang ingin menggali visi misi para pemimpin Capres dan Cawapres ke depan," tegasnya. Selain itu, KPU juga hendak menggali strategi dan pandangan masing-masing paslon. Para Capres dan Cawapres diperbolehkan menggunakan contoh kasus tertentu, untuk menjawab pertanyaan. "Tapi dari daftar pertanyaan kami, kami kira terlalu mikro," seloroh Pramono.

Debat ini akan diisi enam segmen. Segmen pertama, penyampaian visi misi kandidat. Segmen kedua dan ketiga, menjawab pertanyaan dari para pakar. Segmen keempat dan kelima, debat antar kandidat dengan pertanyaan yang diajukan masing-masing paslon. Di segmen keenam, ada closing statement dari masing-masing paslon.

Salah satu moderator, Ira Koesno menyebut, meski pertanyaan sudah dibocorkan duluan kepada dua paslon, dia menjamin debat tetap akan berlangsung seru. "Bagaimana caranya, walaupun pertanyaan sudah diberikan, tetapi ini juga mudah dipahami oleh publik dan memang bunyi. Tetap nendang, gitu bahasanya," ujarnya.

Soalnya, kata Ira, pertanyaan yang dibocorkan sifatnya berbalas. Jadi ada pertanyaan, kemudian ditanggapi. Artinya, pertanyaan itu hanya pemantik. "Jauh sekali anggapan bahwa mereka sudah tahu, terus jadi debatnya nggak asyik. Sama sekali nggak," ucapnya.

Salah satu panelis, Bivitri Susanti mengatakan, para panelis tidak akan mengajukan pertanyaan spesifik terkait kasus hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. "Kami tidak bikin pertanyaan soal kasus. Yang tidak ditanya itu maksudnya kasus-kasus individual," ujarnya di tempat yang sama.

Mantan Komisioner KPUD DKI Jakarta Dahlia Umar menilai, KPU cenderung mengabaikan kepentingan publik, dengan membocorkan pertanyaan debat pada paslon. Padahal, esensi debat adalah originalitas gagasan, visi, dan misi para calon. "Kerahasiaan itu menjaga integritas debat. Itu sebenarnya tujuan debat. Kalau calon tidak bisa menjawab, ya itu lah apa adanya. Bagaimana dia merespon dan menjawab pertanyaan, kemampuan kompetensi, pengelolaan emosi saat dia mendapat kritik," ujar Dahlia dalam diskusi bertajuk "Kisi-Kisi Debat Perdana" di kantor Populi Center, Jakarta Barat, Kamis (10/1).

Jika KPU bersikap tegas menentukan alur metode debat, lanjut Dahlia, tidak ada kesempatan polemik tersebut dijadikan sebagai komoditi politik. Dia mencontohkan, gagalnya penyampaian visi misi yang sejatinya diselenggarakan Rabu (9/1) akibat 'campur tangan' timses kedua paslon.

Di dunia maya, kebanyakan netizen juga masih memprotes keputusan KPU. "Mantap, KPU sudah kirim pertanyaan ke tim capres-cawapres meski dikritik sana-sini. KPU istiqomah ya. Sayang, istiqomahnya di jalan yang salah," sindir @AlsNugrahaa. Akun @AripHendra juga mencuit, "Hafalin yang baik ya. Jangan aja pas debat nanti, ada peserta yang bilang: Maaf Panelis, koq pertanyaan ini tidak ada di kisi-kisi?".

Akun @Azzam38875628 menyebut KPU menghina dua paslon Capres Cawapres, sekaligus menghina demokrasi dengan memberikan kisi-kisi debat. "KPU menghina sekali. Dia pikir calon presiden RI dungu jadi debat aja harus kasih kisi-kisi. Ini penghinaan buat Demokrasi," kritiknya. "Bagaimana mungkin pemilih berdaulat, jika isi kepala Capres sudah tak orisinil karna kau kasih kisi-kisi. Debat visi misi masa boleh pakai joki. Jika ada Capres yang layak dipermalukan tak apa. Agar negara kuat," timpal @MasAaUsep.

Akun @abdul_kadir271 menyebut KPU sudah mendeligitimasi lembaganya sendiri. "Yang mendelegitimasi KPU siapa? Bukannya KPU sendiri yang menimbulkan opini tersebut? Contohnya saja memberikan kisi-kisi soal debat dengan alasan agar tidak ada calon yang dipermalukan. Kok KPU jadi penengah? KPU itu pelaksana. Apa pun risikonya ya harus diterima," tulisnya. [OKT]

RM Video