Waduh, Yusril Nyerang Terus

Klik untuk perbesar
Yusril Ihza Mahendra (Foto: Twitter @YusrilIhza_Mhd

RMco.id  Rakyat Merdeka - Manuver Yusril menjadi pengacara pasangan Jokowi-Ma’ruf mengejutkan banyak pihak. Maklum, Yusril dikenal sebagai pengacara yang vokal dan kerap berhadapan dengan pemerintah. Maklum, Yusril dikenal sebagai pengacara yang vokal dan kerap berhadapan dengan pemerintah. Rupanya ada banyak alasan sehingga Ketum PBB itu memutuskan tak merapat ke Prabowo-Sandi. 

Pertama, Yusril menilai, Prabowo-Sandi tak memiliki format koalisi yang jelas dan menguntungkan partai-partai pendukung di pemilihan legislatif. Dia mengaku pernah diajak Sandi menjadi bagian tim pemenangan. Namun, dari komunikasi itu, tidak ada format yang jelas untuk mendongkrak elektabilitas caleg dari partai koalisi. Bisa-bisa, caleg dari partai lain tergilas. Tak dapat kursi. Padahal parliament threshold alias ambang batas parlemen saat ini cukup besar, 4 persen.

Yusril pun menyampaikan kepada Sandi agar memikirkan persoalan ini dengan Prabowo. Dan menurut Yusril, Sandi pun berjanji akan membicarakan hal ini dengan Prabowo. Yusril menilai,  dalam sistem Pemilu serentak 2019, partai koalisi harus punya formula khusus agar tak saling berebut suara di Pemilihan Legislatif (Pileg). “Sehingga semua partai happy memperjuangkan Prabowo-Sandi,” kata Yusril. Format yang adil dan proporsional, lanjutnya, penting agar partai-partai pendukung juga memperoleh keuntungan dari koalisi. Apalagi capres dan cawapres sama-sama dari Gerindra.

Berita Terkait : Diam-diam Ajukan Kasasi ke MA, Prabowo Diledek Yusril

Menurut dia, format koalisi dan kerja sama di Pileg ini juga tercantum dalam draf naskah Aliansi Partai Politik Keummatan. Namun, tak ada tindak lanjutnya. Obrolan dengan Sandi juga tak ada kelanjutannya. Tak ada respons. “Terus kalau saya ditanya, apa saya mau masuk koalisi, ya ntar dulu dong,” kata Yusril.

Nah, Yusril berharap dengan menjadi pengacara Jokowi-Maruf, PBB akan memperoleh manfaat. Pasalnya, suara PBB kerap hilang di pusat sehingga gaungnya tak diperhitungkan. Padahal, kata dia, elektabilitas partai itu di daerah cukup kuat. Setidaknya, kata Yusril, 15 persen suara partai di daerah selalu dikantongi PBB. “Kalau saya jadi lawyer, paling tidak PBB dijaga aparat, supaya nggak diganggu-ganggu,” ungkapnya.


Alasan lain, Yusril meragukan Prabowo-Sandi sebagai pejuang Islam. Selama mengikuti Prabowo-Sandi, dia mengatakan tak ada rekam jejak Capres-Cawapres terindikasi ke arah tersebut. “Jadi kalau Pak Prabowo dianggap sangat Islam, saya sendiri kurang percaya juga dengan itu. Apa iya? Sebab, nggak ada track record-nya,” kata Yusril, seperti dikutip detik.com. Menurut Yusril, rekam jejak Sandi pun tak terlihat bersentuhan dengan lembaga Islam. Seperti PII atau HMI. Bahkan, Sandi tak pernah berteriak atau melawan ketika isu ulama dikriminalisasi.

Berita Terkait : Demokrat Timbang-timbang Bergabung Dengan 01

Wasekjen Gerindra, Andre Rosiade mengatakan pihaknya tidak pernah menerima draf tersebut. Mereka mengatakan pernyataan Yusril mengada-ada, dan hanya mencari kesalahan kubu Prabowo-Sandi. Selama ini Gerindra menghargai Yusril dan PBB. Meski hingga saat ini, PBB belum juga menentukan pilihan politiknya untuk Pemilu 2019. 

Sekjen Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, selama ini Gerindra bersama PKS, PAN, Demokrat dan Berkarya sudah menjalin komunikasi yang sangat baik dalam menghadapi Pemilu. Koalisi ini juga pernah mencoba untuk menjalin komunikasi dengan Yusril. Namun, justru belakangan ini Yusril yang sulit dihubungi. “Kita sudah mencoba,” kata Muzani.

Muzani menyatakan, Koalisi Indonesia Adil dan Makmur tetap berupaya menggandeng PBB dalam satu barisan, meski Yusril sudah merapat ke Jokowi. “Ya kita berharap PBB bisa mendukung Pak Prabowo dan Sandi. Tapi kan Pak Yusril ketua umum. Sebagai advokat dia ke sana, tapi partai ke sini, ya agak ini juga ya. Tapi sekali lagi, persoalan ini buat saya sudah selesai, ketika Pak Yusril sudah memutuskan ke sana. Tidak perlu ada lagi yang harus dijelaskan panjang lebar,” kata dia.

Berita Terkait : Diancam Dipidanakan Yusril, Mas Bambang Game Over

Muzani menegaskan, Prabowo-Sandi tidak bisa menawarkan apa pun kepada PBB, untuk bisa bergabung bersama koalisinya. Yang dimiliki partai koalisi saat ini hanyalah perjuangan untuk bisa memperbaiki bangsa. Adapun mengenai draf koalisi keummatan yang dibuat oleh kalangan ulama untuk Prabowo sebagaimana disebut Yusril, Muzani mengaku tak pernah tahu.

Ketua DPP Gerindra Sodik Mujahid ikut mempertanyakan komentar Yusril yang meragukan Prabowo-Sandi dalam membela Islam. Menurut dia, itu hanya alasan yang dibuat-buat. “Ini tentu akan diangggap menggelikan oleh umat Islam dan tokoh-tokohnya, termasuk oleh kader-kader PBB,” tutur Sodik. [BCG]