Akan Santun Saat Debat, Sandi Tak Tega Nyerang Maruf

Klik untuk perbesar
Cawapres 02 Sandiaga Uno. (Foto: Twitter Sandiaga Uno)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Debat cawapres yang akan digelar 17 Maret nanti sebenarnya sangat dinanti-nanti. Banyak pihak yang penasaran bagaimana dua cawapres beda generasi, juga beda “aliran” adu gagasan di atas panggung. Kiai Ma’ruf Amin, seorang ulama kharismatik berumur 73 tahun akan “tarung” dengan Sandiaga Uno, pengusaha sukses yang umurnya baru 49 tahun.

Namun, sepertinya debat ini akan hambar. Sehambar debat Capres-Cawapres yang pertama. Bukan karena moderatornya atau karena pertanyaan debatnya yang dibocorkan, tapi karena Sandi yang enggan bertarung.

Sandi tak enak hati harus menyerang Ma’ruf yang seorang ulama. Dia rikuh kalau harus menjatuhkan orang, yang selama ini harus dihormatinya. Makanya, Sandi memastikan akan tetap menjaga kesopanan juga kesantunan saat debat nanti.

“Ini akan menyulitkan posisi saya. Karena dalam adab saya diajarkan: ulama atau kiai besar seperti Kiai Ma’ruf harus kita muliakan,” ujar Sandi di Kebayoran Baru, Jakarta, Minggu (10/2).

Berita Terkait : Jokowi-Maruf Menang Tebal di TPS 4 Sorong


Baginya, pembicaraan dengan kiai bukan untuk diperdebatkan. “Tidak bisa kita debat dengan Pak Kiai. Pokoknya, apa yang Pak Kiai sampaikan sami’na wa atho’na (kami dengar, kami patuh),” sambungnya.

Sandi paham, adabnya menghormati ulama akan membuat debat jadi kurang gereget. Ia pun sedang ‘putar otak’ agar debat nanti menjadi hidup, tetapi tetap bisa memuliakan Kiai Ma’ruf. Bukan menjatuhkannya.

“Saya lagi menyiapkan, bagaimana mendapatkan satu debat yang sesuai dengan apa yang diajarkan: saya menghormati, memuliakan Pak Kiai dan tidak membantah. Jika Pak Kiai sampaikan sesuatu ya ikut saja. Itu merupakan adab yang diajarkan,” katanya.

Sandi menyatakan, kemungkinan nanti dirinya tidak akan membantah apa yang disampaikan Kiai Ma’ruf. “Saya akan tampil apa adanya. Ada Pak Kiai, saya akan hormat dan mungkin lebih menyampaikan apa pendapat kita. Tapi, tidak akan mendebat apa yang disampaikan Pak Kiai,” pungkasnya.

Berita Terkait : Ajak Keluarga, Sandi Tiba di TPS

Sikap hormat Sandi kepada Ma’ruf memang sudah ditunjukkan di debat perdana, Kamis (17/1). Sebelum debat dimulai, Sandi mencium tangan Kiai Ma’ruf. Begitupun di akhir debat. Bahkan, eks Wagub Jakarta itu mencium tangan Kiai Ma’ruf hingga berulang kali. Baik pada bagian punggung tangan maupun telapak tangan sang kiai. 


Membalas perilaku Sandi, Ma’ruf lagi-lagi hanya tersenyum dan kembali menepuk lembut bahu Sandi yang tengah menunduk. Berbeda dengan Sandi, Kiai Ma’ruf justru menunjukkan sikap siap tarung pada debat nanti. Kiai Ma’ruf mulai mempersiapkan materi debat dengan tim. “Tentu sudah ada (pembahasan dengan para ahli) itu kan sudah ada visi-misi. Tinggal dikembangkan,” ucap Maruf di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (9/2).

Melihat sikap Sandi seperti itu, Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Adi Prayitno memprediksi perdebatan antara Sandi dengan Kiai Ma’ruf akan berlangsung tanpa gereget.

Bukan Sandi yang salah bersikap menghormati Sang Kiai. Justru Kiai Ma’ruf harusnya memberikan penegasan, kalau saat berdebat nanti ia adalah seorang cawapres. “Memang harus dilepaskan status Kiai Ma’ruf sebagai Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI), atau lainnya. Itulah sulitnya Sandi, nggak enakan jadinya,” ujar Adi kepada Rakyat Merdeka.

Berita Terkait : KPU Tak Akan Hitung Surat Suara Via Pos di Malaysia

Adi memberikan saran agar debat nanti tetap menarik. Yaitu, tetap adu ide gagasan program pemerintah. Bukan berdebat tentang personal. “Nanti masyarakat sendiri yang akan menilai. Ini
bisa menguntungkan Sandi atau justru sebaliknya,” pungkasnya. [BSH]

RM Video