Pidato Kebangsaan Di Kandang Banteng

Prabowo Nggak Berani Melucu

Klik untuk perbesar
Capres 02 berpidato

RMco.id  Rakyat Merdeka - Prabowo Subianto menggelar pidato kebangsaan di Ballroom Hotel Po Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2). Berada di “kandang banteng”, Prabowo tampil lebih serius, membatasi guyon dan hati-hati.

Seriusnya pidato Prabowo sudah terlihat sebelum sang capres naik panggung. Puluhan pakar, standby duduk di belakang mimbar tempat Prabowo pidato. Sebagian dari mereka memang sudah cukup dikenal di kalangan akademisi. Antara lain: Burhanuddin Abdullah, Ikhsanuddin Noorsy, Drajat Wibowo, Alex Yahya serta Andika. Selain itu, ada pula Sudirman Said, Muhammad Said Didu serta Ferry Mursyidan Baldan.

Sebelum pidato, Prabowo lebih dahulu bersalaman dengan para pakar, kemudian berdiri di balik mimbar dan memulai pidato kebangsaan. Bertajuk "Mewujudkan Swasembada Energi, Pangan dan Air", Prabowo semakin serius.

Ketum Partai Gerindra itu langsung berbicara dengan menganalogikan Indonesia, sebagai badan atau tubuh  yang disebutnya tengah sakit. “Sudah berapa kali saya sampaikan, bahwa kalau kita ingin dengan jujur, dengan realistis, dengan berani untuk meneliti diri kita sendiri, meneliti badan kita sendiri,” kata Prabowo.

Tapi, Prabowo tetap Prabowo, yang dalam pidato sebelumnya selalu menyelipkan guyon. Kali ini, ia menyebut terus belajar dengan para pakar yang duduk di belakangnya, hingga kepalanya botak seperti para pakar.

Berita Terkait : Prabowo Perkasa Kalau Oposisi


“Saya punya pakar ini banyak sekali yang botak-botak semua itu. Pak Rahmat buka kopiahnya dong, coba. Jadi kalau... ya udah, jangan, nanti terlalu guyon nggak boleh. Serius, ini adalah pidato kebangsaan,” kata Prabowo.

Di pidato ini, Prabowo tidak kebablasan guyon. “Jadi saya tidak boleh terlalu banyak guyon dan saya tidak boleh joget,” imbuh Prabowo disambut gelak tawa hadirin. Bahkan, ia bertanya-tanya sudah berapa lama berpidato. Dengan nada bercanda, Prabowo berkelakar timnya tak berani menegurnya.

“Berapa lama saya? Berapa lama lagi saya? Masalahnya mereka nggak berani negur saya, siapa tahu jadi presiden nanti,” sebut Prabowo.

Prabowo kembali berkelakar soal pakar-pakarnya yang berkepala botak. Jika dia menang pilpres, para pakarnya jadi pihak yang paling senang. “Kalau saya Insya Allah jadi presiden, yang paling senang yang botak-botak itu karena kita akan mencari putra-putri terbaik bangsa Indonesia,” sebut Prabowo disambut gelak tawa.

Prabowo juga kali ini lebih berhati-hati saat berpidato di hadapan publik. Setidaknya, ada dua peristiwa Prabowo coba mengerem tensi pidato agar tidak menuai polemik. Pertama, ketika menganalogikan bangsa dengan tubuh. Saat tubuh merasa sakit, seseorang akan memeriksakan diri ke dokter atau perawat.

Berita Terkait : Mau Ketemu Lagi, Jokowi-Prabowo Makin Romantis

“Ada juga yang ke dukun, kadang-kadang dukun lebih ampuh,” katanya. Namun, rupanya dia menyadari bahwa ucapannya bisa menyebabkan polemik. “Ini media jangan memelintir, nanti saya diadu domba sama dokter,” katanya.


Momen kedua terjadi, saat Prabowo menjelaskan pentingnya langkah pemerintah memberikan gaji yang besar kepada penegak hukum. Dia menyebut gaji yang mencukupi akan menjauhkan dari perilaku suap.

“Jadi nanti kalau gaji hakim-hakim kita sudah sedemikian hebatnya, tapi mereka masih bisa disogok, maka...,” katanya memberi jeda. Terdengar teriakan kata ‘gantung’ dari sekitar seribu audiens yang memadati ballroom Hotel Po.

“Yah, nanti akan kita pikirkan lagi,” kata Prabowo melanjutkan pidatonya. Dia juga langsung menjelaskan bahwa sekarang harus hati-hati saat bicara. “Itu kameramen sudah senyum-senyum,” kata Prabowo.

Pengamat Politik UIN Adi Prayitno mengatakan, Prabowo saat ini sudah berhati-hati dan menunjukkan keseriusannya berkompetisi di Pilpres 2019. Hal itu, terlihat dari dua faktor. Isi pidato Prabowo, dan lokasi Prabowo di Jawa Tengah, jantung suara Jokowi di Pemilu 2014.

Berita Terkait : Pertama Kali Pasca Pilpres 2019, Jokowi Bertemu Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus

“Prabowo serius banget karena ini injury time. Ia coba menjual kepada publik, kalau Indonesia ini sedang dalam kondisi sakit dan perlu disembuhkan,” ujar Adi kepada Rakyat Merdeka.

Menurutnya, kali ini Prabowo sedang bertaruh dan berharap memperoleh suara signifikan di kandang banteng. Pasalnya, Jawa Tengah itu adalah lumbung suara Jokowi. Harapannya, selisih sedikit kekalahan Sudirman Said di Pilgub Jateng lalu, dapat menjadi modal naiknya suara Prabowo-Sandi. [BSH]
 

RM Video