Demi Kebaikan Semua Pihak

Jadwal Debat Terakhir Sebaiknya Dimajukan Sebelum 13 April

Klik untuk perbesar
Paslon 01 Jokowi-Maruf (baju putih) dan paslon 02 Prabowo-Sandi (jas hitam) foto bareng Ketua KPU Arief Budiman, sesaat sebelum Debat Capres Jilid I di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (17/1). (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kini semakin matang menjadi negara demokrasi. Dalam waktu yg relatif cepat sejak awal reformasi politik dilakukan, 1998, arah demokratisasi kita makin jelas dan terlembagakan. Kita sudah mampu mengimplementasikan prosedur demokrasi yang benar. 

“Itu benar. Bila partisipasi dan kontestasi yang jadi rujukan, kita sudah sangat layak untuk disebut sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat. Proses transformasi politik tersebut sekaligus menolak anggapan Indonesianis, yang meragukan suksesi kepemimpinan Indonesia dapat dilakukan secara gradual dan damai,” ujar Pengamat Politik Indria Samego dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/3). 

Berita Terkait : Uang Dari Tukang Cendol, Jadi Penyemangat Prabowo Di Acara Debat Jilid 4

Dijelaskan, salah satu landmark dari proses transformasi politik itu adalah pilpres dan pilwapres (selanjutnya disebut pilpres) secara langsung. Di dalamnya, terkait pula prosesi yang sebelumnya tak pernah dilakukan di sini, yakni Debat Capres/Cawapres.


“Hasilnya, memang belum optimal. Namun jika debat tersebut dijadikan ukuran untuk memperkenalkan Capres dan Cawapres pada calon pemilihnya, tak dapat dipungkiri bahwa tujuan itu sudah tercapai,” kata Indria. 

Berita Terkait : Jokowi Ungguli Prabowo, Sandiaga Kalahkan Maruf

Efektivitas Debat Capres
Indria mengatakan,  jika tujuan debat adalah untuk mendekatkan hubungan emosional dan profesional antara calon pemimpin dengan yang akan dipimpinnya, soal waktu harus dipandang penting. Jangan sampai hanya demi memenuhi prosedur, acara itu harus disusun sedemikian rupa, mengabaikan aspek fungsi dan efektivitasnya. Apalagi, bila dikaitkan dengan sistem pemilu serempak sekarang, di mana nasib caleg seolah ditentukan oleh kemenangan capres yang diusungnya. Hanya berharap dari efek ekor jas (coattail effect). Caleg kelihatannya kurang dibebaskan untuk berkampanye. Padahal, merekapun perlu mendulang suara sebanyak-banyaknya di dapil masing-masing. 
 Selanjutnya 

RM Video