Bendera NU Berkibar Di Kampanye

NU Marah, Uno Terima

Klik untuk perbesar
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno saat kampanye di Lumajang.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gara-gara mengibarkan bendera Nahdlatul Ulama (NU) saat berkampanye, Sandiaga Uno dimarahi ormas Islam terbesar du negeri ini. Pengurus NU Lumajang bahkan pikir-pikir untuk mengajukan langkah hukum. Sementara Sandi malah cuek aja.

Pengibaran bendera NU ini terjadi saat Sandi berkampanye di Lumajang, Kamis lalu. Dari foto dan video yang beredar, terlihat Sandi mengibarkan bendera NU saat berada di atas panggung.

Tak terima, NU Lumajang melayangkan nota keberatan. Nota keberatan itu ditandatangani sejumlah pengurusnya. Di antaranya Rais NU Lumajang Husni Zuhri dan Ketua NU Lumajang Moh Mas’ud. “Kami tidak sekadar menyayangkan, tapi protes keras,” ujar Moh Mas’ud, kemarin.

Mas’ud menerangkan, bendera NU merupakan kehormatan Jam'iyah Nahdlatul Ulama yang merupakan hasil istikharah Muassis Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Bendera itu juga mencerminkan nilai-nilai luhur dan harokah perjuangan NU dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

“Jadi ketika dikibarkan bukan pada tempatnya, kita protes keras. Bendera itu bukan untuk kampanye, karena NU bukan ke politik praktis. Penggunaan atribut organisasi resmi, itu ada kode etiknya. Ini pelanggaran kode etik,” tegas Mas’ud.

Selain itu, NU Lumajang juga menilai tindakan pengibaran bendera NU dalam kegiatan kampanye politik semacam itu adalah bentuk pelecehan kepada Jami’yah NU. “Hal itu dapat menimbulkan gesekan horisontal di tengah masyarakat,” ujar Mas’ud.

Berita Terkait : Sandi, Emang Situ Bos

Mas’ud melanjutkan, Jami’yah NU memandang bahwa sebuah aspirasi atas hajat politik adalah sebuah hak setiap warga negara. Namun, NU memandang bahwa kinerja politik untuk meraih simpati masyarakat harus dilakukan dengan cara yang bermartabat. Tanpa menodai lembaga-lembaga organisasi dan institusi resmi di republik ini.

NU Lumajang pun tengah pikir-pikir untuk membawa hal ini ke jalur hukum. Saat ini, kata Mas’ud, para pengurus NU Lumajang tengah mempelajari dulu peristiwa tersebut. “Kalau langkah hukum ini dipandang perlu dan dibutuhkan, ya bisa jadi kita tempuh. Karena itu kita masih pelajari lebih lanjut. Kita lihat perkembangannya nanti,” tandas Mas’ud.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, langsung membela cawapres mereka. Juru Bicara BPN, Indra, menyebut bendera NU itu tak disiapkan Sandi. Dia menduga, ada peserta kampanye yang memberikan bendera itu. Menghargai para peserta kampanye, Sandi spontan mengibarkannya.

“Kebetulan mungkin ada yang bawa bendera tertentu jadi ini respons spontan saja. Bahwa ada yang ngasih sesuatu ke Prabowo-Sandi lantas direspons dengan baik. Kan enggak mungkin ditolak,” ujarnya usai menghadiri acara diskusi di d'Consulate Resto & Lounge, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, kemarin.


Senada, Direktur Hukum dan Advokasi BPN, Sufmi Dasco Ahmad menyebut, Sandi tak punya niat melecehkan NU. Pengibaran bendera NU itu justru merupakan sebuah penghormatan dari Sandi.

“Itu kan Pak Sandi spontanitas menghormati adanya bendera NU di situ. Bendera NU juga tidak terlarang. Sebagai bentuk penghargaan dia ambil kemudian dengan rasa gembira dia kibar-kibarkan. Kan begitu ekspresinya kalau saya lihat,” bebernya.

Berita Terkait : Prabowo Gelar Syukuran, Sandi Tak Terlihat

Menurutnya, salah alamat jika para pengurus NU Lumajang mempersoalkan hal itu ke Sandi. Harusnya, mereka mencari orang yang membawa bendera itu ke lapangan saat kampanye.

“Kalau keberatan jangan sama Pak Sandi, cari orang yang bawa. Pak Sandi mungkin pikir ‘wah ini orang NU’. Pak Sandi ingin mengapresiasi. Dia ambil (bendera) dan dikibarkan,” tutup Waketum Partai Gerindra itu.

Sandiaga cuek saja menanggapi protes NU Lumajang. Sandi yang ditemui di sela-sela kampanye di Magelang, kemarin, merasa tak ada masalah dengan pengibaran bendera itu. Sebab, dia mengklaim adalah anggota NU.

“Saya sendiri adalah anggota NU, saya memegang kartanu (kartu tanda anggota NU). Dan saya kan Uno, Uno kan 'Untuk Nahdlatul Ulama'. Jadi, ya saya bawa bendera tersebut dan sekarang katanya mendapat teguran, ya kita terima sebagai...,” ujar Sandi tanpa melanjutkan kalimatnya.

Cawapres nomor urut 02 ini kemudian melanjutkan, NU adalah milik semua kalangan. NU berada di atas semua golongan. “Masa seorang anggota NU tidak boleh membawa bendera NU,” ujar putra Mien Uno ini, balik memprotes. Ia pun berharap organisasi massa Islam terbesar di Indonesia itu menjadi perekat bangsa.

Terpisah, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin menilai protes NU Lumajang terhadap pengibaran bendera yang dilakukan Sandi adalah hal wajar. Sebab, NU bukan peserta pemilu.

Berita Terkait : Ajak Keluarga, Sandi Tiba di TPS

“Peserta pemilu adalah parpol. Kalau pilpres itu pasangan calon. Jadi bisa diterima keberatan NU itu,” ujar Sekretaris TKN Hasto Kristiyanto, kemarin.

Wakil Ketua TKN Arsul Sani mengamini pernyataan Hasto yang juga menjabat Sekjen PDIP itu. Arsul pun membandingkan Sandi dengan cawapres 01 Ma’ruf Amin. Ma’ruf, yang merupakan Rais Aam PBNU saja tak pernah sekalipun membawa-bawa langsung atribut NU dalam kampanye. Aksi Sandi itu dinilai bakal menimbulkan antipati warga Nadhliyin terhadap paslon 02.

“Ketika NU disentuh-sentuh dengan cara yang salah, maka justru timbul antipati. Jadi alih-alih dapat tambahan suara, aksi Sandi itu malah menutup potensi tambahan dukungan dari kaum Nahdhliyin,” terang politikus PPP ini. [OKT]