Yang Nyoblos Di Luar Negeri Meningkat Tajam

Di Malaysia, Pendukung 01 Baris Di Kanan, Pro 02 Di Kiri

Klik untuk perbesar
WNI tampak memadati halaman KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (14/4). (Foto: Astro Awani)

RMco.id  Rakyat Merdeka - WNI di luar negeri menyambut Pemilu kali ini sangat beda, juga sangat antusias. Antrean panjang mengular di TPS-TPS di seluruh dunia. Partisipasi pemilih di luar negeri meningkat dibanding 2014 dan pemilu-pemilu sebelumnya. Sayangnya, masih ada kericuhan di beberapa tempat.

KPU mencatat, ada 2.058.191 pemilih luar negeri. Terbanyak, di Malaysia dengan jumlah 558.873 orang. Di negeri Jiran itu, antrean mengular panjang. Sebabnya, dari 225 TPS yang tersebar di 89 titik, dipangkas. menjadi 3 tempat saja. Yakni di KBRI Kuala Lumpur, Wisma Duta (Kediaman Dubes) dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Di KBRI, massa membludak hingga memacetkan lalu lintas di sekitar Jalan Tun Razak, Kuala Lumpur. Massa menyemut di depan KBRI. Ribuan massa dipisahkan menjadi dua bagian. Pendukung capres 01 berada di sisi kanan jalan. Sedangkan massa pendukung 02 berada di sebelah kiri.

Berita Terkait : Jokowi-Amin Menang Telak di Luar Negeri

Pemisahan sengaja dilakukan puluhan petugas dari Polis Diraja Malaysia (PDRM) yang berjaga, agar tak terjadi bentrokan. Massa mengantre masuk ke KBRI untuk mencoblos. Hanya satu pintu kecil di sisi kiri kedutaan yang dibuka. Saking sesaknya, dua perempuan lanjut usia pingsan saat berdesak-desakan masuk ke sana.

Di SIKL, massa pendukung kedua capres juga dipisahkan. Pendukung Prabowo-Sandi bergerombol di sisi kanan depan SIKL. Sedangkan pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin berdiri di sisi kiri dengan membawa atribut, kaos dan poster.

Mereka meneriakkan nama calon masing-masing sembari meneriakkan yel-yel serta bernyanyi-nyanyi. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Mukhammad Farid Makruf sempat mendatangi massa dan menyampaikan agar tidak menimbulkan keributan.

Berita Terkait : Wajib Dievaluasi, Pemilu 2019 Banyak Telan Nyawa Korban Nyawa

“Lebih baik menahan diri agar tidak menimbulkan keributan daripada dilarang polisi Malaysia dan tidak bisa beraktivitas,” imbau Farid. Mengantisipasi kebosanan massa, pihak SIKL kemudian memutarkan lagu- lagu Indonesia dengan pengeras suara yang diperdengarkan kepada pemilih.

Antrean panjang di dua tempat itu terjadi, lantaran para pemilih yang sebagian besar merupakan TKI terdaftar sebagai Daftar Pemilih Khusus (DPK). Nah, para DPK ini baru boleh memilih satu jam sebelum penutupan TPS pada pukul 18.00 waktu setempat. Namun, mereka sudah datang sejak pagi.


Menghindari kericuhan, PPLN dan Panwaslu RI mengizinkan para pemilih DPK menggunakan hak pilihnya setelah jam 12.00 waktu setempat. “Orang-orang ini kan ngakunya ada yang mau kerja, izinnya terbatas, ya kita pertimbangkan untuk segera dilayani,” ungkap Komisioner KPU Hasyim Asy’ari yang berada di Kuala Lumpur.
 Selanjutnya 

RM Video