Ibaratkan Pilpres Seperti Perang Baratayuda

Pak Amien Siapanya? Kresna Atau Sengkuni

Klik untuk perbesar
Politisi PAN Amien Rais

RMco.id  Rakyat Merdeka - Amien Rais mengibaratkan Pilpres 2019 seperti perang Baratayuda. Lalu, lakon apa yang dimainkan Amien di Pilpres ini? Apakah seperti Kresna yang sakti, baik, cerdas, dan juru strategi yang membuat kubu Pandawa menang, atau seperti Sengkuni yang licik, buruk, penjahat dan biadab yang membuat kubu Kurawa tumbang?

Tamsil perang Baratayuda itu dikemukakan Amien, saat memberikan wejangan ke sejumlah peserta Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII di Yogyakarta, Rabu (28/11). Namun, video omongan Amien ini baru viral, Jumat (30/11).

"Ini permainan memang tinggal empat setengah bulan lagi. 17 April itu adalah pertaruhan yang terakhir, apakah unsur-unsur PKI akan menang ataukah sebaliknya," beber Amien.

Dia kemudian meminta kader Pemuda Muhammadiyah yang hadir melakukan konsolidasi. "Ini pertarungan Baratayuda, Armageddon, sudah kurang dari empat setengah bulan. Jadi kita harus betul-betul konsolidasi," tegas Amien.

Ia tak merinci lebih dalam, apa itu pertarungan Baratayuda atau Armageddon yang dimaksudnya. Namun, videonya yang viral soal ini, bikin panas di dunia maya dan dunia nyata.

Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily meminta Amien lebih rileks. "Jangan ditarik-tarik ajang demokrasi ini seperti perang. Rileks saja. Justru kalau Pak Amien selalu menyampaikan narasi peperangan dalam pilpres, demokrasi kita nanti akan menakutkan," ujarnya kepada wartawan,  Jumat (30/11).

Ace mengatakan, pilpres tak bertujuan membuat kerusakan. Ia mengimbau agar tak ada lagi narasi yang menimbulkan ketakutan bagi masyarakat. "Proses itu bukan perang Baratayuda, bukan Armageddon, bukan ajang untuk saling menjatuhkan. Tapi adu program, gagasan, dan ide yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa," ujarnya.

Ia pun mengingatkan substansi pilpres ialah tentang visi-misi capres-cawapres. "Kemukakan program-program unggulan Pak Prabowo. Kami akan tanggapi dengan prestasi kepemimpinan Pak Jokowi," tuturnya.

Wasekjen PAN Faldo Maldini menilai wajar Amien melontarkan pernyataan seperti itu, lantaran prihatin dengan kondisi negara yang dinilainya genting. "Pak Amien adalah profesor ilmu politik. Saya percaya, statement-nya adalah sesuatu yang mungkin. Memang kondisi bangsa ini lagi genting. Ini penentuan nasib bangsa Indonesia ke depan," ungkap Faldo di sela acara Diskusi Prospek Politik Kaum Muda di Litera Cafe, Ciputat, Jumat (30/11).

Ditanya seperti apa lakon Amien jika dikaitkan dengan tokoh-tokoh dalam perang Baratayuda, pengamat politik terbelah. Pengamat Politik Hendri Satrio menyebut, Amien tak cocok disebut Kresna atau Sengkuni.

Sebab, keduanya punya peran besar terhadap kubu masing-masing. Sengkuni menggunakan cara kotor. Tapi, ia melakukan itu dengan penuh perhitungan, prediksi akurat, logis. Karena itu dia menjadi lawan siasat yang sepadan dengan sang intelek, Kresna.

"Pak Amien ini orang yang berada di belakang layar, tapi berisik. Bukan pengatur strategi seperti Kresna atau Sengkuni," ujarnya kepada Rakyat Merdeka. Namun, Hendri menyayangkan Amien melontarkan pernyataan seperti itu. Sebab, Pilpres dinilainya adalah pesta demokrasi. Bukan perang.

Apalagi, perang Baratayuda, yang notabene adalah perang saudara. Perang yang memakan banyak korban jiwa. "Pernyataan itu tidak mencerminkan sebagai bapak bangsa, tokoh senior. Harusnya yang menyejukkan, jangan mengompor-ngompori begini," sesal Hendri.

Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Prof Budyatna menyebut, Amien lebih pas sebagai Sengkuni. Sebab, apa yang selama ini dilakukannya seperti tokoh antagonis itu. "Politik pecah belah, fitnah, dan mengorbankan banyak hal, termasuk ketenteraman rakyat. Dalam pewayangan, tokoh Sengkuni adalah ikon terbesar pengadu domba itu," ujarnya.

Budyatna menilai,  Amien kerap melontarkan tudingan kasar dan tanpa dasar kepada lawannya. Yang kadang, ketimbang mengkritik, malah terdengar seperti meracau. Padahal, framing atau melempar isu untuk mempengaruhi massa adalah hal biasa dalam politik.

Jika itu dilakukan dengan cara ksatria, sesuai fakta, logis, itu akan jadi serangan politik yang bagus. "Sebagai tokoh bangsa, seharusnya Amien secara profesional bisa menyumbangkan pikiran, saran, kritik dengan logis dan bijak," saran Budyatna. [OKT]

RM Video