Seruan Berbagai Tokoh Nasional

Ayo, Habis Pilpres Kita Bersatu Lagi

Klik untuk perbesar
Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono beesama istrinya Annisa Pohan seusai menggunakan hak pilihnya di TPS 013, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4). (Foto : [email protected]).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hiruk pikuk pelaksanaan Pilpres 2019 diharapkan segera berakhir. Masyarakat yang sebelumnya terbelah, diharapkan bisa bersatu kembali.

Seruan pun datang dari berbagai tokoh nasional. Seruan pertama datang dari Capres 01 Jokowi. Presiden RI ini meminta masyarakat Indonesia kembali bersatu setelah sebelumnya sempat terpolarisasi dalam kontestasi pemilihan presiden 2019.

Berita Terkait : Airlangga: Idul Adha Momentum Politik Bersih

Jokowi memandang pesta demokrasi kemarin, telah berjalan baik, aman, dan tertib. Ia pun meminta rakyat Indonesia menutup pilpres dan pileg dengan kembali merawat kerukunan hidup bermasyarakat.

“Marilah kita kembali bersatu sebagai saudara sebangsa dan setanah air setelah pileg dan pilpres. Menjalin, merawat kerukunan kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air,” kata Jokowi di Djakarta Theatre, Rabu (17/4).

Berita Terkait : AHY Dorong Kader Demokrat Selesaikan Sengketa Lewat MK

Saat menyampaikan pidatonya, Jokowi didampingi seluruh ketua umum partai koalisi. Pimpinan partai koalisi yang hadir di antaranya adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo, Ketum PSI Grace Natalie, Ketum Nasdem Surya Paloh, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar.

Selain itu hadir pula Ketua TKN Erick Thohir, Wakil Ketua TKN Moeldoko, dan sejumlah tokoh yang saat ini menjabat menteri Kabinet Kerja seperti Luhut Binsar Pandjaitan, Hanif Dhakiri, dan Puan Maharani.

Berita Terkait : AHY Berharap Pemerintah Mampu Tangani Situasi

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla meyakini masyarakat Indonesia akan kembali bersatu usai Pemilu 2019. JK tidak membantah, pemilu akan membelah publik karena mengharuskan memilih para kandidat.


“Kalau bersatu bukan pemiu namanya. Jadi akan memilih masing-masing. Tapi tidak akan menyebabkan terbelah dalam hal pilihan tapi tidak akan menyebabkan konflik,” ujar Kalla, Selasa (16/4).
 Selanjutnya 

RM Video