Buktinya Kalah di Jabar, Banten, Sulawesi, NTB

Jagoan Lokal Nggak Ndongkrak Jokowi

Klik untuk perbesar
Tiga jagoan lokal (kiri ke kanan): Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dan mantan Gubernur NTB TGB Zainul Majdi. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jagoan lokal nggak kuat mendongkrak Jokowi di Pilpres 2019. Hasil quick count sejumlah lembaga survei menunjukkan, meski didukung jago-jago lokal, perolehan suara Jokowi di daerah-daerah yang dihuni jago lokal itu, jauh dari memuaskan.

Contohnya di Jawa Barat. Di sini, Jokowi tak muluk-muluk. Hanya menargetkan menang tipis. Maklum, di pilpres sebelumnya, Jokowi keok di Tanah Pasundan ini. Jokowi hanya meraup 40,22 persen, sedangkan Prabowo 59,78 persen.

Dari hasil hitung cepat seluruh lembaga survei, Jokowi diketahui kalah lagi di Jabar. Perolehan suaranya bahkan menurun. Dari hitungan Centre for Strategic and International Studies (CSIS)-Cyrus Network, Jokowi meraih 38,76 persen, sedangkan Prabowo 61,24 persen.

Berita Terkait : Kapal Prabowo Mulai Oleng

Jabar, merupakan provinsi dengan pemilih terbanyak: 33.270.845 pemilih. Banyak jagoan lokal dikerahkan di sini. Ada Gubernur Jabar Ridwan Kamil, ada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Ada juga eks Wagub Jabar Deddy Mizwar. Semuanya berupaya mendongkrak suara Jokowi.

Ditanya soal fenomena ini, Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, sepertinya bingung. Jawaban yang dia berikan  ngambang dan muter-muter. “Tidak perlu dulu melihat Jabar. Kalau disebut kalah, ya kalah. Tapi, apakah sama, menipis, atau menguat, saya belum bisa ambil kesimpulan. Saya kira, dalam pesta demokrasi, itu sesuatu yang wajar. Menandakan bahwa politik bukan matematika," ucap Emil di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kamis (18/4).

"Karena yang namanya demokrasi itu kesukaan. Kesukaan orang itu kadang tidak bisa diteorikan. Itulah uniknya dinamika politik one man one vote, reasoning-nya itu tidak bisa selalu diilmiahkan antara pemilih rasional dan emosional,” tambahnya.

Berita Terkait : Tak Terbendung, Perolehan Suara Jokowi-Maruf

Cerita yang sama juga terjadi di Banten. Padahal, provinsi ini tercatat sebagai kampung halaman Ma’ruf Amin yang digandeng Jokowi sebagai cawapres. Dukungan tokoh lokal di sini juga berderet-deret. Ada Gubernur Banten Wahidin Halim, yang mesti berbaju Demokrat, memilih menjagokan Jokowi.


Belum lagi dukungan keluarga Ratu Atut, yang terkenal terpandang dan berpengaruh kuat. Ada anak Ratu Atut, Andika Hazrumy yang menjabat Wakil Gubernur Banten. Berikutnya, Ratu Tatu Chasanah, Bupati Serang periode 2016-2022 yang juga menjabat Ketua DPD Golkar Banten. Tapi, Jokowi tetap kalah di Banten.

Hitung cepat Charta Politika menyatakan suara Jokowi-Ma'ruf hanya 40,9 persen. Sementara Prabowo-Sandi, memimpin di angka 59,1 persen. Pada pilpres 2014, Jokowi hanya meraih 42,9 persen, sedangkan Prabowo 57,1 persen.

Berita Terkait : TKN Siap Bikin Syukuran Kemenangan Melawan Hoaks

Bahkan, di TPS 23 Cipocok Jaya, Kota Serang, tempat Tatu Chasanah dan Andika Hazrumy nyoblos, pasangan 01 kalah telak. Jokowi mendapatkan 83 suara, dan Prabowo 140 suara. Hasil ini bikin pusing kubu Jokowi. Sampai-sampai, Ketua Tim Kampanye Daeah (TKD) Banten, Asep Rakhmatullah menyebut, sosok Kiai Ma’ruf tak berpengaruh pada pemilih di Banten. Menurutnya, pemilih di provinsi ini tak bisa diyakinkan hanya dengan pemahaman atau program.

“Mau pakai cara apa pun, dikasih apa pun bergeming,” ujar Asep. Tapi, Asep menolak kekalahan versi hitung cepat Jokowi di Banten disebut sebagai kelalaian tim sukses. Tim, menurutnya sudah melakukan kerja-kerja pemenangan. Hanya saja, mengubah pola pemilih di tanah para jawara itu memang bukan perkara gampang.
 Selanjutnya 

RM Video