Relawan Jokowi Diminta Tetap Tenang

Klik untuk perbesar
Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko (kiri) bersama Ketua Relawan Buruh Sahabat Jokowi Andi Gani Nena Wea pada acara doa dan buka puasa bersama. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ratusan relawan Jokowi melakukan aksi doa dan buka puasa bersama di Gedung Joeang 45, Jakarta, Rabu (22/5) malam. Organisasi relawan tersebut di antaranya, Seknas Jokowi, Projo, Bara JP, Relawan Buruh Sahabat Jokowi, Joman, Almishbat, Gojo, Duta Jokowi dan ratusan organ relawan Jokowi.

Acara tersebut dihadiri Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sidarto Danusubroto, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko dan Ketua Relawan Buruh Sahabat Jokowi Andi Gani Nena Wea.

Berita Terkait : 5 Tahun untuk 5 Tahun

Ketua Panitia Acara Andi Gani Nena Wea mengatakan, dalam sambutannya meminta kepada seluruh pendukung Jokowi untuk tetap tenang dan tidak terpancing membuat aksi tandingan di jalan-jalan. "Kami sangat yakin TNI dan Polri segera memulihkan kondisi keamanan di Tanah Air," katanya.


Andi yang juga Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) mengimbau, seluruh pihak untuk bisa menahan diri dan mementingkan kepentingan bangsa diatas segalanya. “Pilpres sudah selesai dan kompetisi sudah selesai. Kita menghargai niat BPN untuk menempuh jalan hukum di MK. Untuk itu kita tunggu saja hasilnya di MK," jelasnya.

Berita Terkait : Moeldoko Inginkan Audisi Umum PB Djarum Tetap Dilanjutkan

Andi pun mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pendukung Jokowi yang selalu menunjukkan loyalitas dan semangat juangnya.

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko menyebutkan bahwa kondisi keamanan di Indonesia, khususnya Jakarta, terkendali terkait dengan unjuk rasa di sejumlah lokasi di ibu kota. Untuk itu, Moeldoko meminta agar semua pihak menahan diri dan tetap tenang.

Berita Terkait : Beri Penghormatan Ke Habibie, Pemerintah Tetapkan Hari Berkabung Nasional Tiga Hari

Terkait dengan penangkapan sejumlah tokoh, Moeldoko membantah pemerintah telah bertindak otoriter. "Ini kan awalnya soal hasil pemilu, tapi terus yang diserang polisi, asrama kepolisian, alasannya apa? Justru itu, ini sudah keluar dari format politik, bahwa format politik pesta demokrasi berakhirnya di MK, bukan di jalanan," katanya. [KPJ]