RMco.id  Rakyat Merdeka - Istri Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, membantah jika keinginannya maju pilkada disebut sebagai dinasti politik. Langkahnya mengikuti jejak suami maju di pilkada adalah aspirasi masyarakat. Menurut Kustini, di era demokrasi ini, siapa pun berhak dipilih dan memilih termasuk dirinya maju pilkada tahun ini. 

“Dinasti itu kan kerajaan. Ini kan demokrasi. Demokrasi itu siapa pun berhak maju, memilih dan dipilih. Begitu juga untuk maju dan diajukan. Ini bukan kerajaan lho. Kalau dinasti, suami raja, saya ratu. Ini bukan. Sleman itu cerdas mau melihat nanti, SDM Sleman tinggi sekali,” katanya, kemarin. 

Berita Terkait : Sambut Pilkada, Semua Jagoan Golkar Wajib Patuhi Protokol Kesehatan

Keputusan Kustini bergabung dengan PDIP juga berbeda dengan sang suami yang merupakan kader PAN. Kustini belum bisa membeberkan apakah akan mendapatkan dukungan dari gerbong pendukung sang suami atau tidak. 

“Kita tidak tahu, bisa iya bisa tidak. Masih menunggu hasilnya nanti. Tapi, PDIP membuka partai untuk saya maju untuk Sleman-1,” ujarnya. 

Berita Terkait : Ganjar Emang Nyeleneh

Kustini menjelaskan, PDIP saat ini juga terbuka dengan partai lain untuk berkoalisi. Menurutnya, semua harus bergerak baik dari partai hingga partisipan yang mendukungnya. “Berani maju harus menang. Maju optimis hati kita menang, Insya Allah menang. Kita tidak usah tidak menang, menang gitu. PDIP sudah 15 kursi nanti diusung organisasi masyarakat lain kita rengkuh semua,” jelasnya. 

Sebelumnya, DPP PDIP telah mengumumkan rekomendasi 45 pasangan calon yang akan diusung di Pilkada 2020. Di Pilkada Sleman, PDIP merekomendasikan pasangan Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa. Kustini merupakan istri dari Sri Purnomo, Bupati Sleman yang saat ini menjabat. Diduga majunya Kustini untuk mengukuhkan dinasti politik di Sleman. [EDY]