RMco.id  Rakyat Merdeka -
Lembaga survei PolMark Indo¬nesia terlibat konflik dengan tim pemenangan pasangan Wali Kota-Wakil Wali Kota Makassar, Munafri Ariefuddin (Appi)-Rahman Bando. Si empunya lembaga, Eef Saefulloh Fatah, akan dilaporkan ke Polisi oleh Erwin Aksa, keponakan Jusuf Kalla. 

Direktur PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah menjelaskan, pemicu perselisihan antara lembaganya dengan tim pemenangan Appi-Rahman adalah infografis survei PolMark In¬donesia yang beredar. 

Eep menjelaskan, kemunculan infografisitu berawalsaat Ketua Tim Pemenangan Appi-Rahman, Erwin Aksa, mengirimkan materi hasil survei Profetik Institute yang memenangkan Danny Pomanto pada Senin (14/9) dini hari lalu. 

Kala itu, kata Eep, Erwin mengatakan akan menggunakan hasil survei lama dari PolMark Indonesia yang memenangkan Appi-Rahman untuk membantah survei Profetik Institute itu. 

“Saya (sudah) menyarankan Erwin Aksa tidak memakai hasil survei lama sebagai bantahan. Saya juga tegaskan jika sebuah hasil survei dirilis ke publik, maka keterangan waktu survei itu wajib disertakan di dalamnya,” ujar Eep, kemarin. 

Berita Terkait : Per 26 September, Bupati Dan Wabup Sudah Mulai Cuti

Tapi sayang, sebut Eep, saran itu tidak diindahkan. Pagi harinya, in¬fografissurveilawasitu te¬tap disebarkan. Dia merinci, setidaknya ada dua pengaburan data dalam infografis survei lawas itu. 

Pertama, dalam infografis survei yang disebarkan, disebut bahwa survei dilakukan oleh PolMark Indonesia pada Agustus 2020. Padahal, lembaganya hanya memiliki data survei pada 23-21 Juli 2020. 

Kedua, sambung Eep, variabel data dalam infografis survei tersebut juga keliru. Di antaranya angka elektabilitas. 

Dalam infografis yang disebarkan, disebutkan angka 31,7 persen adalah elektabilitas untuk pasangan Appi-Rahman. Padahal, angka itu adalah elektabilitas tertutup untuk kandidat orang per orang alias individu. 

“Yang penting, saya tegaskan data hasil survei yang dimuat dalam meme itu memang keliru. Sekali lagi, kekeliruan ini bukan masalah teknis melainkan masalah etika publikasi hasil survei yang sangat penting. Apalagi memenya memuat foto dan nama saya serta PolMark Indonesia,” katanya. 

Berita Terkait : Pilkada Serentak 2020, PSI Dukung 143 Pasangan Calon Kepala Daerah

Buntutnya, Eep telah mengundurkan diri sebagai tim pendamping terbatas Appi-Rahman. Eep memilih mundur dan mengembalikan dana kerja sama ‘pendampingan terbatas’ dibandingkan harus berselisih paham mengenai cara-cara kerja pemenangan. 

Baginya, ada dua masalah penting dan besar berkaitan rencana penggunaan meme hasil survei, yang menggunakan nama PolMark Indonesia. 

Pertama, sebagai konsultan, dia berkewajiban bukan hanya menyusun tapi juga menjaga strategi dan ritme kerja pemenangan. Kedua, publikasi hasil survei wajib dilakukan secara jujur tanpa ada sedikit pun rekayasa data.

 Hal terakhir ini bukan soal kecil, melainkan perkara sangat besar, bahkan sakral. 

“Ketika dua hal itu tidak terpenuhi, saya dan PolMark Indonesia tidak akan bisa bekerja secara optimal. Atas nama persahabatan, untuk menghindari konflik lebih serius dan lebih besar, saya merasa opsi mengundurkan diri dan mengembalikan dana adalah pilihan terbaik,” paparnya. 

Berita Terkait : Pengamat: Ada Yang Goreng Omongan Puan Soal Sumbar Demi Pilkada

Terkait hal ini, Erwin Aksa menegaskan bakal melaporkan Eep Saefulloh Fatah ke polisi. Erwin menyebut dasar laporan itu adalah perbuatan tidak menyenangkan. 

“Saya akan lapor polisi perbuatan tidak menyenangkan,” ujarnya. [SSL]