RMco.id  Rakyat Merdeka - Proses Pilkada 2020 terus berjalan. Setelah penetapan nomor urut, sejak 26 September hingga nanti 5 Desember 2020, para calon melakukan kampanye menyampaikan visi misi dan program strategisnya. Namun, berbeda dengan pilkada-pilkada sebelumnya, kampanye Pilkada 2020 wajib mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Anggota DPD Fahira Idris mengungkapkan, salah satu isu strategis yang patut menjadi program utama para calon kepala daerah (cakada) yang berlaga di Pilkada 2020 adalah percepatan penanggulangan Covid-19 beserta dampaknya. Terutama ekonomi di daerah masing-masing. 

Berita Terkait : Bupati Junaedi: Protokol Kesehatan Ketat Dari Dermaga Sampai Ke Homestay

Salah satu komitmen calon terkait program percepatan penanggulangan Covid-19 dapat dilihat dari kedisiplinannya dalam mematuhi protokol kesehatan saat berkampanye. Semakin disiplin calon atau mampu berkreasi berkampanye secara digital, semakin kuat komitmennya dalam menanggulangi Covid-19. Demikian sebaliknya.

“Isu publik yang paling utama saat ini adalah percepatan penanggulangan Covid-19. Oleh karena itu, masyarakat harus memastikan bahwa calon yang akan dipilih adalah mereka yang benar-benar punya program yang komprehensif soal ini. Selain itu yang juga harus menjadi referensi publik dalam memilih adalah calon sejauh mana komitmen calon kepala daerah mematuhi protokol kesehatan terutama saat masa kampanye,” ujar Fahira, di Jakarta, Selasa (29/9).

Baca Juga : Arsenal Vs Newcastle United, Misi Menembus 10 Besar

Fahira paham, melangsungkan kampanye yang benar-benar disiplin dan taat protokol kesehatan merupakan tantangan besar. Tidak hanya bagi para calon, tetapi juga bagi penyelenggara pilkada. Oleh karena itu, pada Pilkada 2020 yang berlangsung di tengah pandemi ini, para calon kepala daerah tidak punya pilihan lain selain mengubah strategi sosialisasi dan kampanyenya dengan menggunakan berbagai tools media komunikasi digital.

“Ini (kampanye digital) paling efektif dilakukan saat ini. Calon dan tim suksesnya harus mampu membuat konten kampanye yang menarik, kreatif, dan edukatif dengan memanfaatkan tools komunikasi digital sehingga tidak perlu mengumpulkan massa karena berpotensi membahayakan keselamatan warga,” pungkas Fahira. [USU]