Dari Toyota Dan Hyundai

RI Kantongi Investasi Mobil Listrik Rp 50 T

Klik untuk perbesar
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenperin)

RMco.id  Rakyat Merdeka -
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sudah ada dua pabrikan mobil besar yang komitmen investasi pengembangan mobil listrik. Mereka adalah Toyota dan Hyundai. Total investasi kedua perusahaan itu mencapai Rp 50 triliun. 
    
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, investasi yang mencapai Rp 50 triliun itu untuk lima tahun mendatang. Bahkan, salah satu perusahaan tersebut telah berkomitmen 50 persen produksinya untuk mengisi pasar ekspor.

“Kemudian, mereka juga ingin membangun basis produksi kendaraan listrik di Indonesia dengan nilai investasi sebesar 2 miliar dolar AS, dan ada beberapa perusahaan komponen penunjang seperti baterai juga akan ada investasi baru. Apalagi, Indonesia punya bahan bakunya. Selain itu, pemerintah telah memberikan tax holiday untuk sektor ini,” ujarnya disela-sela pembukaan GIIAS di ICE BSD, Kamis (18/7).

Pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas PP Nomor 94 Tahun 2010 Tentang Perhitungan Penghasilan Kena Pajak Dan Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan. Perubahan ini didasarkan upaya pemerintah untuk mendorong investasi pada industri padat karya, keterlibatan industri dalam penyiapan SDM yang berkualitas, dan industri melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan.

Berita Terkait : Gandeng Kampus Dan Swasta, Kemenperin Kembangin Mobil Desa Listrik

Berdasarkan peraturan tersebut, Pemerintah memberikan insentif pajak sebesar pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan industri dalam menyelenggarakan kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran dalam rangka peningkatan SDM berbasis kompetensi tertentu. Selain itu pemerintah juga memberikan insentif serupa dengan nilai maksimal 300 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia.


“Melalui upaya-upaya tersebut, kami meyakini akan menjadi daya tarik bagi industri yang berbasis inovasi, sehingga akan memberikan efek positif bagi industri kita, termasuk memotivasi industri untuk terus mengembangkan nilai ekspor Indonesia, serta menjadikan Indonesia sebagai basis produksinya,” ujar Airlangga.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengemukakan, industri otomotif di Indonesia terlihat semakin berkembang seiring dengan peningkatan perekonomian, khususnya di kota-kota besar. Ini juga tercemin dari tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk membeli mobil.  

Berita Terkait : Lifter Putri Lampung Kuasai Kelas 64 Kg

“Industri otomotif juga dinilai sebagai sektor yang dinamis dalam banyak hal, seperti teknologinya, modelnya, harganya, dan juga cara pemakaiannya terus berkembang. Yang sekarang sedang berkembang, yaitu mobil listrik. Ini dibutuhkan kesiapan dari produsen dan masyarakatnya,” ujarnya. 

Oleh karena itu, pemerintah terus mendukung pengembangan industri otomotif, baik itu dalam menerbitkan regulasi maupun mendorong tumbuhnya sektor hulu seperti industri baja. “Berikutnya, dalam upaya meningkatkan ekspor, selain melalui kerja sama yang terus ditingkatkan, pembangunan infrastruktur juga penting seperti Pelabuhan Patimban yang akan menyediakan car terminal yang ukurannya cukup besar,” imbuhnya

Wapres mengakui industri otomotif memiliki efek berganda yang luas terhadap perekonomian, mulai dari tumbuhnya industri penunjang dan penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak. “Jadi, melalui pameran GIIAS ini membuktikan bahwa indikasi kemajuan suatu negara juga diukur dari perkembangan industri otmotif,” tandasnya. [DIT]