Baran Energy Luncurkan Baterai Listrik Dari Energi Terbarukan

Klik untuk perbesar
Founder dan CEO Baran Energy Victor Wirawan. (Foto: Ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Baran Energy menghadirkan teknologi baru terbarukan (EBT) berupa energy storage system bernama Baran PowerWall yakni baterai penyimpanan energi skala besar mulai dari 8,8 kilo watt hour (kwh).

Hal ini sebagai upaya perusahaan dalam mendukung program pemerintah yang ingin memanfaatkan energi baru terbarukan di tahun 2025 bisa mencapai 23 persen.

Founder dan CEO Baran Energy Victor Wirawan mengatakan, pihaknya bersama puluhan anak milenial Indonesia tengah mengembangkan tiga varian produk teknologi energi ramah lingkungan yang bisa dipakai untuk rumah tinggal, pabrik, real estate, perkebunan, pertambangan hingga industri skala besar.

“Produk yang kami launching yakni PowerWall ada tiga varian dengan kapasitas berbeda, yang paling rendah 8,8 kwh itu bisa untuk menerangi sepanjang malam, ada juga PowerPack 127 kwh dan terbesar PowerCube 1,2 MWh (mega watt hour)," ujarnya, di Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : Garuda Luncurin Tauberes, Ongkos Logistik Bisa Lebih Murah

Menurutnya, perangkat teknologi ini bisa dimanfaatkan, terutama untuk menampung energi yang dihasilkan oleh energi terbarukan, seperti energi yang bersumber dari matahari, angin, air dan lain-lain.

Karenanya ia berharap, ke depannya setiap rumah tangga, hotel, bahkan industri bisa menghasilkan energi listrik sendiri yang stabil agar tidak lagi terpengaruh dengan inflasi yang kerap naik setiap tahunnya.


“Memang tidak mudah membuat orang berpindah ke energi terbarukan. Tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologinya saja, tapi perlu dipikirkan cara agar lebih banyak orang memilikinya," tuturnya.

Untuk itu, dari varian produk yang ditawarkan tersebut, semula dibanderol seharga setara mobil penumpang. Namun, untuk memudahkan kepemilikan, pihaknya menawarkan program Baran Package untuk kapasitas 2 ribu watt 1 phase senilai Rp 234 juta, 3 ribu watt 1 phase senilai Rp 411 juta, hingga kapasitas yang terbesar yakni 10.000 ribu watt 3 phase senilai Rp 975 juta, dengan tambahan batery inverter, solar inverter dan solar panel.

Berita Terkait : Abang Pangeran MBS Didaulat Jadi Menteri Energi Saudi

“Kami ingin memberikan penawaran, bahwa untuk memiliki perangkat energi EBT yang selama ini terkesan mahal, bisa dimiliki dengan harga terjangkau. Kami Adakan program khusus Rp 1 hanya hari ini, dan ada juga program easy payment untuk mencicil DP (down paymen/uang muka)," katanya.

Ia berasumsi, orang menggunakan listrik 2.000 watt dengan tagihan Rp 1,5 juta per bulan. Dalam 20 tahun mendatang maka tagihan yang perlu dibayar sebesar Rp 360 juta.

“Dengan energi storage, daya 2.000 watt dibanderol dengan harga Rp 234 juta yang bisa bertahan sampai 20 tahun," pungkasnya.

Ia pun menargetkan, produksi baterai tersebut sebanyak 200-300 unit per hari. Diakuinya, produksi belum dilakukan dalam jumlah besar karena saat ini masih dalam tahap pembangunan pabrik di Cibitung yang diharapkan bisa selesai pada akhir tahun ini.

Berita Terkait : Gandeng NEDO, Kemenperin Kembangin Baterai Motor Listrik

"Saat ini produksi masih kecil, tapi akhir tahun nanti bisa produksi masal dan besar. Target penjualan sendiri harapannya bisa Rp 100 miliar per bulannya," harapnya. [IMA]