Produsen Mobil Serius Garap Pasar Indonesia

Industri Otomotif, Kebanjiran Investasi

Klik untuk perbesar
(Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Industri otomotif dalam negeri akan kebanjiran investasi pada 2019. Sebab, produsen mobil dari Asia dan Eropa menyatakan keseriusannya untuk menggarap pasar di Indonesia dengan menambah investasinya.

Salah satu produsen kendaraan yang semakin serius menggarap pasar Indonesia adalah Wuling. Produsen asal China bakal menambah investasinya di Indonesia sebesar Rp 9 triliun pada 2019. 

Sekjen Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar mengatakan, Wuling akan mengembangkan bisnisnya di Indonesia. “Iya, Wuling mau ekspansi Rp 9 triliun. Jadi, dia mau serius mengembangkan usahanya di Indonesia, sehingga dia mau investasi,” kata Haris di Jakarta, kemarin. 

Menurutnya, industri otomotif memiliki karakteristik sedikit berbeda dengan industri lain karena tak bisa sembarang pemain bisa ikut masuk dan bersaing. Sehingga perlu upaya lebih agar kepuasan dan kepercayaan pelanggan bisa terus terjaga. Investasi di industri otomotif itu beda, sehingga tidak gampang orang masuk di situ. Jadi, dia harus maintenance itu, misalnya kebutuhan aftersales, ketersediaan suku cadang, itu semua yang dapat menjaga trust,” ungkap Haris.

Adapun investasi yang dilakukan Wuling, menurutnya akan digunakan untuk memperluas jaringan. Lalu memastikan ketersediaan suku cadang hingga memperkuat teknologi untuk pusat riset dan pengembangannya atau Research and Development (R&D) Center.
 
“Mereka harus menyesuaikan dengan pasar, sehingga perlu juga investasi di R&D selain after sales. Jadi, investasinya di sini besar, dan memerlukan extra effort,” kata Haris.

Selain Wuling, produsen otomotif lain yang belum lama ini dikabarkan berencana menyuntik investasinya di dalam negeri adalah Volkswagen atau VW. Pabrikan otomotif asal Jerman ini berencana membangun pabrik di Indonesia dengan investasi sekitar 50 juta euro.

Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin Harjanto mengatakan, investasi itu akan digunakan untuk memproduksi beberapa varian kendaraannya di Indonesia, untuk kemudian di ekspor ke pasar ASEAN. “VW juga mau bangun assembly line di sini. Mau buat Tiguan di Indonesia dengan investasi 40 juta sampai 50 juta euro,” ujarnya.

Menurutnya, VW akan membuat pabrik tersebut dengan nama Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) PT Garuda Mataram. Namun Harjanto enggan menyampaikan lokasi pabrik tersebut akan dibangun, karena belum memperoleh informasi lebih lanjut soal investasi ini.
 
“Tapi mereka bilang sudah lapor ada investasi VW di dalam negeri, dengan masuknya beberapa varian dalam negeri yang akan diproduksi di Indonesia,” ujarnya.

Ia memperkirakan, dengan nilai investasi tersebut maka kapasitas produksi pabrik tersebut tidak akan terlalu besar mengingat kendaraan yang dihasilkan di pabrik ini akan diekspor ke pasar ASEAN. “Untuk 50 juta euro tidak terlalu besar. Itu untuk pasar ASEAN dan sekitarnya,” kata Hardjanto.

Kemenperin mencatat investasi sektor industri sepanjang 2018 sebesar Rp 226,18 triliun. Angka ini menurun 18,7 persen dari capaian tahun lalu yang sebesar Rp 274,8 triliun dan lebih rendah 32,5 persen dari 2016 yang tercatat sebesar Rp 335,8 triliun.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, Hyundai juga akan berinvestasi di Indonesia dengan mulai membangun pabrik mobil listrik di Indonesia sebagai bagian dari investasi 880 juta dolar AS atau Rp 12,8 triliun. “Pabrik Hyundai akan memiliki kapasitas produksi tahunan sekitar 250.000 unit,” ujarnya. 

Rencananya, 47 persen kendaraan yang diproduksi untuk dijual di pasar lokal dan 53 persen diekspor. “Sebagian besar ke Asia Tenggara dan Australia,” ungkapnya. 

Pabrik ini akan menjadi pabrik mobil pertama Hyundai di Asia Tenggara dan membantu pembuat mobil Korea Selatan mengurangi ketergantungannya pada China. Di mana penjualan telah dirugikan oleh ketegangan diplomatik antara kedua negara.

Salah satu faktor penyebab Hyundai memilih Indonesia sebagai lokasi pabrik kendaraan listrik adalah bahwa negara ini memiliki cadangan bijih nikel laterit yang besar. Ini merupakan bahan utama yang diperlukan untuk produksi baterai lithiumion. [ASI]
 

RM Video