Industri Manufaktur Sulit Dikerek Secara Instan

Menperin Genjot Ekspor Hortikultura

Klik untuk perbesar
Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto (Foto: IG @airlanggahartarto)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah berupaya menggenjot nilai ekspor tahun ini. Yang bakal menjadi konsentrasi adalah ekspor hortikultura. MenteriP erindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto meminta semua pihak untuk tidak pesimistis memandang neraca perdagangan tahun 2019. Pihaknya akan tetap berusaha mendorong peningkatan ekspor pada tahun ini. Untuk jangka pendek, pihaknya bakal menggenjot bisnis hortikultura ketimbang industri manufaktur. 

“Kita tak perlu khawatir di Tahun 2019 karena tahun sebelum-sebelumnya kita sudah mengalami tantangan yang cukup kuat,” kata Airlangga saat ditemui Rakyat Merdeka di sela acara Outlook Perekonomian Indonesia 2019 di Jakarta, kemarin.  Airlangga menegaskan, alasannya menggenjot bisnis hortikultura karena memiliki potensi yang besar dan lebih mudah ketimbang manufaktur. 

Dia bilang, peningkatan ekspor produk manufaktur tidak bisa dilakukan secara instan, karena pabrik memiliki keterbatasan kapasitas.  Untuk itu, dalam jangka pendek, Kemenperin bakal mendorong peningkatan ekspor di sektor agro, yakni produk hortikultura. Misalnya, buah kaleng, hingga olahan pisang cavendish. 

“Kami sudah membuat kawasan industri hortikultura. Jadi, ini quick win yang diminta Pak Menko Perekonomian Darmin Nasution untuk meningkatkan ekspor,” ujar Airlangga.  Dia mengumumkan, salah satu pengembangan yang sudah dilaksanakan adalah kawasan hortikultura di Lampung. Daerah ini telah menghasilkan tanaman buah yang diolah dalam bentuk kalengan untuk dijual ke negara lain. “Utamanya, buah nanas dan pisang,” katanya. 

Selain itu, produk lain yang potensial untuk ditingkatkan ekspornya dalam waktu dekat yakni perhiasan dan olahan ikan.  Subsektor perhiasan dan permata diketahui sudah menghasilkan kinerja yang baik dengan mengalami pertumbuhan nilai paling besar untuk ekspor pada Oktober 2018. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor ini tumbuh sebesar 82,24 persen dengan nilai 294,1 juta dolar AS. 

Selain itu, Airlangga menambahkan, sektor perikanan juga memiliki potensi mengingat Indonesia mempunyai luas perairan lebih besar dibanding dengan daratan. Potensi nilai manufakturnya dapat besar untuk diolah dan dikirim ke luar negeri. “Tapi, tentu ada kendala dalam ketersediaan bahan pengolah,” tuturnya. 

Bahan Baku Melimpah 
Dalam peta jalan industri 4.0, Kemenperin memiliki target di sektor industri makanan dan minuman. Yakni, menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industri makanan dan minuman di dunia. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah memaksimalkan olahan buah dan sayuran pada tiga hingga lima tahun ke depan. Tujuan utamanya, mengurangi ketergantungan impor bahan baku produk pertanian sehingga mampu meningkatkan efisiensi di seluruh rantai nilai industri melalui penerapan Industri 4.0. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis, ada sumber daya alam (SDA) yang belum tereksploitasi dengan baik. Di antaranya kayu dan produk olahan kayu maupun perikanan. “Terus terang, kita masih agak tertinggal untuk olahan SDA-SDA ini,” katanya. 

Menurut Darmin, kayu dan perikanan saat ini belum terkelola dengan baik. Padahal, dua sektor ini dinilainya mampu mendorong daya saing Indonesia di pasar internasional. Apalagi, ketersediaan bahan bakunya melimpah, sehingga mudah didapatkan. 

Darmin mengakui, Indonesia memang tengah dihadapkan dengan persoalan pertumbuhan ekspor yang tidak setinggi pertumbuhan impor. Hal ini menjadi salah satu penyebab melebarnya defisit transaksi berjalan Indonesia pada tahun lalu.  [JAR]

RM Video