Ojek Online Berebut Pasar

UMKM Girang Omzet Naik 88 Persen

Klik untuk perbesar
Ojek online mengantar pesanan lewat aplikasi GoFood. UMKM ikut untung. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Persaingan layanan pesan-antar (delivery) makanan minuman (mamin) lewat ojek online, seperti Gojek dan Grab kian sengit. Di tengah persaingan keduanya, justru membawa berkah bagi merchant yang merupakan pelaku UMKM. Omzet mereka rata-rata bisa naik lima kali lipat hanya lewat pemesanan ojek online.

Saat ini, Gojek masih menjadi leader lewat layanan Go-Foodnya. Namun Grab pantang menyerah. Meski telat, Grab juga membuat layanan serupa yang dinamakan GrabFood. Sepanjang 2018, Go-Food telah mengirim sebanyak 500 juta makanan dan minuman di seluruh Indonesia, dengan total transaksi (gross transaction value/GTV) mencapai 2 miliar dolar Amerika Serikat (Rp 27,95 triliun). Sementara pesaingnya, GrabFood, baru mampu mengirim 13 juta ayam geprek dan 1,5 juta minuman bubble tea di seluruh Indonesia.

Selanjutnya dari jumlah merchant yang dirangkul, Go-Food telah menjaring lebih dari 800 ribu UMKM, sementara GrabFood, justru baru menggaet merchant atau wirausaha mikro sebanyak 8,5 juta di 2018. Untuk kenaikan jumlah omzet, jangan ditanya. Para pelaku UMKM yang tergabung dalam GoFood mengaku omzet mereka naik hingga 60 persen.

Tak mau kalah, GrabFood juga mengklaim, UMKM yang berada di naungannya justru lebih besar lagi, dengan mencatat kenaikan omzet hingga 88 persen. Angka tersebut bukan isapan jempol. Diakui salah satu mitra GrabFood, yaitu CEO Maxx Coffee Indonesia Mehdi Zaidi. Ia bilang, sejak menjadi mitra GrabFood, omzet Maxx Coffee mengalami peningkatan pesat.

“Di luar outlet, kami bisa menjual lebih banyak lagi cup coffee lewat GrabFood. Tujuannya, agar menjangkau pelanggan yang lebih luas lagi, lebih cepat dan semakin memuaskan pelanggan,” ucap Mehdi saat ditemui Rakyat Merdeka.

Baca Juga : Pidato Jokowi Di Visi Indonesia, Yunarto: Lebih Berani


Meski persaingan kedai kopi di Indonesia cukup ketat, namun ia melihat pertumbuhan akan permintaan kopi tumbuh 20-30 persen tiap tahunnya. Artinya, ada banyak pasar yang masih bisa diraih Maxx Coffee. “Yang pasti, kalau ditanya berapa jumlah cup coffee yang laku, jelas ada ratusan lebih,” katanya, yang enggan merinci angka pastinya.

Maxx Coffee bahkan berencana membuka 20-30 gerai baru di Indonesia. Dengan begitu, gerai Maxx Coffee bisa mencapai lebih dari 100 pada akhir tahun ini. Hanya saja, dirinya belum bisa memastikan jumlah gerai yang bakal dibangun. “Karena untuk membangun gerai butuh investasi yang tidak sedikit,” ucapnya. Maxx Coffee sendiri berdiri pada 2015.

Saat ini, Maxx Coffee memiliki 88 gerai di 22 kota di Indonesia. Gerai baru tersebut pun rencananya dibangun di kota-kota yang peminat kopinya cukup tinggi. Pihaknya menyasar kota-kota seperti Bandung, Medan, Makassar, dan Surabaya.

Senada, salah satu mitra makanan yang juga ada di dua ap- likasi tersebut, adalah Warung Ayam Gepuk Pak Gembus. Sang pemilik, Rido Nurul Adityawan mengaku, hadirnya aplikasi pesan antar ojek online membawa berkah tersendiri. Pelanggan yang tadinya mau makan tapi malas antre dan penuh, kini bisa memesan lewat aplikasi.

“Kebetulan waralaba kita sudah menyebar di mana-mana, ada 281 outlet. Kalau ditotal semua, tiap hari bisa mencapai lebih dari 300 porsi. Lewat pesanan ojek online naik hingga lima kali lipat,” katanya.

Baca Juga : Kapal Tabrak Crane Pelabuhan Tanjung Emas, Kerugian Ditaksir Capai Rp 60 M

Memulai usaha sejak Oktober 2013, Rido mengumpulkan modal usaha hingga Rp 26 juta. Modal ini ia gunakan untuk membeli tenda, gerobak, kursi dan ayam. Bekas staf MNC Sky Vision ini pun akhirnya mencoba bisnis kuliner ayam pedas. Per hari, ia menjual 4,6 ton ayam dari hasil waralaba ayam gepuk Pak Gembusnya. Berkat kegigihannya, omzetnya pun meroket.


Dalam sebulan, ia mampu mencapai omzet hingga Rp 8 miliar, itu sudah termasuk dari waralaba, cabang dan penjualan lewat ojek online. “Dengan cara getok ular (word of mouth), saya mempromosikan berbagai menu dan masakan lain lewat GrabFood dan Go- Food. Selain memudahkan pelanggan untuk membeli, juga mengenalkan menu baru di situ juga efektif,” tuturnya.

Menyoal ini, Marketing Director Grab Indonesia Mediko Azwar mengatakan, tahun ini, GrabFood punya ambisi untuk menjadi pemimpin di layanan makanan dan minuman. Untuk mewujudkan hal itu, Grab pun gencar meningkatkan kemitraan UMKM.

“Setidaknya ada tiga strategi GrabFood untuk mencapai target tersebut, yakni fokus pada kualitas, kecepatan, dan berusaha menghadirkan mitra lokal yang menjadi kesukaan konsumen di Indonesia. Untuk itu, GrabFood bakal memperbanyak mitra,” ucapnya. Mediko menjelaskan, saat ini kontribusi mitra UMKM ter- hadap total transaksi GrabFood mencapai 80 persen.

“Secara nasional, ayam geprek itu favorit. Tapi setiap kota kan berbeda. Jadi bagaimana kami bekerja sama dengan mitra yang men- jadi favorit masyarakat lokal,” terangnya.

Baca Juga : Peradaban Sudah Maju, Menhan Ingatkan Kamboja Tak Gunakan Kekerasan untuk Selesaikan Masalah

Di 2018, lebih dari 13 juta ayam geprek telah diantarkan melalui GrabFood. Dari data Grab Indonesia, penduduk Ta- nah Air juga sangat menyukai minuman Bubble Tea. Sebanyak 1,5 juta Bubble Tea telah diantarkan melalui GrabFood di tahun 2018. “Selain ayam geprek dan Bubble Tea, menu makanan dan minuman lainnya yang juga banyak dipesan adalah pisang goreng madu, nasi, salteg egg chicken, sate, ayam dada, jamur geprek, makaroni kering pedas asin, dan fried chicken,” tuturnya.

Sepanjang 2018, ia menyebutkan, jumlah mitra tumbuh delapan kali lipat dibanding tahun sebelumnya, sehingga men- jadi ratusan ribu mitra. “Pendapatan mitra naik 88 persen setelah bergabung. Apalagi, transaksi GrabFood tercatat naik enam kali lipat dibanding 2017,” sebutnya.


Saat ini, GrabFood hadir di 178 kota. Sementara, layanan Grab lainnya seperti Grab Bike dan Grab Car sudah hadir di 222 kota. Mediko ingin fokus meningkatkan kualitas Grab- Food di 178 kota, lalu meluas ke wilayah lainnya yang menjadi cakupan Grab. [DWI]

RM Video