5.000 Lebih Truk Tua Beredar

Pengusaha Ngarep Diberi Insentif Di Perpajakan

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengusaha logistik sampai sekarang masih banyak yang menggunakan truk tua. Jumlahnya mencapai 5.000 hingga 7.000 kendaraan. Mereka berharap, mendapat instrumen dari pemerintah, misalnya, stimulus di perpajakan untuk peremajaan truk tua.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Nofrisel mengatakan, Pemerintah mempunyai instrumen atau kebijakan yang bisa menggairahkan reinvestasi terhadap peremajaan truk-truk nasional yang dinilai sudah tua.

“Kami melihat betapa butuhnya terhadap peremajaan truktruk kita. Kami butuh instrumen dari pemerintah, misalnya stimulus di perpajakan untuk reinvestasi terhadap peremajaan truk-truk yang sudah tua,” katanya.

Nofrisel menjelaskan, kondisi truk yang sudah tua berimplikasi terhadap kenaikan total biaya logistik yang lebih mahal, dibandingkan dengan operasional menggunakan truk yang lebih perfomatif.

“Kendaraan yang kami miliki kebanyakan itu sudah agak tua, otomatis agak lambat, sepanjang jalan implikasinya butuh banyak biaya, baik orang, maupun bensin, sehingga jatuhnya lebih mahal,” kata dia.

Menurutnya, selain peremajaan, sistem logistik di Indonesia yang perlu diperbaiki adalah integrasi antarmoda transportasi baik jalur darat, laut dan udara.  Saat ini, pengiriman barang dari pelabuhan atau bandara belum bisa terkoneksi langsung dengan transportasi darat.

Berita Terkait : Pedagang Pasar Ngarep Realisasi Sistem Online Pertanian

Sebelumnya, Wakil Ketua Aptrindo, Kyatmaja Lookman juga sudah mengatakan, banyak pengusaha yang masih bertahan menggunakan truk tua. Pasalnya, apabila semakin lama memiliki kendaraan truk, maka pajaknya akan semakin turun.


“Contoh misalnya, ya tahun pertama pajak STNK-nya Rp 2 juta, lalu 10 tahun kemudian pajaknya bisa turun jadi Rp 1 juta. Akhirnya di mindset (pola pikir) orang, ongkos memiliki kendaraan tua itu murah,” ungkapnya.

Sehingga, kata dia, dampak kepada pemerintah ialah penerimaan negara tidak bisa terdongkrak akibat pajak tahunan truk yang makin lama makin menyusut.

“Makanya, Aptrindo itu mengusulkan kepada pemerintah supaya adanya pemberian insentif untuk melakukan pembaruan armada truk,” katanya.

Pemberian insentif truk baru ini, dikatakan Kyatmaja, dengan men-scrapped truk lama yang sudah acak adut dan bentuknya tidak sesuai dengan sertifikat uji tipenya.

“Karena kalau truk baru yang sudah menggunakan sumbu multiaxle akan membuat daya angkut jadi meningkat,” sambungnya.

Baca Juga : Pidato Jokowi Di Visi Indonesia, Yunarto: Lebih Berani

Insentif pembaruan armada truk juga bisa berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang bisa menggenjot penggunaan bahan bakar biodiesel, karena untuk menerapkan biodiesel diperlukan engine khusus.

“Nah, yang truk-truk tua tidak bisa memenuhi itu karena belum mengadopsi mesin yang memang untuk biodiesel. Ini sebenarnya momentum pemerintah untuk menerapkan insentif pembaruan truk,” pungkasnya.

//Merasa Mahal


Lebih jauh Nofrisel juga berharap tarif tol Trans Jawa dari Jakarta menuju Surabaya untuk kendaraan golongan V (truk dengan lima gandar atau lebih) bisa turun setidaknya 20 persen.

Penerapan tarif baru tol Trans Jawa ini berdampak signifikan terhadap biaya yang harus dibebani pengusaha. Ada pun tarif tol yang harus dibayar golongan kendaraan truk dari Jakarta-Surabaya sebesar Rp 1.382.500.

Sebelum tarif tol Trans Jawa ini ditetapkan, biaya logistik untuk jalur darat hanya sekitar Rp 500 ribu. Komponen biaya logistik melalui jalur darat berkontribusi 39 persen dari keseluruhan biaya.

Baca Juga : Kapal Tabrak Crane Pelabuhan Tanjung Emas, Kerugian Ditaksir Capai Rp 60 M

Oleh karena itu, Aptrindo menilai bahwa terjadi kenaikan dari struktur total biaya pengiriman yang mengakibatkan harga jual yang dikenakan ke konsumen lebih mahal.

Vice President Corporate Finance Jasa Marga Eka Setya Adrianto mengatakan besaran tarif tol Trans Jawa sudah dikalkulasi berdasarkan tender.

Menurutnya, jalan tol tersebut hanya salah satu opsi rute yang bisa diambil bagi pengguna kendaraan roda empat  atau lebih, tanpa kecuali pengusaha logistik.

“Kalau mereka merasa mahal, bisa lewat luar (non tol). Kalau merasa lebih menguntungkan bisa lewat dalam,” katanya di Menara BCA, Jakarta, Kamis (7/2).

Pihak Jasa Marga menilai walau kocek yang dikeluarkan lebih dalam, melalui tol Trans Jawa justru waktu tempuh berkurang sangat signifikan. Dus, dari segi produktivitas akan lebih baik karena waktu perjalanan menjadi lebih singkat dan tentunya perusahaan bisa menyeimbangkan pengeluarannya.


“Jangan dipikirin reduce cost terus tapi harus tau cara meningkatkan pendapatan, sehingga labanya naik. Waktu tempuh yang lebih cepat harusnya bisa dorong produktivitas dan arus pendapatan lebih deras sehingga tetap untung,” katanya. JAR

RM Video