Pasar Lokal Diramal Stagnan

Industri Mamin Genjot Ekspor

Klik untuk perbesar
Industri makanan minuman akan memprioritaskan pasar luar negeri. Alasannya, daya beli masyarakat dalam negeri stagnan. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Daya beli masyarakat untuk produk makanan dan minuman (Mamin) sepanjang tahun ini diprediksi tidak mengalami pertumbuhan signifikan, bahkan berpotensi stagnan. Sehingga industri lokal dianggap perlu mengincar pasar luar negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru dirilis mencatat, pertumbuhan industri Mamin mengalami perlambatan. Dalam data terbarunya, BPS menunjukkan pertumbuhan industri Mamin pada 2018 hanya sebesar 7,91 persen atau melambat dibandingkan pertumbuhan 2017 yang sebesar 9,23 persen.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman menilai, penyebab utama melambatnya pertumbuhan tersebut adalah daya beli masyarakat yang belum terdongkrak. “Itu sesuai laporan dari perusahaan ritel, dimana daya beli mengalami penurunan,” kata Adhi.

Berita Terkait : Marcus Gideon Terima SK CPNS dari Kemenpora


Naik atau turunnya bisnis Mamin akan memberi dampak langsung pada industri pengolahan nonmigas di tanah air. “Karena bisnis pada industri makanan dan minuman memiliki porsi yang besar dari keseluruhan industri pengolahan,” terang Adhi. Pengusaha sudah melakukan inovasi pada produknya. Antara lain mengeluarkan varian rasa hingga kemasan yang menarik pada berbagai produk.

Lebih jauh Adhi meminta supaya pemerintah terus meningkatkan daya beli masyarakat. Memberikan stimulus kepada masyarakat agar terangsang dan mampu untuk berbelanja. “Pemerintah bisa melakukannya. Misalnya mendorong insentif itu juga bisa menaikkan konsumsi, khususnya pada masyarakat kelas bawah,” jelasnya.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan pun mendorong pelaku industri untuk mengekspor produknya. Mengingat pasar luar negeri memiliki potensi yang baik. Adhi menegaskan, industri Mamin sudah siap jika menjadi tulang punggung ekspor nasional.

Berita Terkait : Industri Semen Genjot Ekspor

Namun dia meminta agar hambatan yang dialami pelaku usaha antara lain, seperti persoalan nontarif dan ketersediaan bahan baku kedepan tidak ada lagi. Pelaku usaha sendiri mesti melakukan proses yang ketat untuk memasarkan produk di luar negeri.


Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mendorong agar industri Mamin memperkuat pasar ekspor. Bisnis tersebut dinilai memiliki potensi besar di banyak negara. Apalagi produk dalam negeri memiliki rasa yang khas. Ia menekankan di masa mendatang, ekspor dan investasi terus jadi andalan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Regional Managing Director for Asean PT Mayora Indah Maspiyono mengungkapkan, pasar ekspor memang sangat menggiurkan. Mayora menargetkan kenaikan ekspor pada tahun ini sebesar 20 persen. Pemasaran akan difokuskan di kawasan Asean, mengingat kontribusinya mencapai 70 persen dari total ekspor Mayora.

Berita Terkait : Piala Presiden Diharapkan Jadi Contoh Turnamen Yang Transparan

“Untuk di ASEAN, sasaran kita ada di 4 negara besar ada Filipina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Pertumbuhan yang bagus dari semuanya itu masih Filipina dan Vietnam,” katanya.

Mayora memasarkan produk khas perusahaan yaitu produk kopi dan biskuit. Dua produk ini juga kuat dipasarkan di Myanmar, Kamboja dan Laos. “Pelan-pelan tapi kami sudah masuk pasar di sana. Myanmar dan Kamboja kira-kira sudah cukup lama. Kalau Laos baru tahun lalu kami masuk,” terang dia. [JAR]

RM Video