Ketimbang Impor

Sektor Otomotif Didorong Pakai Plastik Daur Ulang

Klik untuk perbesar
Menperin Airlangga Hartarto menilai pemanfaatan daur ulang plastik sangat penting untuk sektor otomotif. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mulai mendorong sektor otomotif untuk memanfaatkan plastik daur ulang untuk bahan pembuatan sebagian komponen kendaraan. Langkah ini dianggap lebih hemat, ketimbang perusahaan membeli plastik baru dari luar negeri.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menilai, pemanfaatan daur ulang plastik dalam negeri sangat penting. Hal itu bisa menekan biaya produksi perusahaan. Jika industri otomotif menggunakan virgin plastic, maka biaya produksi akan lebih mahal. “Apalagi dengan impor virgin plastic, kebutuhan devisa akan menjadi lebih tinggi,” jelas Airlangga dalam keterangannya, kemarin.

Jika pembuatan kendaraan sudah bisa memanfaatkan produk daur ulang plastik, maka bisa jadi akan memotivasi kinerja industri daur ulang. Untuk diketahui, sekarang ini Indonesia baru mampu memproduksi satu juta ton virgin plastic, padahal kebutuhan bisa mencapai lima juta ton.

“Circular economy itu penting, karena akan menjadi kunci daya saing industri ke depan, semakin banyak recycle industry, semakin kompetitif,” tegasnya.

Baca Juga : Pulang Kampung, Sarri Siap Arsiteki AS Roma

Karena itu, Menperin mengajak para pelaku industri otomotif nasional agar terus meningkatkan daya saingnya, dengan bersinergi mengusung ekonomi berkelanjutan melalui daur ulang. Salah satunya plastic recycle. Tren saat ini, komponen besar dalam kendaraan seperti, bumper, fender, dan dashboard pada mobil tidak lagi menggunakan stainless steel, tetapi menggu- nakan kandungan plastik.

“Plastik itu bukan sampah, dari segi cost plastik adalah bahan baku yang relatif lebih kompetitif dibanding yang lain, dan menyerap emisi lebih rendah,” kata Airlangga.

Dia menegaskan lagi, konsep tersebut mampu mendongkrak daya saing ekspor manufaktur tanah air, sekaligus bisa berkontribusi dalam menerapkan circular economy yang menjadi bagian dari industri 4.0. “Sekarang 73 persen ekspor kita ditopang dari industri manufaktur dan sektor otomotif menjadi salah satu andalan,” ucapnya.

Ekspor sektor otomotif diperkirakan jumlahnya terus naik seiring rencana diterapkannya kebijakan fiskal, seperti harmonisasi tarif dan revisi besaran Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Meski demikian, Menperin mengungkapkan, kapasitas daur ulang plastik di tanah air masih jauh dari standar.

Baca Juga : Titiek Soeharto Sampai Fadli Zon Ramaikan Munajat 212

Standar yang ada kata dia masih bisa ditingkatkan lagi. Saat ini, di dalam negeri baru mampu mendaur ulang 12,5 persen dari standar industri yang seharusnya yakni 25 persen. "Perlu untuk mendorong imple- mentasi industri daur ulang (recycle industry) untuk sektor otomotif,”

Salah satu implementasi industri daur ulang di sektor otomotif yang sudah berjalan adalah pembuatan blok mesin, 80 persen sudah menggunakan material daur ulang. “Karena aluminum alloy itu masuk recycle material, saya tegaskan kembali bahwa recycle industry ini adalah sesuatu yang harus dilakukan, jadi tidak perlu khawatir,” ujar Airlangga.

Vice Chairwoman Indonesia Plastic Recycles (IPR), Amelia Maran berharap pemerintah serius mendukung industri daur ulang. Dia menilai, manfaat industri daur ulang ini sangat besar. Tidak hanya industri tapi juga bagi pemerintah. Karena dengan pertumbuhan in- dustri daur ulang plastik, maka secara langsung ataupun tidak, telah membantu pemerintah mengolah produk yang tadinya tak terpakai. Jadi, barang yang sudah no-value, di industri ini bisa disulap menjadi value added product.

“Otomatis, permasalahan pemerintah tentang sampah terbantu. Industri ini seperti ‘Unsung Hero’, tidak terlihat bagus tapi sebenarnya langsung kepada penyelesaian masalah sampah. Bayangkan apabila tanpa industri daur ulang plastik, berapa banyak sampah yang akan menumpuk?” jelasnya.

Baca Juga : Mandalika Diusulkan Jadi Destinasi Wisata Olahraga

IPR berharap agar pemerintahann, baik di pusat maupun di daerah dapat bersinergi untuk membantu industri daur ulang plastik ini berkembang ke depannya. “IPR juga berharap agar pe- merintah memberikan insentif kepada Pemda yang mendukung pemakaian produk produk daur ulang plastik,” katanya. [JAR]

RM Video