Boeing Larang Terbang Semua Pesawat 737 Max 8

Lion Air Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Klik untuk perbesar
Pesawat Lion Air

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sungguh malang nasib maskapai Lion Air. Disaat bisnis penerbangan Tanah Air lagi sepi, 10 pesawatnya, Boeing 737 Max 8 dilarang terbang untuk dilakukan investigasi terkait masalah keamanan. Nasib Lion sudah jatuh ketimpa tangga pula.  

Kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 milik Ethiopian Airline berbuntut panjang. Banyak negara yang melarang penerbangan pesawat tersebut, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat. Boeing pun memutuskan melarang semua pesawat 737 Max 8 terbang.

Lion Air menjadi perusahaan penerbangan lokal yang paling terdampak akibat pelarangan ini. Pasalnya, maskapai berlambang Singa itu paling banyak memiliki armada berbasis Boeing 737 MAX 8.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan, saat ini Lion Air mengoperasikan sepuluh pesawat Boeing 737 MAX 8. Pesawat-pesawat ini digunakan untuk beberapa rute domestik dan beberapa international.

"Agar tidak menggangu operasional perusahaan, Lion Air sudah mengganti 10 Boeing 737  Max 8 yang dilarang terbang dengan pesawat Lion Air lainnya," kata Danang kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berita Terkait : Lion Air Group Gelar Pelatihan Penanggulangan Tanggap Darurat

Menurut dia, dalam pengoperasian pesawat, Lion Air mengutamakan prinsip keselamatan dan keamanan penerbangan, di mana seluruh pelatihan awak pesawat yang diwajibkan serta perawatan pesawat yang sudah ditetapkan dilaksanakan secara konsisten. Upaya ini dilakukan dalam rangka memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan.

"Kami juga melaksanakan standar operasional prosedur pengoperasian pesawat udara sesuai dengan aturan dan petunjuk dari pabrik pembuat pesawat, termasuk pemeliharaan pesawat, pengecekan komponen pesawat, dan pelatihan awak pesawat," tegasnya.

Managing Directors Maintenance Lion Air Moch Rusli memastikan tidak ada kerugian besar dengan dikandangkannya 10 pesawat jenis MAX 8 milik mereka. Namun, diakuinya bahwa delay penerbangan pasti ada.

"Delay pasti ada, tapi kita bisa manage karena harus mematuhi apa yang ada di Peraturan Menteri (PM) Perhubungan tentang delay management. Dari sisi komersial nanti kita support dengan pesawat yang stand by di luar MAX 8, untuk mem-backup operasional kita," kata Rusli.


Nantinya pengalihan akan disesuaikan dengan ketersediaan pesawat yang standby. "Jadi nanti disesuaikan dengan ketersediaan pesawat di berbagai bandara," tambahnya.

Berita Terkait : Pembawa Anjing Ke Dalam Masjid Jadi Tersangka

Managing Director Lion Air Group Capt Daniel Putut Kuncoro mengatakan, Lion Air Group juga memutuskan untuk menunda kedatangan dan pesanan sekitar 200-an pesawat jenis Boeing 737 Max 8 yang saat ini dipesan ke pabrikan Boeing. Pihaknya menunda sampai pesawat jenis tersebut benar-benar dinyatakan aman.

"Suspend delivery pesawat memang kita tunggu sampai investigasi selesai. Sampai kita dapat jaminan 737-MAX 8 dinyatakan aman," kata Adi.

Dia mengatakan, Lion Air sendiri memesan 222 pesawat untuk Boeing 737 MAX 8 dengan nilai pesanan mencapai 22 miliar dolar AS. Semua pesawat itu akan didatangkan bertahap hingga tahun 2035. "Pesanan 222 pesawat itu tipenya campur, antara MAX 8 dan 9," tambahnya.

Hal senada dilakukan Garuda Indonesia. Perseroan membatalkan pemesanan 49 unit pesawat Boeing 737 Max 8. Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, sedianya, 49 pesawat itu akan mendarat ke Indonesia secara berkala mulai 2020 hingga 2030. Garuda mencatat, satu pesawat dijadwalkan datang pada Juni 2020.

"Garuda Indonesia telah berkomunikasi dengan Boeing terkait pembatalan pemesanan tersebut dengan alasan khawatir terhadap keselamatan penumpang," ujarnya Ari-sapaan akrab Askhara.

Berita Terkait : Soal Pencabutan Larangan Terbang Boeing 737 Max 8, Kemenhub Tunggu FAA

Saat ini, Garuda telah memiliki satu unit Boeing 737 Max 8. Pesawat itu terbang untuk mengangkut penumpang dari Indonesia menuju Hong Kong dan Singapura atau sebaliknya.

Pengamat Penerbangan Arista Atmajati mengungkapkan keuangan Lion Air Grup berpotensi semakin cekak karena tak bisa mengoperasikan pesawat Boeing 737 Max 8. Apalagi, jika pelarangan ini dilakukan dalam waktu berbulan-bulan. Ditambah sedang lesunya penumpang pesawat.

"Mungkin ini bisa mendorong kerugian lagi, ini kan kacau juga sebenarnya. Padahal maskapai penerbangan mau mulai perbaikan tahun ini. Lion sudah jatuh tertimpa tangga," ujarnya.

Menurut Arista, Lion Air banyak memanfaatkan pesawat Boeing jenis 737 Max 8 untuk penerbangan domestik. Namun, tak menutup kemungkinan satu sampai dua rute internasional juga dilayani dengan Boeing 737 Max 8. [NOV]