Kharisma Bunda Maria dalam Sapuan Kuas Maestro Basoeki Abdullah Muda

Klik untuk perbesar
Pastor Kepala Aqua Viva Romo Jan Bentvelzen SJ bersama Dubes RI untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja, yang tengah serius memperhatikan lukisan Bunda Maria di Nijmegen, Belanda, Selasa (11/6). (Foto: KBRI Den Haag)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, tertegun lama di depan lukisan Bunda Maria gaya Jawa, yang bersandar di tembok salah satu ruangan di bangunan megah Aqua Viva, tempat tinggal bagi pastor-pastor Serikat Yesus (SJ) yang sudah berusia lanjut di Nijmegen, Selasa (11/6).

Dalam lukisan itu, Bunda Maria digambarkan dengan paras ayu khas wanita Jawa, mengenakan kain parang rusak, kebaya beludru warna gelap, dan dilengkapi dengan bros dan giwang yang lazim digunakan wanita bangsawan Jawa, serta kerudung dan selendang berwarna putih.

Lukisan yang sangat agung tersebut menggambarkan Bunda Maria yang tengah terangkat ke surga, melayang di atas Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, dilingkupi awan serta sinar lembut berwarna-warni, yang juga memancar dari kedua telapak tangan dan kakinya. Seolah meninggalkan berkatnya untuk dunia.

"Lukisan ini sarat dengan makna, dan seperti tengah berbicara dengan kita, bahwa terdapat kesatuan yang tidak terpisahkan antara kekuatan Ilahi, alam, dan kita sebagai manusia di dalamnya,” ucap Duta Besar Puja.

Lukisan ini juga terasa “sangat Indonesia” dengan hamparan teras-teras sawah, hutan, aliran sungai dan juga pohon kelapa. Mengesankan bahwa Bunda Maria tengah memberkati Indonesia. Lukisan Bunda Maria terangkat ke surga (Maria Assumpta) berbalut busana Jawa tersebut merupakan karya pelukis ternama Basoeki Abdullah pada tahun 1935, saat Sang Maestro masih berusia sangat belia, 20 tahun.

Berita Terkait : Gaet Turis Belanda Lewat Tong Tong Fair


Romo Jan Bentvelzen SJ yang menerima kunjungan Duta Besar RI ke Aqua Viva menjelaskan bahwa lukisan tersebut dibuat oleh Basoeki Abdullah, pada waktu menempuh studi di Belanda.

Saat menjalani studi tersebut, Basoeki Abdullah muda mendapatkan banyak dukungan dari pastor-pastor Jesuit di Nijmegen. Lukisan Maria Assumpta inilah yang kemudian dilukis oleh Sang Maestro, sebagai tanda terima kasihnya untuk pastor-pastor Jesuit tersebut.

Romo Jan Bentvelzen SJ yang merupakan pastor kepala di Aqua Viva, juga menjelaskan bahwa sepengetahuannya, paling tidak terdapat dua lagi versi lukisan Maria gaya Jawa karya Basoeki Abdullah, yang terlihat sangat mirip dengan lukisan yang terdapat di Aqua Viva.

Romo Bentvelzen SJ menunjukkan dua repro kedua lukisan yang dimaksudkannya. Salah satunya terdapat seekor ular raksasa yang melilit salah satu gunung. Sementara di lukisan lain yang lebih kental dengan nuansa keimanan Katolik, menyertakan unsur Tri Tunggal di dalamnya.

Salinan lukisan-lukisan tersebut pada tahun 1940-an juga telah dicetak oleh kalangan Jesuit di Belanda, dan digunakan untuk berbagai media di kalangan umat Katolik. Misalnya, kalender rohani dan lembaran media doa.

Berita Terkait : KBRI Den Haag Dorong Kewirausahaan Diaspora Wanita Indonesia di Belanda  

Lebih lanjut, Romo Jan Bentvelzen SJ yang juga didampingi Romo Dr. Eduard Kimman SJ, juga menjelaskan bahwa setelah dihadiahkan oleh Basoeki Abdullah, lukisan Maria Assumpta ini sebelumnya disimpan di bangunan lama milik pastor-pastor SJ, Collegium Berchmanianum.


Namun, mengingat bangunan tersebut kemudian beralih fungsi beberapa kali, hingga saat ini digunakan sebagai salah satu bangunan Universitas Radboud, lukisan tersebut selanjutnya sempat dititipkan ke Museum Nijmegen. Di museum tersebut, lukisan itu disimpan untuk beberapa lama, dan dipamerkan secara berkala.

Seiring waktu, Museum Nijmegen memandang bahwa lukisan ini merupakan milik Jesuit, dan tidak terdapat keterikatan langsung dengan kota Nijmegen. Hingga kemudian dikembalikan kepada pastor-pastor Jesuit di Nijmegen. Untuk sementara ini, lukisan tersebut disimpan di Aqua Viva yang dibangun pada tahun 1997. 

Kedua pastor Jesuit ini juga menjelaskan, beberapa waktu lalu, mereka telah menerima permintaan dari pihak museum di Belanda, yang ingin memamerkan lukisan Maria Assumpta di museum paling bergengsi di Belanda, Rijksmuseum Amsterdam, pada tahun depan.

Mereka berharap, dengan dipamerkannya lukisan tersebut, lukisan-lukisan Maria Assumpta karya Basoeki Abdullah dengan versi lain, akan diketahui keberadaannya. Selain menjelaskan soal lukisan Maria Assumpta karya Basoeki Abdullah tersebut, Romo Jan Bentvelzen SJ dan Romo Dr. Eduard Kimman SJ juga menyampaikan bahwa selain mereka berdua, di Aqua Viva saat ini terdapat tiga pastor senior yang pernah menghabiskan waktu lama di Indonesia.

Baca Juga : Maraton, Garap Sejumlah Rektor UIN Selama 2 Hari

Termasuk, dua pastor yang cukup dikenal di kalangan umat Katolik di Indonesia, yaitu Romo Ernst Bolsius SJ, yang sebelumnya merupakan pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan Romo J. Vossen Waskita SJ, yang pernah berkarya di berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti Seminari Mertoyudan dan Gereja Kidul Loji Yogyakarta.

Romo J Vossen yang pernah mengurus penerbitan majalah Utusan, hingga saat ini masih berkewarganegaraan Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, Romo J Vossen juga turut bergabung menerima kunjungan Dubes Puja.


Saat berpamitan, pastor-pastor tersebut menyampaikan bahwa mereka bahagia, karena lukisan Maria Assumpta karya Basoeki Abdullah telah menarik perhatian banyak kalangan di Indonesia. Sehingga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Nijmegen. Hal ini cukup mengobati kerinduan mereka akan Indonesia, dan bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. [HES]

RM Video