Wawancara Khusus Dengan Dubes RI Untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Rahmat Pramono

Kita Terus Promosikan Hal-hal Yang Khas dan Baru

Klik untuk perbesar
Rahmat Pramono

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di sela-sela menghadiri perhelatan Astana Economic Forum (AEF) Mei lalu di ibukota Kazakhstan, Nur-Sultan, untuk mengetahui perkembangan terakhir hubungan bilateral Indonesia-Kazakhstan, wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi mewawancarai Dubes RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Rahmat Pramono di KBRI Nur-Sultan Sabtu (18/5). Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan hubungan bilateral kedua negara sejauh ini? 
Sekadar background, kita mengakui kemerdekaan Kazakhstan itu hanya dua minggu setelah Kazakhstan lepas dari Uni Soviet pada 16 Desember 1991. Jadi kita termasuk yang pertama mengakui eksistensi Kazakhstan. 

Namun baru pada 1993 kita resmi membuka hubungan diplomatik. Awalnya, dipegang oleh KBRI Moskow. Lalu pada 2007 oleh KBRI Uzbekistan. Baru pada 2011 Indonesia membuka kedutaan secara resmi di Kazakhstan. Namun dubesnya sendiri baru tiba pada 2012.

Lalu bagaimana perkembangan investasi kedua negara?
Dari visi politik, kita sama dengan Kazakhstan. Terkait hubungan regional, internasional, peace building. Hingga urusan nuklir, kita sama-sama anti nuklir.

Namun secara ekonomi, tantangan terbesarnya adalah segi logistik. Karena Kazakhstan ini kan negara landlocked country (perbatasannya terkurung negara-negara lain -red). Jadi sangat tergantung pada negara ketiga. Pelabuhan misanya, Kazakhstan nggak punya. 

Kalau misalnya mau jualan baju, tekstil, kita susah bersaing dengan China, tetangganya Kazakhstan. China tinggal lempar, sudah nyampe Kazakhstan. Barang China di Indonesia yang jauh saja sudah murah, kan? Hehe 

Baca Juga : Kemen PUPR Gandeng Kejagung

Jadi produk apa misalnya?
Harus sesuatu yang sangat spesifik dan kita memang unggul. Sejauh ini kita lebih banyak seperti bahan-bahan kimia, spare part, alat-alat elektronik. 

Dalam beberapa tahun terakhir, bagaimana trennya?
Trennya tiga tahun terakhir meningkat. Tapi kita akui, ini belum cerminan potensi kedua negara. Padahal Kazakhstan ini kan negara terbesar di Asia Tengah. Harusnya bisa lebih. Tapi karena banyak tantangannya tadi. 

Apa saja di antara upaya yang sudah dilakukan KBRI?
Kita terus melakukan promosi hal-hal yang khas dan baru. Termasuk misalnya kopi, juga jadi program pemerintah. Karena warga Kazakhstan bukan peminum kopi. Sekitar 92 persen secara tradisional, bahkan sejak ratusan tahun lalu, mereka adalah peminum teh. Itu pun jenis black tea. Sementara jenis teh hijau juga jarang, hanya kelompok tertentu saja. 

Sementara kopi, baru jadi tren belakangan saja, sebagai gaya hidup. Makanya, sejak dua tahun lalu kita masukkan kopi. Tapi baru jenis yang saset. Kita juga upayakan masuk kopi kelas premium. Meski kecil jumlahnya dibanding sasetan tadi. 

Selain itu, yang kita coba juga masukkan adalah obat-obatan. Karena sekitar 90 persen obat-obatan di Kazakhstan adalah impor. Demikian juga industri farmasi, kebanyakan masih investasi asing. Pada 15-17 Mei lalu, kita juga ikut pameran tahunan industri obat-obatan Kazakhstan di International Health Exhibition dan pertama kali punya stan. Saat ini kita sedang menjajaki agar bisa berinvestasi di sini.

Di bulan yang sama kemarin juga, kita menggelar worksop membuat dan pameran seni batik di Almaty (ibukota lama Kazakhstan). Kita menampilkan warga Kazakhstan yang sudah bisa membatik. Karena mereka sudah belajar di KBRI-KBRI di luar negeri. 

Baca Juga : Aji Santoso Ajak 3 Pemain Timnas U-19 Perkuat Tim Persebaya Junior

Ini dalam konteks memperkenalkan budaya kita. Bekerjasama dengan museum pusat di Almaty. Batik memang belum begitu dikenal di Kazakhstan. Tapi secara umum kita ingin lebih memperkenalkan lagi Indonesia. Termasuk lewat pertunjukan tari-tarian, seni musik angklung juga. 

O ya, bagaimana dengan potensi bisnis sawit di sini? 
Sawit, tidak ada halangan. Tapi harganya harus bisa pas. Memang sudah ada yang berminat menjajaki. Tapi belum ada kesepakatan. Karena di sini saingannya adalah Bunga Matahari. Namun mereka juga tidak anti kelapa sawit.

Sebagai negara landlocked, bagaimana jalur distribusi aktivitas ekspor-impor ke sini? 
Ada beberapa rute. Yang lebih dekat, dari Iran. Tapi kurang reliable. Meski bisa, namun lebih lama. Juga karena pengaruh embargo internasional terhadap Iran.

Kedua, dari China. Fasilitasnya sudah oke. Kemudahan dan perangkat pendukungnya juga sudah bagus. Jalur ini lebih cepat dari Iran. Sebagai catatan, jalan antar kota kurang bagus. 

Jalur ketiga, dari Rusia. Perlu diketahui, kawasan ini merupakan kawasan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (beranggota lima negara; Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus dan Kyrgyzstan. Juga punya Kesepakatan Zona Perdagangan Bebas dengan China, Iran dan Vietnam). Ini memudahkan lalu lintas barang. 

Bagaimana dengan negara-negara Asean yang sudah berinvestasi di Kazakhstan?
Baru ada empat. Malaysia, Thailand dan Vietnam dan Indonesia. Vietnam, mereka punya hubungan sejarah yang lebih lama, sejak era Soviet dulu. Karena sama-sama komunis. Jadi hubungan perkawanan mereka lebih dekat. Sementara Malaysia, di sini lebih dikenal dibanding Indonesia. Karena hubungan diplomatiknya lebih awal dari kita. 

Baca Juga : Bisnis Digital Telkomsel Naik 27,9 Persen

Kedua, sistem pendidikannya juga lebih awal memberi kesempatan bagi warga Kazakhstan yang mau belajar di Malaysia. Bahkan ada direct flight juga antara Kazakhstan-Malaysia. Beberapa tahun terakhir, kita juga sudah punya tiga program beasiswa untuk mahasiswa Kazakhstan, yang berminat belajar di Indonesia.

Bahkan besan Dato’ Najib Tun Razak (Perdana Menteri Malaysia 2009-2018 –red) di sini jadi menteri. Beberapa sultan dan keluarga mereka di Malasyia juga menikah dengan orang Kazakhstan.

Jadi dari segi budaya, hubungan mereka makin kuat. Dampaknya juga ke ekonominya. Furniture Malaysia misalnya, banyak di sini. Sementara Thailand, masih sedikit lebih besar dari kita. Mereka budaya kuliner lewat restorannya yang masuk ke sini.

Spa Indonesia, di sini juga sudah masuk. Terutama spa-spa dari Bali, banyak di sini. Ini negara kaya. Kita juga dorong sektor pertambangan. Tapi masih belum. Dulu penah ada Medco, juga Pak Hashim Djojohadikusumo. 

Bagaimana dengan sektor wisata?
Kita juga dorong promosikan. Tapi penduduk di sini tidak besar, hanya sekitar 18 juta jiwa. Jadi jangan disamakan dengan wisatawan China dan Rusia misalnya, yang naik daun di Indonesia. Tren wisatawannya sebenarnya meningkat. Meski angkanya tentu masih kecil. Bahkan sejak 2016 kita bebaskan visa bagi warga Kazakhstan yang mau ke Indonesia.