Peradaban Sudah Maju, Menhan Ingatkan Kamboja Tak Gunakan Kekerasan untuk Selesaikan Masalah

Klik untuk perbesar
Menhan Ryamizard Ryacudu saat Peresmian Relokasi Tugu Persahabatan Indonesia-Kamboja, di Kampong Thom, Kamboja, Sabtu (13/7). (Foto: Humas Kemhan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengingatkan Kamboja tidak menggunakan kekerasan dalam upaya menyelesaikan masalah. Sebab, selain peradaban sudah maju, pertikaian, peperangan, dan kekerasan hanya akan menghasilkan kehancuran.

"Sampai saat ini masih banyaknya negara di belahan dunia yang belum dapat merasakan indahnya perdamaian. Tapi kita semua khususnya negara di kawasan ASEAN, wajib bersyukur tak ada lagi konflik (perang). Kita semua telah berhasil menghadirkan rasa damai dan aman bagi kehidupan kemanusiaan. Kondisi ini harus terus kita pelihara bersama dengan mengembangkan adanya prinsip saling menghormati dan saling menghargai," kata Ryamizard saat meresmikan relokasi Tugu Persahabatan Indonesia-Kamboja, di Kampong Thom, Kamboja, akhir pekan kemarin, seperti keterangan tertulis, Senin (15/7).

Berita Terkait : Menhan Doakan Generasi Muda Papua Kelak Banyak Jadi Pemimpin

Mantan KSAD ini memandang, kondusifnya situasi keamanan di kawasan ASEAN tak lepas dari peran serta Kamboja. Sehingga, kemitraan dengan Indonesia dan negara anggota ASEAN ain harus tetap dibina serta dijaga dengan baik. "Modalitas persahabatan kedua negara ini juga merupakan bagian dari jaminan terciptanya rasa aman dan damai yang ada saat ini. Ini yang harus terus kita jaga bersama-sama," ujarnya.


Untuk itu, Ryamizard memastikan Indonesia akan selalu mendukung langkah-langkah yang mendorong kemajuan bagi Kamboja. Baik keinginan Kamboja untuk menjadi negara anggota ASEAN yang ke-10 (April 1999) hingga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian-Europe Meeting (ASEM) pada 2020 mendatang. Termasuk upaya dalam mewujudkan perdamaian dan stabilitas di Kamboja yang kini telah berkembang pesat, dan berhasil membawa pertumbuhan ekonominya kini rata-rata mencapai tujuh persen dalam dua dekade terakhir.

Berita Terkait : Oesman Sapta Ingatkan Generasi Muda Untuk Membangun Daerahnya

"Karena itu, atas nama Pemerintah (Indonesia) saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua unsur pemerintahan Kerajaan Kamboja. Termasuk Perwakilan RI di Kamboja, yang telah bekerja keras dalam upaya membangun kembali relokasi Tugu Persahabatan ini, ke tempat yang lebih baik, indah dan strategis," katanya.

Ryamizard mengaku senang dan bangga bisa kembali berkunjung ke Kamboja. Khususnya ke Kampong Thom yang pernah ia singgahi saat bertugas di Kamboja sebagai Komandan Kontingen Garuda XII-B pada tahun 1992. "Bagi saya datang ke Kampong Thom serasa seperti pulang ke kampung halaman sendiri. Dan saya bangga kondisinya sekarang telah jauh berbeda dengan saat saya bertugas di sini. Sekarang sudah jadi kawasan yang sangat modern, maju, dan damai," ujarnya.

Berita Terkait : Baladhika Karya: Munas Golkar Diperlukan untuk Segarkan Mesin Partai

Hubungan antara kedua negara secara historis telah terjalin dengan baik sejak lama oleh Presiden RI Soekarno dan Raja Norodom Sihanouk, khususnya dalam proses tercapainya perdamaian dan rekonsiliasi di Kamboja melalui peran Indonesia dalam memfasilitasi penyelenggaraan Jakarta Informal Meeting (JIM) I di Bogor (5-28 Juli 1988) dan JIM II pada 19-21 Februari 1989 di Jakarta, hingga tercapainya Paris Peace Agreement tahun 1991. Menurut Ryamizard, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Tugu persahabatan ini mengandung makna sejarah yang mendalam bagi persahabatan kedua negara. 


"Tugu ini menjadi simbol kedekatan kedua negara, yang harus kita lestarikan bersama dan kiranya diteruskan oleh generasi-generasi selanjutnya, agar persabatan kedua bangsa tetap abadi," ujarnya. [DNU]