Beri Suaka Untuk Demonstran Hong Kong

Taiwan Berani Kangkangi China

Massa pro demokrasi memaksa masuk ke gedung legislatif Hong Kong 1 Juli lalu. (Foto : Bloomberg/ Tony Wong).
Klik untuk perbesar
Massa pro demokrasi memaksa masuk ke gedung legislatif Hong Kong 1 Juli lalu. (Foto : Bloomberg/ Tony Wong).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tiga puluh demonstran Hong Kong telah mendarat di Taiwan, sementara 30 lainnya akan mengikuti jejak temannya. Demikian dilansir CNA, orang-orang yang membantu pengunjuk rasa itu.

Aktivis yang melarikan diri adalah bagian dari kelompok yang beraksi di parlemen 1 Juli yang rusuh. Orang-orang yang membantu para pengunjuk rasa mengatakan kepada surat kabar, mereka telah melakukan kontak dengan Dewan Urusan Daratan Taiwan, yang menangani hubungan pulau itu dengan Beijing, untuk mencari bantuan.

Berita Terkait : Di Hong Kong, Virus Corona Makan Korban Lagi

Pemberian suaka ini mendapat sinyal positif dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Dalam turnya di Karibia, Presiden Tsai menyatakan akan membahas pemberian suaka atas dasar kemanusiaan.

Namun, Wakil Menteri Imigrasi Taiwan, Chiu Chui-cheng, mengatakan pihaknya belum menerima permintaan suaka resmi dari Badan Imigrasi Nasional Taiwan. Chiu mengatakan, jika Taiwan sudah menerima permintaan suaka tersebut, otoritas akan memprosesnya sesuai dengan regulasi yang ada dan berdasarkan pertimbangan perlindungan hak asasi manusia.

Baca Juga : Geger Anjani Hamil Dan Corona

Kondisi di Hong Kong, sejak dibahasnya Rancangan Undang- Undang ekstradisi, terus kacau. Aksi demo rutin dilakukan massa pro demokrasi.

Tsai sudah meminta otoritas Hong Kong untuk mendengarkan aspirasi warga. Namun, keputusan yang diambil pemerintah Hong Kong masih belum memuaskan rakyat. Tsai menyebut campur tangan China dalam pemerintahan Hong Kong sebagai upaya merusak demokrasi pemerintahan pulau yang menjalankan otonomi.

Baca Juga : Virus Kambing Hitam

Sebelumnya, Presiden China Xi Jinping juga sempat mengajukan kebijakan serupa RUU ekstradisi diberlakukan di Taiwan, namun Tsai menolak tegas kebijakan tersebut. Selama ini, China menganggap Taiwan dan Hong Kong sebagai daerah otonom yang masih menjadi bagian dari kedaulatan negaranya di bawah prinsip “Satu China.” [DAY]