Terancam Nyawanya, Demonstran Hong Kong Minta Bantuan Amerika

Klik untuk perbesar
Para demonstran Hong Kong memenuhi jalanan utama (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hong Kong kian memanas. Pemerintah Hong Kong dan China kehabisan kesabaran. Mereka mulai menindak tegas dan menangkap para demonstran. Merasa terancam nyawanya, para demonstran minta bantuan Amerika dan Inggris.

Lebih dari sepekan, para demonstran yang kebanyakan pelajar dan pekerja ini menggelar demo menolak RUU Ekstradisi. Lebih dari 450 aktivis tertangkap. Tapi jumlah massa terus bertambah. Setelah sempat menguasai bandara selama dua hari, 12-13 Agustus, titik api bergeser ke taman Charter Garder. Di sana para demonstran berkumpul, dan berorasi. 

“Pengunjuk rasa meminta AS dan Inggris mengenakan sanksi kepada orang-orang yang dianggap bertanggung jawab dan terlibat menekan hak-hak dan kebebasan di Hong Kong,” begitu dilansir Channel News Asia, kemarin.

Berita Terkait : Eksportir Tertarik Kembangkan Beras Ketan Hitam Bandung

Kepada Inggris, pengunjuk rasa berharap Inggris berani menindak China karena telah melanggar Deklarasi Bersama Sino–Inggris 1984. Perjanjian ini menjadi cetak biru mengenai cara memerintah Hong Kong setelah dikembalikan Inggris ke China pada 1997.

Menanggapi hal itu, pemerintah China menilai, perjanjian itu sebagai dokumen sejarah yang tidak lagi memiliki aplikasi praktis yang kuat. Negeri Tirai Bambu itu pun sudah siap-siap menindak para demonstran karena telah mengancam keamanan Hong Kong.  


Untuk menakut-nakuti para demonstran, Negeri Komunis itu juga melakukan psywar berupa latihan penggunaan garpu setrum raksasa untuk mengusir massa. Latihan itu digelar di kota Shenzhen di seberang Hong Kong. Caranya sadis, para polisi terlihat menggunakan perangkat garpu raksasa untuk menjepit demonstran ke tanah. Perangkat ini berwujud tiang setinggi 8 kaki dengan cabang berbentuk huruf U di atasnya.

Berita Terkait : Kementan Mantapkan Kawasan Mangga Arummanis Rembang

Apakah psywar itu berhasil? Tidak. Seribu guru justru turun ke jalan mengikuti jejak murid-muridnya. Menentang pemerintah. Yu, salah satu guru mengamini ikut aksi mendukung para siswanya. "Saya sangat mengapresiasi keberanian dan kepedulian mereka terhadap Hong Kong. Mereka benar-benar lebih berani ketimbang pemerintah kami," ujar Yu kepada AFP. 

Berbeda dengan sejumlah aksi massa yang berujung ricuh dalam beberapa pekan belakangan, demonstrasi guru ini sudah mendapatkan izin dan berjalan damai. Titik aksi pun berbeda dengan aksi massa ricuh. Para guru berkumpul di distrik bisnis Central dan bergerak ke rumah dinas pemimpin Hong Kong, Carrie Lam.

Sekalipun beda titik, mereka mendesak kepolisian tidak represif terhadap para pelajar. Menurut dia, polisi melakukan kekerasan berupa menembakkan gas air mata, melemparkan granat, hingga melakukan pemukulan terhadap demonstran untuk membubarkan massa.

Berita Terkait : Demonstran Minta Amerika Bebasin Hong Kong Dari China

"Kepolisian Hong Kong paham hukum. Mereka melanggar hukum!" teriak para guru.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Presiden China Xi Jinping bisa menyelesaikan krisis yang terjadi di Hong Kong. "Saya tidak punya keraguan sedikit pun jika Presiden Xi Jinping ingin menyelesaikan krisis Hong Kong secara cepat dan manusiawi, dia bisa melakukannya," kata Trump seperti dikutip AFP


Rangkaian demonstrasi ini sudah bermula sejak dua bulan lalu. Awalnya, para demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China. Demonstrasi itu pun berkembang dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari China. [BSH]