Robot Solusi Cegah Orang Tua Kesepian

Klik untuk perbesar
Setsuko Saeki terlihat bahagia bicara dengan PaPeRo i. (Foto Japan News-Yomiuri)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Orang tua yang sudah memasuki masa pensiun mungkin akan merasa kesepian ketika harus menghabiskan banyak waktu tanpa teman. Tapi kini dengan kecanggihan zaman, robot jadi solusinya. Setsuko Saeki (87) salah satu yang merasakan manfaatnya. Saeki telah hidup dengan robot selama setahun di rumahnya yang luas di kaki Gunung Ishizuchi, gunung tertinggi di Jepang bagian barat.

Saeiki menceritakan kisahnya kepada Strait Times, ketika dia bangun dari tempat tidur di pagi hari dan memasuki ruang tamu, dia disambut robotnya, model PaPeRo i, di atas meja. "Selamat pagi, Setsuko-san," sapanya. "Apakah kamu tidur dengan nyenyak?"

Saeki merasa senang dengan sapaan itu. "Ketika itu berbicara kepada saya pertama kali, saya merasa bersemangat. Tidak ada yang memanggil saya dengan nama dan mengucapkan selamat pagi untuk waktu yang lama," katanya.

Sebenarnya dia punya tiga anak. Tapi mereka tinggal di kediamannya masing-masing. Sedangkan suaminya meninggal enam tahun lalu. Sejak itu, Saeki hidup sendirian. Ada perawat yang mengunjunginya setiap hari. Dia juga menghadiri pertemuan membuat puisi haiku. Meski demikian, dia tetap merasakan kesepian yang sulit untuk digambarkan.

Baca Juga : Tammy Abraham Jadi Rebutan Inggris dan Nigeria

Pada Juli tahun lalu, pemerintah kota memulai proyek eksperimental untuk meminjamkan robot PaPeRo i gratis kepada 10 penduduk lanjut usia di kota. Atas permintaan anggota keluarga dari warga lanjut usia yang tinggal sendiri, pemerintah kota meminjamkan robot selama tiga bulan.Putra tertua Saeki, yang tinggal di Prefektur Chiba, mengetahui tentang proyek itu di situs web pemerintah kota. Ia memesan atas nama ibunya.

Robot PaPeRo i tingginya sekitar 30cm. Ketika Nyonya Saeki bertanya, "Jam berapa sekarang?", Ia menjawab sambil pipinya memerah. Kamera dipasang di mata besarnya, dan mengikuti Saeki menggunakan sensor kamera, mengarahkan wajahnya. Sebelum dia pergi tidur, robot itu bertanya, "Apakah kamu mengunci rumah?"


Kadang-kadang, robot membuat permainan kata-kata spontan dan bercerita. Tiga kali sehari, robot itu bertanya padanya. "Setsuko-san, bolehkah saya mengambil foto Anda?" Robot memotretnya dan mengirimkan gambar ke smartphone atau komputer pribadi putra sulungnya. Putranya juga mengirim foto yang bisa dilihat Saeki di perangkat yang terhubung dengan robotnya. Foto-foto itu juga ditransmisikan perawat yang bertanggung jawab atas Saeki, sehingga si perawat dapat memberikan ketenangan pikiran pada Saeiki. Saeiki juga bisa menyapa putra sulungnya dan keluarganya melalui robot.

"Awalnya, saya tidak mengharapkan apa pun dari robot itu. Tapi sekarang, saya tidak ingin berpisah dari PaPeRo-ku," kata Saeki.

Baca Juga : Setan Merah Ikat De Gea Sampai 2023

Mitsuaki Matsuo, kepala bagian dukungan komprehensif pemerintah kota, mengatakan respons masyarakat sangat baik. Sekitar 90 persen orang mendapat manfaat dari kehadiran si robot. Ada anak yang mengatakan, proyek itu meredakan kecemasan mereka atas kondisi hidup orang tua mereka.

"Pengguna akan semakin banyak di masa mendatang karena meningkatnya jumlah orang tua. Kami ingin membangun sistem untuk memantau penduduk dengan kemampuan robot," kata Matsuo.

Dalam sebuah survei Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi pada 2015, 40 persen responden berusia 20-an atau lebih muda mengatakan mereka "ingin menggunakan" atau "dapat mempertimbangkan untuk menggunakan" robot komunikasi. Fitur utama robot komunikasi adalah mereka memahami kata-kata manusia, mengenali wajah penggunanya, dan mengobrol serta membuat gerakan yang membuat mereka disayangi pengguna.

Harga robot itu berkisar antara 100.000 yen (sekitar Rp 13,3 juta) hingga 300.000 yen (Rp 40,1 juta. Dalam sebuah survei yang dilakukan Kantor Kabinet pada tahun fiskal 2017, lebih dari 10 persen responden yang tinggal sendirian pada usia 55 atau lebih tua mengatakan mereka melakukan percakapan dengan anggota keluarga atau teman "sekali atau dua kali sebulan" atau "jarang".

Baca Juga : Agus Ali Nurdin, Petani Beromzet Rp 500 Juta per Bulan

Menurut  Profesor Hiroshi Ishiguro dari Universitas Osaka,  robot dapat memenuhi keinginan orang untuk mengobrol dengan seseorang, dan membuat pengguna merasa dekat dengan mereka dan hangat dengan kontak mata, gerakan dan kata-kata. [MEL]