Tanggapi Serangan Ke Aramco, Trump Siapkan Senjata

Klik untuk perbesar
Kondisi fasilitas Aramco yang diserang drone pada Sabtu (14/9) pagi . (Foto: WAM Report/ Hasan Bashir).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan AS sudah menyiapkan senjata sebagai respons serangan ke fasilitas minyak bumi milik Arab Saudi, Aramco, pada Sabtu pagi (14/9).

"Ada alasan kuat kita tahu siapa dalang serangan kemarin. Kita sudah siap sedia senjata, tergantung pada kepastian penyidikan. Kita tengah menunggu pernyataan Kerajaau Arab Saudi mengenai siapa dalang serangan dan bagaimana kita akan menanggapi kabar tersebut," kicau Trump dalam akun Twitternya.

Sementara itu, Trump mengatakan AS sudah menyiapkan pasokan minyak bumi cadangan untuk memastikan suplai minyak bumi yang stabil pasca serangan. Serangan ke Aramco membuat 5 persen suplai minyak terganggu. Sehingga menyebabkan kenaikan harga minyak bumi pada Senin (16/9), sebanyak 19 persen.

Pada Minggu (15/9), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuduh Iran sebagai dalang serangan ke Aramco. Iran diaebut sengaja menggunakan kelompom Houthi di Yaman sebagai 'penyerang.' Pompeo bahkan menyebut tidak ada bukti bahwa serangan murni "dari Yaman."

Padahal selama empat tahun belakangan, Arab Saudi, dibantu pasukan AS, memerangi kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Aramco menyebut mereka harus memangkas produksi minyak menjadi 5,7 juta barel per hari akibat serangan akhir pekan kemarin.

Berita Terkait : Jangan Mengusik Kerukunan Umat (2)

Dalam laporan pejabat AS, ada 19 titik serangan di fasilitas minyak milik Saudi. Dari jejak roket yang diluncurkan, mereka yakin bahwa serangan bukan dari YYaman

"Tidak salah lagi kalau Iran dalang seranvan ini. Mau ditelisik seperti apa, jelas sudah. Tidak ada pelaku lain," ujar pihak pejabat AS tanpa mau menyebut identitas mereka kepada Reuters.

"Ditengah seruan untuk mengurangi ketegangan, Iran justru menyerang pusat suplai minyak bumi," tuduh Pompeo.

Menanggapi tuduhan ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi menyebut Pompeo melemparkan "tuduhan tidak berdasar."

Tidak senang dituduh sembarangan, pihak Garda Revolusi Iran bahkan menyatakan kesiapannya berperang dengan AS. "Semua markas militer AS ada dalam lingkup 2.000 kilometer. Ada dalam jarak jangkauan misil kami," bunyi pernyataan pihak Garda Revolusi Iran di stasiun teve mereka, Tasnim, mengutip pernyataan Komandan Amirali Hajizadeh.

Berita Terkait : Kawal Pelantikan Jokowi, GAMKI: Persoalan Kompleks Negara Harus Segera Dituntaskan

Sementara itu, sejumlah media Irak mengatakan serangan berasal dari Baghdad. Namun, pengakuan ini segera dibantah pemerintah pusat Irak dan mengutuk siappapun yang menudih Irak dibalik serangan ke Aramco.

Sementara Kuwait, yang berbatasan dengan Irak, menyebut tengah mengawasi pergerakan drone dari Irak menuju Saudi sebagai bukti benar tidaknya isu drone dari Irak. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta semua pihak tidak saling menuduh dan meminta penyelidikan secara terbuka demi meredakan ketegangan.

Hal serupa juga disuarakan Uni Eropa. Serangan ini muncul di saat Trump mengatakan kesediaannya bertemu Presiden Iran Hassan Rouhani di sela Sidang Umum PBB. Namun, rencana itu segera dibatalkan Trump.

Ketegangan antara AS-Iran otomatis terus memburuk dengan tuduhan dari Paman Sam. Ditambah lagi putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan akan membalas pelaku "serangan teroris" ke fasilitas minyak milik negaranya. Dunia pun mengkhawatirkan kenaikan harga minyak bumi global akibat cekcok ini.

Direktur Pelaksana di Pusat Kebijakan Energi Colombia Unibersity Richard Nephew mengatakan bahwa jika memang Iran dalang serangan tersebut, AS dipastikan akan memberikan sanksi.
Hingga kini, Aramco masih belum memberi kejelasan kapan produksi mereka akan kembali normal.

Berita Terkait : Jangan Mengusik Kerukunan Umat (1)

Konsultan energi Rapidan Energy Group menilai dari kerusakan yang dialami Aramco, kemungkinan pasokan minyak bumi kembali normal dalam waktu yang tidak bisa ditemtukan.
Mereka menemuknan lima fasilitas tambang di Abqaiq rusak dan eperlu waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki.

"Namun, sejumlah fasilitas tidak digunakan dengan maksimal. Jika dimaksimalkan, mungkin pasokan minyak akan kembali normal dalam waktu dekat," bunyi pernyataan pihak Rapidan. [DAY]

RM Video