Warga Lansia Meningkat, China Terancam Defisit Uang Pensiun

Klik untuk perbesar
Berdasarkan standar PBB, memiliki populasi berusia di atas 65 tahun di atas 7 persen dari total penduduk, negara tersebut dinilai mengalami penuaan. (Foto: AFP).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ungkapan “generasi miskin dari era 1980an” belakangan sering muncul di sosial media China sepekan belakangan. Istilah ini menyusul terbitnya artikel yang menyebut bahwa uang pensiun China akan habis pada 2035. 

Ini artinya, mereka yang lahir tahun 1980an tidak akan mendapatkan uang pensiun saat mereka menginjak usia 55, bagi wanita, dan 60 bagi pria. Laporan World Social Security Center di akademi ilmu sosial China menyebutkan, ada kesulitan mempertahankan pemasukan uang pensiun di tahun mendatang karena terus berkurangnya usia produktif di populasi China. 

Alhasil, persediaan uang pensiun untuk generasi berikutnya ikut menipis. Akhirnya, semua simpanan uang pensiun akan habis pada 2035. 

“Penuaan populasi adalah masalah utama. Ketika makin sedikit yang membayar uang pensiun dan makin banyak yang menikmati uang pensiun, dana pensiun yang terkumpul tidak akan cukup untuk waktu lama,” jelas analis sosial ekonomi China Enterprise Reform, Wu Gangliang, dilansir CGTN. 

Berita Terkait : Saatnya Terapkan Bioteknologi di Bidang Pangan

Menurut data biro statistik 2018, 17,9 persen populasi China berusia 60 tahun ke atas dan 11,9 persen berusia lebih dari 65 tahun. Kondisi tersebut berbahaya. 

Berdasarkan standar PBB, memiliki populasi berusia di atas 65 tahun di atas 7 persen dari total penduduk, negara tersebut dinilai mengalami penuaan. Misalnya Jepang. Populasi penduduk berusia di atas 65 tahun sebanyak 28,1 persen dari total populasi pada 2018. Kon disi ini bisa menurunkan pro duktivitas negara karena kekurangan tenaga kerja muda. 

Apakah China akan seperti Jepang? Komite Nasional China untuk Lansia (CNCA) memprediksi populasi lansia berusia di atas 60 tahun akan ada sebanyak 487 juta orang pada 2050. Jumlah ini hampir 35 persen dari total polulasi China. 

Selain bertambahnya jumlah lansia, keputusan pemerintah menurunkan iuran uang pensiun dari 20 persen menjadi 16 persen mulai Mei lalu akan menambah susah upaya pengumpulan uang pensiun. 

Berita Terkait : Harga Minyak Dunia Meroket, Sri Mulyani Dagdigdug

“Salah satu jalan keluar untuk mengatasi ini adalah dengan menggunakan aset negara. Aset negara bisa menjadi penda naan cadangan. Dan kita punya banyak aset negara. Total jumlahnya bisa mencapai 70 triliun yuan (Rp 138,8 kuadriliun). 10 persennya bisa dialokasikan untuk dana pensiun,” ujar Wu.

 Analis lain juga sependapat dengan saran Wu. Kepada CGTN, disebutkan bahwa aset negara merupakan hak seluruh warga China, sehingga menggunakan aset negara sebagai dana pensiun sangat masuk akal. 

Perdana Menteri China Li Ke qiang juga sudah menyampaikan niat mengubah sebagian aset negara untuk dana pensiun. Upaya pencairan dana ini akan mulai dilakukan tahun ini.

Menurut Wu, penggunaan aset negara sebagai alternatif. Wu mengatakan, pemerintah harus meningkatkan jumlah iuran uang pensiun. Banyak cara yang diambil pemerintah China untuk memastikan pencegahan defisit uang pensiun. Salah satunya memberi kemudahan pajak bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak. 

Berita Terkait : Jokowi Mulai Menjaring Calon Pansel Dewan Pengawas KPK

Peneliti dari Chinese Academy of Social Science, Zhang Yinghuan mengatakan defisit uang pensiun tidak perlu dibesar-besarkan. Dia mengatakan, China pernah mengalami pada 1996. Jumlah uang pensiun sudah habis. 

Namun para pensiunan masih bisa mendapat uang pensiun dari iuran pensiun yang dibayarkan pekerja China. “Jadi tidak ada defisit. Semuanya pas-pas saja,” jelas Zhang. 
China kemudian bisa mengumpulkan dana pensiun dengan sistem iuran baru. Namun, dengan bertambahnya usia nonproduktif, uang pensiun pun terpakai lebih banyak dari yang memberikan iuran.

 “Perhitungan kalau uang pensiun habis pada 2035 memang benar. Tapi kesimpulan mereka kelahiran 1980an tidak akan mendapatkan uang pensiun salah kaprah. Karena sebelumnya hal ini sudah pernah terjadi dan pemerintah bisa mengatasinya dengan baik,” tandas Zhang. [DAY]
 

RM Video