Dikirimi 100 Kapal Perang

Filipina Berani Lawan China?

Klik untuk perbesar
Sekitar 100 kapal perang milik China dikabarkan mengepung Pulau Thitu, salah satu pulau sengketa Laut China Selatan. (Foto Sputnik)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sekitar 100 kapal perang milik China dikabarkan mengepung Pulau Thitu, salah satu pulau sengketa Laut China Selatan. Hingga kemarin, belum ada pergerakan dari militer Filipina. Apa berani Filipina lawan China?

Kabar itu disampaikan Sputnik, kemarin. Mengutip laporan yang diterbitkan Maritime Transparency Initiative (AMTI), ada sekitar 100 kapal perang militer China menge- pung sekitar 22,2 kilometer di laut Pulau Thitu. AMTI, merupakan sebuah lembaga think tank yang dikelola oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional. Lembaga ini, meyakini keberadaan kapal perang negeri Komunis itu sebagai upaya menghentikan pekerjaan jalan untuk akses militer Filipina. Berdasarkan foto satelit, AMTI membuktikan jika China tengah mengepung Filipina. Sejak tanggal 2 Desember 2018, sudah ada 24 kapal China memantau pergerakan proyek jalan landai Thitu. Proyek itu, seharusnya sudah selesai, tetapi terkendala cuaca buruk.

Memasuki Januari 2019, kapal-kapal militer China bak menjamur. Ada kapal Tentara Pembebasan Rakyat-Angkatan Laut, Penjaga Pantai China dan berbagai kapal penangkap ikan, berfluktuasi ketika mereka menempatkan diri di dekat pulau yang diperebutkan ketika konstruksi dimulai.

Berita Terkait : China Diselimuti Masalah Jelang Perayaan Hari Nasional


“Kapal-kapal penangkap ikan sebagian besar telah berlabuh antara 3,7 dan 10,1 kilometer laut di sebelah barat Thitu, sementara kapal-kapal angkatan laut dan penjaga pantai beroperasi sedikit lebih jauh ke selatan dan barat,” papar isi laporan.

“Penyebaran ini konsisten dengan contoh-contoh sebelumnya dari ‘strategi kubis China’, yang mempekerjakan lapisan penangkapan ikan, penegakan hukum dan kapal angkatan laut konsentris di sekitar wilayah yang dipere-butkan,” tambahnya.

Filipina sudah lama ingin membangun jalan landai atas Thitu untuk memungkinkan kapal-kapal Filipina mengangkut bahan-bahan perbaikan dengan lebih baik dan untuk memperpanjang landasan pulau guna mendaratkan pesawat-pesawat yang lebih besar pada awalnya diumumkan pada bulan April 2017. Awal pekan ini, laporan AMTI dikritik Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana atas klaimnya bahwa upaya pembangunan yang sedang ber- langsung juga akan mencakup reklamasi tanah, lapor Manila Bulletin.

Berita Terkait : PBB Selidiki Pembunuhan Perang Narkoba Filipina

“Sampai sekarang, hanya jalan landai yang sedang dilakukan. Berikutnya adalah beton landasan pacu. Fase ketiga adalah pemanjangan landasan pacu, yang akan memerlukan reklamasi sekitar 300 meter,” jelas Lorenzana.


Soal gertak China dengan puluhan kapal perangnya tidak membuat Filipina gentar. Menurut Lorenzana upaya pembangunan akan terus berlanjut dan tuntutan sengketa Laut China Selatan harus “menghormati kedaulatan Filipina” dan berperilaku dalam “cara beradab yang sesuai dengan anggota komunitas global.”

Upaya China mengintervensi Laut China Selatan sudah terlihat. Di kawasan dekat China, tepatnya di bagian Barat Laut Pulau Mischief Reef, Kepulauan Spratly, terlihat tanggul sepanjang 1.900 kaki atau sekitar 589 m, bangunan-bangunan baru, dan dermaga yang telah dan sedang dibangun pemerintah Tiongkok. Sebelumnya, Menlu Filipina Alan Peter Cayetano, memperingatkan China bahwa negeri itu tak akan segan berperang demi sumber daya alam di Laut China Selatan.

Berita Terkait : Xi Jinping Ancam Serang Taiwan, Jika Ogah Bersatu Dengan China

“Tak satu pun negara bisa menyedot sumber daya alam di Laut China Selatan sendirian,” ujar Cayetano, Mei 2018.

“Presiden (Duterte) sudah menegaskan hal itu. Siapa saya yang mengambil sumber daya alam di Laut China Selatan, maka presiden akan menyatakan pe- rang,” tambahnya. [BSH]

RM Video