Venezuela Krisis, Minyaknya Jadi Incaran Negara Adidaya

Klik untuk perbesar
Juan Guaido (kiri) dan Nicolas Maduro (kanan). (Foto AFP)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di tengah krisis kepemimpinan, Venezuela negeri kaya minyak jadi incaran Amerika Serikat (AS), China, dan Rusia.

China dan Rusia sudah lebih dulu menanam budi. Kedua negara itu menggelontorkan pinjaman kepada pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Besarnya jumlah utang Venezuela ke Rusia dan China membuat kedua negara itu mendapatkan minyak bumi dengan harga super murah dari Venezuela. Venezuela sangat membutuhkan suntikan uang dari Rusia dan China. Sama besarnya seperti kedua negara itu membutuhkan minyak bumi.

Venezuela tercatat masih berutang sebesar 20 miliar dolar AS (Rp 281 triliun) kepada China dan berutang sebesar 2,3 miliar dolar AS (Rp30 triliun) kepada perusahaan minyak Rusia, Rosneft. Nah sekarang giliran AS masuk lewat Juan Guaido. Dia pemimpin oposisi dan Kepala Majelis Nasional yang menyatakan diri sebagai presiden sementara. Keinginan AS tampaknya takkan lama. Dilansir Russia Today (6/2), utusan pemimpin oposisi Venezuela Juan Guadio untuk AS, Carlos Vecchio mengatakan, cadangan minyak negaranya akan dibuka untuk investor asing. Beda kebijakan jika Maduro masih berkuasa.

Vecchio mengatakan, Guadio ingin meningkatkan produksi minyak dan membatalkan persyaratan saat ini bahwa raksasa minyak milik negara PDVSA harus mempertahankan saham pengendali dalam usaha patungan. Saat ini, PDVSA diketahui harus mempertahankan 51 persen saham dalam proyek bersama.

“Kami ingin menuju ekonomi terbuka, kami ingin meningkatkan produksi minyak,” kata Vecchio selama wawancara di kantor DC Bloomberg.

“Mayoritas produksi minyak yang ingin kami tingkatkan akan berada di sektor swasta,” sambungnya.

Mengutip Russia Today, Kamis (31/1), Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, mengakui, dukungan terhadap Juan dan niat menggulingkan Maduro adalah tentang cadangan minyak Venezuela. Berbicara kepada pembawa acara Fox Business, Trish Regan, Bolton mengatakan, AS telah bertaruh banyak di tengah krisis politik Venezuela, secara khusus menyebut sumber daya minyak negara tersebut dan ke- untungan ekonomi bagi AS.

“Ini akan membuat perbedaan besar bagi Amerika Serikat secara ekonomi jika kita dapat meminta perusahaan minyak Amerika berinvestasi dan menghasilkan sumber daya minyak di Venezuela,” kata Bolton.

Dalam wawancara terpisah di Fox Business, kepada pembawa acara Stuart Varney, secara implisit Bolton mengatakan, menyingkirkan Maduro dari kekuasaan sangat penting karena Maduro dinilai membuat negara-negara yang memusuhi Amerika mendukungnya, dan menyingkirkan Maduro dari kekuasaan akan menjadi langkah besar dan potensial untuk membuka peluang “bisnis” di wilayah Venezuela.

Bolton kerap menyebut intervensi AS dalam politik domestik Venezuela bertujuan untuk menyingkirkan seorang pemimpin “otoriter” dan melindungi demokrasi dan hak asasi manusia. Tetapi pernyataannya tentang minyak menyingkap alasan mendasar campur tangan Gedung Putih di Venezuela.

Ketertarikan Bolton terhadap sumberdaya alam Venezuela yang berlimpah bukan hal mengejutkan. Presiden AS Donald Trump sendiri memiliki sejarah memperjuangkan perubahan rezim di negara-negara kaya minyak di seluruh dunia asalkan perusahaan-perusahaan AS diuntungkan.

Tinggi Korupsi

Meski dikenal sebagai negara kaya minyak, masalah korupsi di petingginya membuat perekono- mian Venezuela terpuruk. Sebagai sekutu, China dan Rusia dengan cepat memberikan bantuan keuangan puluhan miliar selama sepuluh tahun terakhir kepada Venezuela. Meski suntikan dana bantuan terus diberikan, belum terlihat perubahan berarti di perekonomian Venezuela.

“Saya pikir rezimnya tidak akan berubah. Sepertinya Venezuela tidak suka Amerika Serikat mendikte mereka siapa yang harus menjadi pemimpin, serta Rusia dan China juga tidak akan tinggal diam jika Venezuela ternyata akan diambil AS secara diam-diam,” ujar analis perekonomian RBC Capital Market Helima Croft.

Apakah utang-utang ini akan masih bisa berlaku jika pemerintahan Venezuela beralih dari Maduro ke Guaido?

“Guaido jelas tidak akan me- ngecewakan China. Karena Ven- ezuela masih perlu negara yang membeli minyak buminya skala besar,” kata perwakilan Caracas Capital Market Russ Dallen.

“Jika oposisi melukai China, mereka akan merugi. China adalah pembeli besar. Dan Venezuela pasar besar bagi China,” ujat Analis Bulltick Capital Katrhyn Rooney Vera.

Meski Guaido nampaknya akan meneruskan kerja sama Venezuela dengan China. Guaido belum menunjukkan sikapnya kepada Rusia. Meski demikian, kerja sama dengan Moskow juga bukan hal yang bisa seenaknya dilepas. Moskow adalah sumber kehidupan bagi Maduro dan pemerintahannya. Rusia selalu memberikan bantuan di momen kepepet.

"Rusia juga bukan negara yang bisa seenaknya ditinggalkan," ujar Vera.

Jika Guaido berhasil naik menjadi pemimpin Venezuela, bukan berarti segala hal bisa berjalan lancar seketika. Badan Moneter Internasional (IMF) nampaknya akan mengambil alih mengenai pengaturan restrukturisasi hutang Venezuela. Gampangnya, Venezuela harus merunut utang dan membayarnya dari utang paling awal dengan bantuan dari IMF.

IMF tidak memiliki hubungan resmi dengan Venezuela karena negara itu memutus hubungan sejak 2007. Namun, IMF memonitor krisis di Venezuela secara cermat dan dampaknya terhadap negara-negara tetangga di Amerika Selatan. Sebelum melakukan intervensi, IMF membutuhkan permintaan resmi dari pemerintah Venezuela terkait bantuan dana. IMF siap membantu Venezuela mengatasi krisisnya.

Berita bagusnya, Venezuela mungkin akan terbantu dengan pasokan minyak buminya. Ada sekitar 300 miliar barel per tahun dan juga persediaan tambang besi, emas dan sumber daya alam lain. "Venezuela hanya punya masalah keuangan, bukan masalah pada sumber uangnya. Kalau melihat kekayaan sumber daya alam, pasti semua negara yang dihutangi Venezuela akan dibayar lunas," pungkas Dallen dilansir CBC. [MEL/DAY]

RM Video