Kestabilan Harga Minyak Asia Terancam Ekonomi Melambat

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Harga minyak stabil di perdagangan Asia pada Jumat pagi, 16 Maret 2019, karena para negara pemasok minyak (OPEC) mengurangi pasokan ditambah adanya sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap Venezuela dan Iran. Tetapi kondisi tersebut terancam karena perlambatan ekonomi yang mengurangi peningkatan permintaan bahan bakar.

Patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan di 67,16 dolar AS per barel pada pukul 00.29 GMT (07.29 WIB), turun tujuh sen dari penutupan terakhir mereka, tetapi masih satu dolar dari 68,14 dolar AS per barel, harga tertinggi 2019 yang dicapai hari sebelumnya.

Berita Terkait : Triwulan I, Defisit Transaksi Berjalan Membaik


Patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di 58,53 dolar AS per barel, turun delapan sen dari penyelesaian terakhir mereka, dan juga tidak jauh dari tertinggi 2019 mereka di 58,74 dolar AS hari sebelumnya. Terlepas dari penurunan Jumat, minyak mentah telah naik sekitar seperempat nilainya sejak awal tahun.

"Minyak mentah terus bergerak lebih tinggi ... dalam menanggapi kurangnya produksi dari kelompok produsen OPEC+ serta kemerosotan (output) lain dari Venezuela," kata Kepala Strategi Komoditas Saxo, Bank Denmark, Ole Hansen.

Berita Terkait : Venezuela Krisis, Minyaknya Jadi Incaran Negara Adidaya

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu tidak terafiliasi seperti Rusia - yang dikenal sebagai aliansi OPEC+ - telah berjanji untuk menahan 1,2 juta barel per hari (bph) pasokan minyak sejak awal tahun untuk memperketat pasar dan menopang harga. Sementara itu, krisis politik dan ekonomi di Venezuela dikombinasikan dengan sanksi-sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran, telah semakin memperketat pasar minyak. Tapi nenahan harga minyak mentah dari kenaikan lebih lanjut tak sepenuhnya dapat dilakukan karena perlambatan ekonomi global yang telah mencengkeram sebagian besar Asia dan Eropa, dan menunjukkan tanda-tanda menjalar ke Amerika Utara.


"Tapi kekhawatiran tentang pertumbuhan dan permintaan minyak mentah di masa depan," kata Hansen.

Baca Juga : Facebook Kenalkan Uang Digital Libra

Sedangkan di China, dilansir Reuters, dari data pekan, penggunaan minyak mentah kilang-kilang China dalam dua bulan pertama tahun 2019 naik 6,1 persen dari tahun sebelumnya ke rekor 12,68 juta barel per hari. [MEL]

RM Video