Banjir Air Mata Di Kemenlu Saat Serah Terima Korban Penyanderaan Abu Sayyaf

Terima Kasih Pak Jokowi, Ibu Retno Dan Pak Dubes…

Klik untuk perbesar
BERPELUKAN: Keluarga korban penyanderaan Abu Sayyaf menangis dan berangkulan, di Kemenlu, Jakarta, kemarin. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Dubes RI untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang (kiri) ikut bersedih. Berkali-kali menyeka air mata.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ada suka. Ada duka. Ada tangis. Ada tawa. Ada sedih. Ada gembira. Semua perasaan itu campur aduk saat Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menyerahkan 2 warga kita yang disandera teroris Abu Sayyaf ke pihak keluarga, di Gedung Kemenlu, Jakarta, kemarin. Ada suka. Ada duka. Ada tangis. Ada tawa. Ada sedih. Ada gembira. Semua perasaan itu campur aduk saat Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menyerahkan dua warga kita yang disandera teroris Abu Sayyaf ke pihak keluarga, di Gedung Kemenlu, Jakarta, kemarin. Dua WNI itu: Heri Ardiansyah dan Hariadin. Mereka asli Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Mereka kerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) penangkap ikan berbendera Malaysia SN259/4/AF. Mereka disandera Abu Sayyaf sejak 8 Desember 2018. Pekan lalu, mereka berusaha kabur. Bersama seorang warga Malaysia, mereka berenang menyeberangi perairan Pulau Simisa, Provinsi Sulu. Alhamdulillah, Heri selamat. Tapi sayang, Hariadin dan warga Malaysia tewas karena tak kuat renang. Heri dan jenazah Hariadin, kemarin diserahkan pemerintah ke keluarga.

Serah terima dipimpin langsung Menteri Retno. Hadir juga Dubes RI untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang, dan perwakilan dari BAIS TNI. Keluarga Heri dan Hariadin berbaris di ruangan. Menunggu kedatangan Bu Retno dan rombongan.

Masuk ruangan, Bu Retno yang didampingi Sarundajang menghampiri keluarga. Menyalami keluarga. Bu Retno dipeluk. Bu Retno diciumin tangannya. Keluarga Heri histeris saat Heri berada di depan matanya. Mereka rangkulan. Tetesan air mata membasahi baju.

Baca Juga : Menteri Tito: Kita All Out Dukung Menkes

Keluarga Hariadin lebih sedih lagi. Mereka hanya bisa ikhlas. Bu Retno berkali-kali mengusap matanya. Begitu pula dengan Sarundajang. Bekas Gubernur Sulut ini, berkali-kali mengusap air mata.

“Hari ini adalah hari yang berba- hagia sekaligus menyedihkan. Kita berhasil memulanglan satu WNI kepada keluarganya,” ujar Retno memulai kata sambutannya.

“Namun, sayang, satu WNI lainnya harus berpulang ke Yang Maha Kuasa dalam proses pem- bebasan,” sambungnya dengan suara yang lirih.

Baca Juga : GIG by Indosat Siapkan Solusi Internet Sehat Dan Aman Buat Anak

Keluarga Heri dan Hariadin yang duduk di barisan kiri Bu Retno, tak kuat menahan tangis. Mereka menunduk. Tisu di tangannya tak lepas. Padahal sudah basah dengan air mata.

“Terima kasih pemerintah Indonesia. Terima kasih Presiden Jokowi. Terima kasih Bu Menteri Retno, dan Pak Dubes, dan pihak-pihak yang telah membantu pembebasan adik kami,” ucap Kamalia, kakak Heri.

Rasa syukur yang sama pun disampaikan keluarga almarhum Hariadin yang diwakili sang kakak, Saharudin.

Baca Juga : Soal Sertifikasi Pernikahan, Menko PMK Banjir Dukungan

“Saya kakak Hariadin bersama keluarga besar mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya yang telah mengembalikan adik tercinta kami. Saya bersama istri dan anak almarhum mengikhlaskan adik tercinta kami, semoga diterima Allah SWT,” ujar Saharudin.

Terakhir, Retno mengucapkan kegembiraannya sekaligus janji. Retno gembira karena kemarin merupakan pembebasan terakhir dari 36 WNI yang disandera Abu Sayyaf. Lalu, Bu Retno berjanji akan terus bekerja sama dengan Filipina agar kasus-kasus penyanderaan ini tak terulang lagi.[DAY]