Laporan Dari Program Jenesys Jepang (2)

Berguru Fasilitas Publik Pada Saudara Tua

Klik untuk perbesar
Trotoar di pusat kota Tokyo, tak jauh dari Istana Kaisar di depan Stasiun Tokyo. Trotoar tampak bersih, bebas PKL, ramah difabel, dan drainase-nya tertutup rapi. (Foto: Bambang Trismawan/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bicara soal transportasi dan fasilitas publik, Jepang memang sangat layak jadi rujukan. Pemerintah Jepang punya cara yang efektif untuk memaksa warganya beralih menggunakan transportasi umum, ketimbang kendaraan pribadi. Fasilitas publik yang tersedia pun mendukung kebijakan tersebut. Indonesia sepertinya harus segera mengadopsi kebijakan tersebut, jika tak ingin warganya menjadi tak produktif karena sering terjebak macet di jalan. Pemborosan BBM pun bisa diminimalkan. Selain itu, menggunakan transportasi umum juga akan mengurangi tingginya angka polusi udara.

Berikut tulisan ringan wartawan Rakyat Merdeka, Bambang Trismawan, yang berkesempatan mencicipi transportasi dan fasilitas publik di sela Program Jenesys (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths) yang diikutinya. Jenesys adalah program pertukaran pemahaman politik, ekonomi dan sosial budaya yang diselenggarakan oleh Japan International Cooperation Center (JICE), Lembaga dari Kementerian Luar Negeri Jepang.

Berita Terkait : Warga Jakarta Tinggalkan Kendaraan Pribadi, Kenapa Tidak?


Di Jepang, tersedia beberapa moda transportasi untuk publik. Untuk jarak dekat di dalam kota, biasanya menggunakan subway dan bus kota. Untuk perjalanan jarak menengah, ada commuter (KRL) dan monorel. Sementara untuk jarak jauh, ada kereta cepat Shinkansen.  Di kota-kota besar seperti Tokyo dan Sendai, subway adalah moda paling banyak digunakan oleh warga. Di Tokyo misalnya, jarang sekali melihat warga menggunakan mobil pribadi.

Kebanyakan mereka naik subway dari stasiun terdekat lalu dilanjutkan jalan kaki ke kantor masing-masing. Ada beberapa alasan kenapa warga biasanya memilih transportasi umum.  Di Ibukota Jepang ini tak banyak tempat parkir. Kalau pun ada, harganya relatif mahal. Tarifnya berbeda-beda tergantung lokasi dan waktunya. Rata-rata sekitar 250 yen atau sekitar Rp31 ribu per 30 menit untuk pagi dan  250 yen per 60 menit untuk malam. Tarif parkir untuk malam lebih murah. 

Berita Terkait : Kepala BPTJ Bambang Prihartono: ERP Siap, Ganjil Genap Hilang

Selain mahalnya tarif parkir, ongkos tol dan harga BBM yang cukup tinggi membuat warga Jepang berpikir dua kali, bila hendak menggunakan kendaraan pribadi. Belum lagi, pemerintah Jepang mengenakan sanksi yang memberatkan untuk setiap pelanggaran lalu lintas. Hal lainnya, warga memilih transportasi karena lebih nyaman. Tepat waktu. Tidak terjebak macet. Hal ini juga didukung oleh lengkapnya fasilitas publik yang disediakan pemerintah. Di setiap stasiun subway misalnya, selalu tersedia toilet yang bersih. Toilet juga dilengkapi oleh pegangan tangan, untuk memudahkan kaum lansia dan difabel. 

Toilet di Terminal Matsushima, Sendai, Perfektur Miyagi, Jepang. Tak hanya bersih dan nyaman, toilet di Jepang juga dilengkapi pegangan, yang memudahkan kaum difabel. (Foto: Bambang Trismawan, Rakyat Merdeka) ...


Kebijakan pemerintah mendukung penggunaan transportasi publik, juga terlihat dari cukup luasnya wilayah pedestrian alias trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Trotoar itu bersih, tidak disesaki PKL alias pedagang kaki lima. Penutup drainase-nya pun terpasang rapi, sehingga tidak membahayakan pejalan kaki. Trotoar yang dilengkapi dengan tenji block atau tactile paving berbentuk ubin khusus berwarna kuning, memberikan kemudahan bagi kaum tuna netra. 

Baca Juga : Waspadai Penumpang Gelap dan Penciptaan ‘Martir’

Karenanya, mengesankan ketika melintasi jalanan Tokyo. Terasa lengang, tertib dan teratur. Tak ada kemacetan. Atau liak liuk sepeda motor di jalan. Sangat nyaman untuk pejalan kaki. Saban pagi, di pedestrian Tokyo selalu terlihat para pekerja yang hilir mudik berjalan kaki atau bersepeda. Setelannya hampir serupa. Pekerja laki-laki biasanya mengenakan setelan jas dengan kemeja putih atau biru muda. Yang perempuan lebih stylish. Blazer coklat muda ditambah syal.  Sepanjang pedestrian, ditanami pohon khas Jepang seperti momiji atau ginko biloba.

Di penghujung musim gugur seperti akhir November ini, daun-daun pohon tersebut mulai berubah warna menjadi merah dan kuning. Menjadikan jalanan Tokyo lebih semarak. Di beberapa sudut jalan, tampak tumpukan daun momiji yang memerah. Seperti karpet yang terhampar. Jumlah penduduk Tokyo sekitar 13 juta. Tak jauh berbeda sebenarnya dengan Jakarta. Tapi untuk fasilitas publik mungkin masih perlu banyak belajar dari saudara tuanya. 

RM Video