Kejepit Tekanan AS, Venezuela Gadaikan 9 Ton Cadangan Emas

Nicolas Maduro memamerkan sejumlah emas batangan dalam konferensi pers pada Januari lalu. (Foto : Reuters).
Klik untuk perbesar
Nicolas Maduro memamerkan sejumlah emas batangan dalam konferensi pers pada Januari lalu. (Foto : Reuters).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Venezuela telah menjual sekitar sembilan ton emas seharga 400 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,6 triliun kepada perusahaan-perusahaan Turki dan Uni Emirat Arab (UEA).

Penjualan cadangan emas itu merupakan langkah Presiden Nicolas Maduro untuk melawan tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS).

Laporan itu diterbitkan Bloomberg 14 April lalu yang mengutip beberapa sumber terkait penjualan logam mulia Venezuela.

Baca Juga : Curiga Masker Bekas Diperdagangkan, Polisi Hong Kong Sidak ke 200 Toko

“Penjualan itu bisa bermakna Presiden Nicolas Maduro telah menemukan cara untuk menutupi blokade ekonomi yang dipaksakan Washington,” kata salah satu sumber.

Bank Sentral Venezuela belum berkomentar atas laporan penjualan cadangan emas tersebut. Menurut Bank Sentral, total cadangan emas Venezuela pada saat ini mencapai 8,6 miliar dolar AS.

Penjualan tersebut terjadi setelah Febuari lalu. Venezuela mengumumkan rencananya untuk menjual 15 ton emas Bank Sentralnya ke UEA dan dibayar tunai dalam euro.

Baca Juga : Bamsoet Ajak Semua Elemen Bangsa Jihad Lawan Narkoba

Di bulan yang sama, Maduro mengatakan, kurang lebih 80 ton emas Venezuela dibekukan di Bank of England. Pernyataannya itu sama dengan laporan Bloomberg bahwa Bank of England telah menolak otoritas Venezuela untuk menarik cadangan emas senilai 1,2 miliar dolar AS.

Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan beberapa sanksi terhadap perusahaan-perusahaan negara Venezuela sejak Januari 2019. Pada akhir Maret, Departemen Keuangan AS secara khusus memberi sanksi kepada perusahaan pertambangan emas Venezuela, Minerven dan presidennya, Adrian Antonio Perdomo Mata.

Menurut media setempat, total kerusakan dari sanksi AS terhadap Venezuela telah melebihi 100 miliar dolar AS. Sanksi AS itu sebagai respons atas kebuntuan politik yang sedang berlangsung di Venezuela, tak lama setelah pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden interim Venezuela pada Januari lalu. Washington mendukung Guaido.

Baca Juga : Paus Mau ke Indonesia, Romo Benny: Momentum Tunjukkan Pancasila Mampu Satukan Perbedaan

Maduro menuduh Guaido sebagai “boneka” AS. Maduro juga mengecam Washington karena mengatur kudeta di negara Amerika Latin itu. Dilansir media Rusia, Sputnik, Rusia dan negara lain menyatakan, mereka tetap mengakui Maduro sebagai satu-satunya presiden sah Venezuela. [DAY