Tiga Pekan Usai Ledakan

Sri Lanka Masih Dibalut Ketakutan

Klik untuk perbesar
Tas setiap murid di sekolah menengah di Kolombo diperiksa guru, orang tua murid dan pasukan keamanan sebelum memasuki wilayah sekolah, kemarin. (Foto : Reuters).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kegiatan belajar mengajar di sekolah pemerihtah di Sri Lanka, kemarin, sudah aktif. Namun, masih banyak bangku kosong di setiap kelas. Minimnya murid yang datang karena orang tua masih dibalut ketakutan usai pemboman tiga gereja dan tiga hotel pada perayaan Paskah (21/4).

Dari sumber media online CNA dan AFP, paramiliter dibantu pasukan militer Sri Lanka sudah melakukan sweeping di sekolah milik pemerintah dan sekolah Katholik. Sejumlah pasukan keamanan sudah disiagakan di dalam sekolah, namun para orang tua masih enggan membiarkan putra putri mereka keluar rumah.

“Saya putuskan untuk tidak membiarkan putra saya sekolah sampai situasi di negara ini benar-benar aman dan kembali normal,” ujar salah satu orang tua siswa Sujeeva Dissanayake.

Berita Terkait : Inovasi Pertamina Lahirkan Sekolah Cinta Gambut

Langkah terbaru Sri Lanka mengurangi kekhawatiran masalah keamanan dalam negeri, lebih dari 600 warga negara asing (WNA) diusir dari Kolombo. Dari 600 orang yang diusir, 200 di antaranya ulama.

Diberitakan AFP, kemarin, Menteri Dalam Negeri Vajira Abeywardena menyatakan, para ulama itu masuk ke wilayah Sri Lanka secara legal, namun belakangan diketahui visa mereka overstay.


Temuan itu didapat saat otoritas keamanan Sri Lanka menggelar operasi keamanan di berbagai wilayah setelah rentetan bom saat perayaan Paskah yang menewaskan 259 orang. Sanksi bagi pelanggaran visa antara lain dijatuhi hukuman denda dan diusir keluar dari wilayah Sri Lanka.

Berita Terkait : Topan Faxai Terjang Tokyo, Warga Masih Berangkat Kerja

“Mempertimbangkan situasi terkini di negara ini, kami telah mengkaji sistem visa dan mengambil keputusan untuk memperketat batasan visa untuk guru-guru keagamaan,” sebut Abeywardena dalam pernyataannya.

“Dari orang-orang yang kami minta keluar, sekitar 200 orang merupakan ulama Islamis,” ungkapnya.

Otoritas Sri Lanka sebelumnya menuding ledakan tersebut dipimpin ulama lokal yang radikal. Ia diketahui pernah bepergian ke India dan pernah berkomunikasi dengan para militan di sana. Tidak disebut lebih lanjut kewarganegaraan para ulama maupun WNA yang diusir keluar dari negara tersebut. Namun kepolisian setempat menyebut ada beberapa warga negara asing yang ketahuan overstay berasal dari Bangladesh, India, Maladewa dan Pakistan.

Berita Terkait : Saat Bapaknya Ajukan PK, Putri Novanto Malah Digarap KPK

“Ada institusi-institusi keagamaan yang mempekerjakan ulama-ulama asing selama beberapa dekade. Kami tidak punya masalah dengan mereka, namun ada beberapa yang menjamur baru-baru ini. Kami akan lebih memperhatikan mereka,” ujar Abeywardena.

Abeywardena menambahkan, pemerintah Sri Lanka merombak kebijakan visa di negaranya menyusul kekhawatiran bahwa ulama-ulama asing bisa meradikalisasi warga setempat dalam melancarkan serangan bom seperti yang terjadi pada 21 April lalu.


Sri Lanka masih memberlakukan situasi darurat yang memberikan wewenang lebih luas kepada polisi dan tentara untuk menangkap dan menahan tersangka dalam jangka waktu lama, tanpa perintah penangkapan dari pengadilan. Otoritas keamanan Sri Lanka melakukan operasi penyisiran dari rumah ke rumah untuk mencari peledak dan material propaganda militan. [DAY]