Memory of the World: Panji, Diponegoro, La Galigo

Pameran Karya Sastra Paling Menginspirasi Dari Asia Tenggara

Klik untuk perbesar
Suasana Pameran Memory of the World: Panji, Diponegoro, La Galigo di Universitas Leiden, Kamis (23/5). (Foto: KBRI Den Haag)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, menghadiri pembukaan pameran Memory of the World: Panji – Diponegoro – La Galigo, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Leiden (UBL).


Acara yang dilangsungkan di Ruang Vossius, UBL, Kamis (23/5) pukul 16.00 waktu setempat itu, dihadiri oleh sekitar 40 tamu undangan. Acara tersebut dibuka oleh Ketua UNESCO Komisi Belanda Andtee van Es, disusul pemaparan mengenai pentingnya tiga naskah UNESCO di Leiden oleh Roger Tol, mantan pustakawan KITLV-Jakarta.

Berita Terkait : Kharisma Bunda Maria dalam Sapuan Kuas Maestro Basoeki Abdullah Muda

Usai pertunjukan Tari Topeng Panji oleh Kelompok Tari Jawa Kuwung-kuwung, Kurator Asia Selatan dan Tenggara UBL, Doris Jedamski, memberi paparan mengenai pameran Memory of The World: Panji – Diponegoro – La Galigo. Selanjutnya, para tamu dipersilakan menyaksikan pameran berbagai naskah Panji, Diponegoro, dan La Galigo, koleksi UBL, di Ruang Eksposisi.


Pameran Memory of the World: Panji – Diponegoro – La Galigo ini berlangsung hingga 1 September 2019. Manuskrip Panji, otobiografi Pangeran Diponegoro, dan epos La Galigo, termasuk karya sastra paling menginspirasi dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Ketiganya memiliki arti penting bagi sejarah sastra dan budaya Asia Tenggara. Sehingga dimasukkan dalam Memory of the World Register of UNESCO.

Baca Juga : AS Dan Korut Diam-diam Bahas Rencana Pertemuan Ke-3 Trump dan Kim Jong Un

Pameran Memory of the World: Panji - Diponegoro - La Galigo difokuskan pada konten, fungsi, dan penggunaan naskah. Kisah-kisah Panji meraih popularitas di seluruh Asia Tenggara pada abad ke-14 dan ke-15, dan menandai langkah penting dalam pengembangan sastra Jawa. Kronik Pangeran Diponegoro (1785-1855) ditulis selama pengasingannya di Sulawesi Utara.


Sedangkan manuskrip La Galigo yang tebalnya  6.000 halaman, ditulis pada abad ke-19 dan ke-20 dari tradisi lisan Bugis kuno. La Galigo dicatat dalam aksara khas Sulawesi Selatan dan dianggap sebagai epik mitos paling komprehensif di dunia. [HES]

RM Video