SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setidaknya, ada 5 kelompok umat Islam yang merayakan lebaran lebih awal. Kalau pemerintah menyatakan lebaran, 1 Syawal, jatuh pada Rabu, 5 Juni, kelompok ini berlebaran pada Senin 3 Juni.

Kelompok ini; pengikut Tarekat Syattariyah di Aceh, kelompok Muslim Suni di Maluku, jemaah An Nadzir Gowa, jemaah Al Muhdlor di Tulungagung, dan jemaah Naqsabandiyah di Padang.

Mereka berlebaran, kemarin, 3 Juni. Walau dianggap beda, masyarakat menyikapinya dengan “bijak”. Tak ada gejolak. Tak ada saling serang. “Biasa” saja.

Walau ada yang tidak bisa memamahi sembari bertanya “kok bisa lebarannya berbeda dua hari”, toh tidak sampai terjadi bentrokan dan kerusuhan.

Berita Terkait : Menunggu Arus Balik

Perbedaan adalah keniscayaan. Yang maha pencipta sudah menciptakan perbedaan sedari awal. Siang malam, laki perempuan, besar kecil dan sebagainya.

Suku, warna kulit, agama, ras, juga bermacam-macam. Namun, perbedaan mesti disikapi dengan bijak. Beda boleh, pecah jangan. Bangsa ini, sekarang, tengah dihadapkan kepada isu perbedaan.

Ini imbas dari pertarungan politik, khususnya pilpres. Para Pemilu 2019, perbedaan itu sangat menyolok. Sangat kontras. Ekstrem sekali. Seperti siang dan malam, hitam dan putih.

Dulu, SARA menjadi persoalan yang sangat dikhawatirkan, sekarang perbedaan sikap politik telah membelah bangsa ini. Jadi persoalan baru. Di media sosial, saling serang, saling caci, saling hina, berlangsung sangat panas. Brutal.

Berita Terkait : Identitas dan Semoga

Tak ada  lagi obyektifitas. Yang ada: kelompokku benar, kelompok kamu salah. Tak ada lagi yang bisa menilai kasus per kasus, isu per isu. Karena bisa saja, di satu isu atau kasus, masing-masing kelompok menyimpan kebenaran atau pun kesalahan.

Untuk kelompoknya, sangat lihai menjadi pengacara atau pembela, untuk kelompok lain sangat pintar menjadi hakimnya. Bukan sebaliknya, menjadi pengacara untuk kelompok lain, menjadi hakim untuk diri sendiri. Bangsa ini sangat beragam.

Saatnya itu menjadi sebuah keindahan, bukan perpecahaan. Bukan sumber konflik. Apalagi kalau sekadar pemilu yang berlangsung 5 tahun sekali.

Lima tahun lagi, parpol yang sekarang berbeda sikap, berbeda capres, bisa bersatu mengusung capres yang sama. Begitu juga sebaliknya, parpol yang sekarang bersatu, bisa berbeda pilihan capresnya.

Berita Terkait : Lurus ke MK

Perbedaan bangsa ini semestinya menjadi sebuah keindahan, seperti warna-warni budaya dalam sebuah karnaval. Besok kita berlebaran. Kalau semua rumah menyediakan makanan yang sama, tentu tidak indah.

Saatnya kita menikmati kuliner yang beragam. Berbeda-beda rupa dan rasanya, walau, ketupat tetap menjadi yang terdepan. Selamat berlebaran. Selamat Idul Fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. ***