Imam Shalat, Imam Negara

BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Secara konseptual, ritual imamah dalam sholat sarat dengan makna kepemimpinan yang ideal. Karena dalam imamah sholat, makmum ikut apapun gerakan imam. Tidak boleh mendahului dan tidak pula terlalu lamban mengikuti. Musti kompak.

Dalam koridor imamah sholat, makmum boleh mengingatkan imam yang lupa gerak atau jumlah sholat. Makmum laki-laki punya cara tersendiri, begitupun makmum perempuan, punya cara tersendiri. Jadi kalau diaktualisasi ke dalam lingkup kepemimpinan negara ideal sekali dan baik.

Berita Terkait : Penyawer dan Pembelot

Namun belakangan ini, soal mengimami sholat telah masuk dalam ranah politik praktis, untuk tidak mengatakan terjadi politisasi. Namun bagi kalangan Muslimin Indonesia, mempersyaratkan kemampuan mengimami sholat bagi seorang calon pemimpin negeri amat baik dan positif saja.


Sungguh merupakan kebanggaan tersendiri. Seorang Presiden fasih melafalkan bacaan kaifiyat Rukun Islam kedua. Namun tentu menjadi kacau kalau ini jadi pergunjingan politik. 

Berita Terkait : Tebar Bukti, Janji & Duit

Isu ketakcakapan mengimami sholat sudah dipakai instrumen politik untuk saling menjatuhkan. Inilah bagian yang sangat tidak mencerdaskan. Juga, amat membahayakan bagi masa depan politik negeri.

Kita memimpikan kompetisi politik yang menjunjung tinggi sikap-sikap positif dalam berkampanye dan berselisih pendapat. Jangan sampai adu politik ini memperdalam luka perbedaan seperti pengalaman Pilkada Jakarta. Semakin memperdalam dendam politik tak berkesudahan. Model berpolitik yang menihilkan sisi politik lawan.

Berita Terkait : Kampanye Optimisme

Semakin dekat waktu hajat demokrasi diharapkan tema kampanye makin yang memberi manfaat. Saling menginsiprasi. Saling memberi solusi. Bukan mengintimidasi apalagi mencaci. Indonesia perlu gagasan besar dan jiwa besar untuk menjadi hebat dan digjaya. Oleh karenanya, dibutuhkan model kompetisi poliknya yang lebih konstruktif dan mengembangkan politik gagasan.