5 Tahun, Kacamata Kuda

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Dalam lima tahun ke depan Insya Allah saya sudah tidak memiliki beban apa-apa. Jadi keputusan-keputusan yang miring-miring, yang itu penting untuk negara ini, akan kami kerjakan. Karena saya sudah tidak memiliki beban apa-apa. ” Jokowi, dalam acara halal bihalal dengan Aktivis 98, di Jakarta, Minggu (16/5/2019)
 
Ini pernyataan negarawan, bukan politisi. Pernyataan yang menjangkau masa depan. Tidak bermotif untuk memenangi pemilu berikutnya. Tidak untuk kepentingan apa pun selain bangsa dan negara. Pernyataan ini bukan lagi demi popularitas, tapi demi bangsa dan negara. Misalnya, walaupun keputusan dan kebijakan tersebut tidak popular, akan tetap diambil.

Pernyataan ini, dalam bahasa sederhananya, sebagai “sikap kacamata kuda”. Tidak melirik kiri-kanan. Lurus saja ke depan. Intinya, yang terbaik bagi bangsa dan negara, tak peduli apa pun yang terjadi. Pernyataan ini menggambarkan bahwa Jokowi sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ini sangat, sangat kita hargai.

Berita Terkait : Sampah “Emas”

Apa ini akan berjalan mulus? Perlu kerja keras. Karena,hambatan bisa datang dari orang-orang di sekelilingnya, termasuk para menterinya lima tahun mendatang. Karena, para menteri dan para pejabat lainnya, bisa memiliki kepentingan masing-masing yang berpotensi mengganggu kinerja Jokowi. Mulai dari yang pribadi sampai kepentingan parpolnya. Mulai dari sekadar “uang jajan” sampai mungkin ada yang berkeinginan jadi presiden atau wapres 2024.

Karena itu, memilih para pembantunya, Presiden Jokowi perlu sangat berhati-hati. Bukan lagi menteri atau pejabat yang sekadar “bisa membantu” memenangkan pemilu berikutnya, karena itu sudah selesai bagi Jokowi. Tapi, menteri yang bisa menciptakan legacy yang baik. Legacy monumental di bidang hukum, ekonomi, sosial dan hankam.

Berita Terkait : Youtube Dan Jurusan Meme

Di bidang penegakan hukum misalnya, korupsi masih menjadi persoalan besar. Jokowi juga perlu meninggalkan warisan yang akan dikenang sejarah. KPK, juga lembaga-lembaga penegak hukum lainnya, perlu diperkuat. Keutuhan bangsa dan negara juga menjadi tantangan tersendiri. NKRI jangan retak. Merah Putih jangan terkoyak. Indonesia bukan arena pertarungan bagi kepentingan-kepentingan global.

Dalam kesempatan yang sama, Jokowi juga meminta agar tidak ada lagi politik SARA dalam pemilu mendatang. Menurut Jokowi, politik SARA berbahaya bagi keutuhan negara. Kenapa ada politik SARA? Salah satunya, karena capresnya cuma dua. Kondisi sosiologis Indonesia masih seperti itu, rawan politik SARA. Agama bisa digunakan oleh siapa pun atau kelompok mana pun dalam politik. Semua bisa tergoda menggunakan politik SARA. Kalau ada tiga pilihan, fokus akan “terpecah”.

Berita Terkait : Koalisi Dan Konduktor

Sekali lagi, kita sangat mengapresiasi pernyataan dan sikap kenegarawanan Jokowi. Semoga bisa berjalan lancar. Tanpa tekanan. Tanpa godaan. Tanpa kepentingan pihak-pihak lain. Tanpa kepentingan lima tahun mendatang. Sikap ”kacamata kuda” demi Indonesia Raya ini perlu didukung dan dikawal. Oleh pendukung Jokowi maupun oleh oposisi. Menarik ditunggu. ***