SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Susunan kabinet bisa berubah sekitar 50 persen. Pernyataan Presiden Jokowi menyiratkan hal tersebut. Setiap periode waktu, kata Presiden, diperlukan kabinet yang berbeda, karena tantangannya juga berubah.

Siapa yang terpental, siapa yang masuk? Pertarungannya sudah dimulai. Lobi-lobi kian gencar. Datang ke Istana pun langsung dikaitkan dengan kabinet. Kemarin misalnya, Putri Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo, Angela Herliani Tanoesoedibjo bertemu Presiden di Istana Negara, Jakarta.

Orang Perindo, langsung menyambutknya dengan mengatakan “itu sinyal kuat Angela bakal dipinang menjadi menteri”. Angela masih muda. Namanya sudah disodorkan Perindo ke Jokowi. Dia juga masuk kriteria usia 20-30-an yang dicari Jokowi. Pesaingnya antara lain, Grace Natalia PSI atau Tsamara, juga dari PSI. Di parpol-parpol lain juga banyak anak-anak muda potensial.

Berita Terkait : Berebut Kursi

PKB, juga biasanya menyodorkan anak-anak muda. Partai pimpinan Muhaimin ini biasanya menggilir kadernya untuk menjadi menteri. Sempat mengajukan 20 nama, lalu turun menjadi 10, sekarang PKB bersikap realistis: kita serahkan ke Presiden. Mungkin PKB membaca sikap Jokowi yang tidak mau didikte.

Golkar kemungkinan akan menggilir beberapa menterinya. Ada yang keluar. Ada yang masuk. Karena banyak kader potensial, di internal Golkar akan terjadi persaingan ketat. Presiden Jokowi sudah menggoda secara terbuka beberapa nama di Golkar yang bisa duduk di kabinet.

Nasdem tampaknya akan menggilir beberapa kadernya. Gantian. Posisi Jaksa Agung yang sekarang diduduki mantan kader Nasdem, bisa saja berubah ke parpol lain, atau ke profesional yang tidak ada nuansa parpolnya. Lembaga-lembaga sipil sudah memberi masukan supaya Jaksa Agung dijauhkan dari parpol.

Berita Terkait : Jadi Pejabat Siap Dihujat

PPP dan beberapa parpol lainnya tampaknya sedikit tahu diri karena perolehan suara pemilu dan kursi DPRnya menurun. Hanura dan PKPI tak lolos ke Senayan, tapi bisa saja dihargai dalam bentuk lain. Demikian pula PSI, Perindo dan PBB. Di PBB hanya Yusril yang berpotensi. Namanya sudah digaungkan untuk menduduki kursi Kemenkumham lagi.

Demokrat, kalau masuk koalisi Jokowi, punya Agus Harimurti Yudhoyono. Mungkin hanya satu kursi. Demikian pula kalau PAN masuk kabinet, jatahnya satu. Di periode pertama, 2014 lalu, Jokowi membagi menterinya menjadi dua kategori: 16 dari partai politik, 18 dari profesional. Sekarang, Jokowi tak lagi membedakan antara profesional dan parpol.

Di parpol, kata Jokowi, juga banyak orang ahli dan profesional. Tampaknya, ini angin baik bagi parpol. Apakah kabinet akan didominasi parpol? Presiden perlu memikirkan masak-masak, karena wajah kabinet akan menentukan kinerja peme rintahan. Juga menentukan warisan apa yang akan ditinggalkan pemerintahan Jokowi lima tahun mendatang. Kabinet sebaiknya tidak ada trial and error. ***