Risma Ke Jakarta?

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tri Rismaharini memberi kode keras. Wali kota Surabaya ini tampaknya akan maju di Pilkada DKI Jakarta 2022.

Kalau berhasil, dia bisa mengikuti jejak Jokowi 2014. Awal pekan ini sudah ada “tik-tok” antara Jakarta dan Risma.

Pinangan disampaikan Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta, Bestari Barus melakukan studi banding ke Kota Surabaya, Senin (29/7). Bestari meminta Risma datang ke Jakarta untuk menyelesaikan persoalan sampah di Jakarta.

“Masalah sampah ini bisa terselesaikan kalau Pilkada mendatang Bu Risma pindah ke Jakarta,” kata Bestari. Tamu yang hadir menyambutnya dengan tepuk tangan. Risma hanya tersenyum.

Berita Terkait : Mati Listrik, Pohon Tinggi

Sehari kemudian, saat ditemui di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Risma kembali ditanya mengenai kesiapannya maju di Pilkada DKI Jakarta.

“Belum tahu, wong (orang) masih lama kok,” kata Risma sambil tersenyum. Tidak ada penolakan. Juga tidak mengiyakan. Tapi Risma sudah menyatakan siap membantu mengatasi masalah sampah di Jakarta.

Dia juga mengungkapkan keberhasilannya mengatasi sampah di Surabaya dengan modal hanya Rp 30 miliar dibanding Jakarta yang memiliki anggaran 3,7 triliun.


“Tidak ada alasan tidak bisa” kata Risma. Apakah Risma jadi ke Jakarta dan bisa menarik simpati dan dukungan warga Ibu Kota? Apakah sampah (mungkin juga polusi) akan menjadi isu yang seksi dan wangi?

Berita Terkait : Korupsi dan Sengon

Waktu yang akan membuktikan. Yang menarik, PDIP seperti sudah menemukan pola, peta jalan mengusung kadernya dari daerah menuju ke puncak kekuasaan.

Jokowi pernah membuktikan dan melaluinya. Dari Walikota Solo, jadi Gubernur DKI, kemudian meluncur ke Pilpres, menang. Risma bisa saja mengikuti peta dan pola ini. Pola atau peta ini mestinya dilakukan banyak parpol.

Inilah proses pengkaderan yang sesungguhnya untuk mencari dan melahirkan pemimpin. Bukan hanya “mengekor” capres lain. Memang, mendukung parpol lain tak masalah, itu pilihan politik.

Tapi pertanyaannya, kenapa selama 5 atau 10 tahun tidak berhasil melahirkan atau menemukan capres berkualitas dari kader sendiri untuk menjadi RI-1?

Berita Terkait : Koalisi dan Oposisi

Bahkan, yang menyedihkan, beberapa parpol justru sibuk di saat injury time. Sibuk cari pasangan, jodoh-menjodohkan. Kalau kurang pas, akhirnya kawin paksa atau terpaksa kawin.

Di era reformasi, baru Demokrat dan PDIP yang berhasil “melahirkan” presiden lewat pilpres. Demokrat dengan SBY-nya, PDIP dengan Jokowinya. Keduanya menduduki jabatan selama dua periode.

Partai lain? Inilah tantangannya. Akan lebih berwibawa dan terhormat kalau parpol bisa melahirkan atau menemukan kader terbaiknya.


Bukan mendukung parpol lain. Bahkan, yang menyedihkan, ada juga yang kemudian terpaksa mendukung “lawan politiknya”. Ini kurang elok dilihat. ***