Mati Listrik, Pohon Tinggi

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kata polisi, matinya listrik di Jawa-Bali karena ada pohon tinggi yang mengganggu jaringan di Jawa Tengah.

Polisi masih mendalami dugaan ini. Kalau benar, kok terdengar naif ya. Di era yang sangat canggih ini, “tersangkanya” ternyata pohon. Pohon sengon.

Di era revolusi 4.0 atau apapun namanya, penyebabnya ternyata karena lupa atau lalai menebang pohon yang tingginya sudah melebihi 4.0 meter.

Seorang kawan yang listrik di rumahnya mati selama belasan jam dengan nada sinis dan kesal, menduga, penyebab matinya listrik ternyata layangan. Ada yang main layangan, katanya. Mainnya pakai benang dari rantai kapal.

Berita Terkait : Korupsi dan Sengon

“Benangnya” nyambar kabel PLN. Akibatnya, Jawa-Bali jadi korban. Black out. Jadi trending topic dunia. Satir. Beberapa kota besar di dunia pernah merasakan mati listrik seperti Jakarta.

Tapi mereka cepat belajar. Langsung antisipasi. Kota terbesar di dunia, New York, pun pernah merasakannya. Tapi mereka malunya minta ampun. Langsung bereaksi. Setelah itu tak terdengar lagi ada mati listrik berjamaah.


Ini yang membuat Presiden Jokowi marah terhadap PLN, kemarin. Karena, kejadian serupa pernah terjadi pada 2002. PLN sebagai perusahaan besar kok tidak belajar dari pengalaman. Mestinya ada langkah mitigasi, antisipasi.

PLN sudah minta maaf, bahkan bersedia memberi kompensasi terhadap tagihan listrik para pelanggan terdampak. Rupanya ini tidak memuaskan banyak orang.

Berita Terkait : Koalisi dan Oposisi

Ada yang protes. Karena, Jabodetabek baru mati listrik 2 hari, sudah teriak-teriak dan PLN meresponsnya dengan sangat cepat.

“Saudara saya di Indonesia Timur yang bertahun-tahun mengalami pemadaman bergilir, mestinya mendapat ganti rugi dong. Sudah berapa itu…” kata kawan tersebut. Rupanya ada yang merasa lebih menderita.

“Di daerah asal saya, di Kalimantan, batu baranya diambil untuk pembangkit tenaga listrik, tapi sudah bertahun-tahun, baru tiangnya saja yang dipasang. Listriknya belum.”

Kawan yang lain menimpali, “di tempat saudara saya, jangankan listrik, tiangnya pun belum ada, padahal hutannya, yang pohonnya tinggi- tinggi, sudah gundul”. Ada yang menimpali, “kalau begitu, di era revolusi industri 4.0 ini perlu ada pembangkit listrik alternatif.”

Berita Terkait : Mencari Jaksa Agung

“Misalnya?” “Pembangkit Listrik Tenaga Air” “Ah itu biasa. Mainstream”. “Tenaga Air… Air mata!!!”. Ini ngobrol-ngobrol ketika “menikmati” suasana listrik mati.


Di pinggiran Jakarta. Listrik mati, orang-orang berkumpul lagi. Bertemu tetangga. Tanpa gadget. Tanpa internet. Hanya sinar bulan. Di bawah rindangnya pohon yang sudah sangat tinggi.***