Oposisi Jangan Banci

BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Oposisi harus eksis dan bergerak. Dalam sistem demokrasi, keberadaan oposisi mutlak adanya. Sehat tidaknya sistem demokrasi bahkan diukur dari kuat tidaknya peran barisan oposisi. Keberadaan mereka sebagai check and balance.

Kekuasaan absoulut cenderung korup. Begitu adagium politiknya. Pencegah terjadinya absolutisme kekuasaan tiada lain adanya kekuatan penyeimbang. Mereka mengontrol kekuasaan agar tetap di garis adil, bersih, dan di jalur yang benar (on the right track).


Saat pemerintahan di bawah kekuasaan SBY dan Partai Demokrat, PDI Perjuangan konsisten di barisan opisisi. Ketua Umum Megawati berhasil tidak tergoda menempatkan kadernya di Kabinet. Dan memerintahkan ke seluruh jajaran partainya untuk tetap stay away dari kekuasaan.

Berita Terkait : Menteri Under Thirty

Di beberapa kebijakan PDI Perjuangan memilih oposisi tegas. Selalu konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah.

Di beberapa vooting, mereka memilih berseberangan meski akhirnya kalah suara karena kekuatan partai lain berhasil dilobi dan berpihak pada pemerintah. Tapi cukup memberi perlawanan yang tangguh.


Sekarang, PDI Perjuangan untuk kali kedua mendapat kesempatan memerintah. Dan putri sulung Bung Karno meminta terangan-terangan agar diberi pos menteri lebih banyak.

Berita Terkait : Papua Adalah Kita

Dan Presiden Jokowi setuju dengan permintaan itu meski tak detil. Kita lihat saja. Saat ini, ada kabar yang simpang siur dengan status partai yang kalah pemilu dan pilpres namun oke dengan tawaran masuk ke pemerintah.

Santer kabar Prabowo dan Gerindra setuju menjadi bagian dari pemerintah Jokowi. Saat ini sepertinya semua wait and see. Kita sesungguhnya berharap Partai Gerindra memiki ketangguhan sikap berdiri di barisan kelompok opoisisi.


Jangan tergoda dengan tawaran kekuasaan. Tolak saja dengan baik. Tetapkan hati dan kukuhkan niat untuk jadi kekuatan penyeimbang kekuasaan. Jangan jadi oposisi yang banci. ***

RM Video