Koalisi dan Oposisi

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Posisi akhirnya bisa begini: PKS jadi oposisi, Demokrat penyeimbang, Gerindra dan PAN ikut koalisi pemerintahan Jokowi.

Siapa yang bakal menangguk untung? PKS! Kenapa? Karena PKS menjadi satu-satunya partai oposisi. Pemilih Prabowo yang kecewa, terutama yang pilihannya cenderung bernuansa keagamaan, bisa menjadikan PKS sebagai alterfnatif.

PKS beruntung. Mereka menentukan pilihan untuk menjadi oposisi sedari awal sehingga ada citra konsisten. Sebenarnya, tidak murni juga. Ada juga unsur “keterpaksaannya”.

Karena, selama ini bisa dirasakan, PKS dan PDIP sulit disatukan. “Warnanya” beda. Setelah memutuskan menjadi oposisi, tergantung PKS bagaimana mengolahnya menjadi pilihan bernilai tinggi.

Berita Terkait : Mencari Jaksa Agung

Kalau oposisinya mainstream, bakal hambar juga. Apalagi kalau Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) yang dimotori Anis Matta dan Fahri Hamzah menjadi parpol dan mengambil pangsa yang sama dengan PKS.

Bisa merepotkan juga. Bagaimana dengan Demokrat? Sejauh ini masih wait and see. Oposisi atau tidak, masih 50-50. Sebenarnya, Demokrat maunya gabung ke pemerintah. Tapi semua tergantung Jokowi, PDIP dan tokoh-tokoh intinya.


Selain urusan psikologis-personal antara petinggi kedua parpol, kekhawatiran utamanya: kalau Agus Harimurti Yudhoyono diberi panggung, jadi menteri misalnya, dia akan membesar saat Pilpres 2024.

Seperti membesarkan anak macan. Ada kekhawatiran seperti itu. Kalau kondisinya seperti itu, Demokrat bisa kembali menjadi partai penyeimbang: kalau pemerintah melenceng, dikritik dan diberi masukan. Sebaliknya, kalau berjalan di jalur yang benar, akan didukung.

Berita Terkait : Mengawasi Pengawas

Dengan sikap seperti ini, semua opsi pada Pilpres 2024, selalu terbuka. Termasuk berkoalisi dengan PDIP. AHY pun bisa bisa masuk kemana-mana.

Sekarang Gerindra. Partai ini tampaknya akan berkoalisi dengan pemerintah Jokowi. Koalisi ini tampaknya dirancang untuk Pilpres 2024. Bahkan, bukan tidak mungkin, Prabowo bisa maju lagi. Bisa saja dia nanti berpasangan dengan kader PDIP.

Risikonya, di pemilu legislatif, sebagian pendukung Prabowo-Gerindra, bisa berpindah haluan. Fenomena Gerindra bisa berbeda dengan PAN. Kalaupun akhirnya PAN bergabung dengan pemerintahan Jokowi, partai yang didirikan antara lain oleh Amien Rais ini, punya sejarah “koalisi rasa oposisi”.

Terkadang bisa merepotkan. Formula kimiawi politik Gerindra-PDIP dengan PAN-PDIP, juga terasa berbeda. Dengan demikian, pada Pilpres 2024, kemungkinan PDIP berkoalisi dengan Gerindra lebih besar dibanding PDIP-PAN. Apalagi di PAN ada Amien Rais yang manuvernya sangat sulit ditebak.

Berita Terkait : Capim KPK Memanas

Bagaimana dengan rakyat? Semoga tidak bingung melihat suara dan dukungan mereka “dijajakan” kemana- mana. Semoga tidak lelah melihat aksi teatrikal di panggung politik. ***